Melayani Hujan

Kalau hujan datang, bilang padanya,
aku tak mau lagi melayani dia.
Capek aku menampung tetesnya yang berdebu.
Capek aku mengepel tempiasnya.

Kalau hujan datang, tanyakan,
kapan dia mau melayaniku.
Aku butuh pijatan di bahu,
setelah menanggung payung yang
tak lagi melindung.

Kalau hujan datang, bilang padanya,
aku tak mau melayani dia sampai
dia mau melayaniku.

September

September tiba di kebunku yang layu
Mawar-mawar lunglai dan rontok
Daun-daun menyerahkan nasibnya pada angin
Sumur masih menjaga airnya
tahu bahwa hujan tak akan datang
dalam waktu yang segera

Apa yang bisa kusajikan
selain adenium merah jambu
yang tak gentar menghadapi
langit biru tanpa awan
di antara daun-daun hijau yang menganga
memantulkan cahaya matahari

Tetapi mungkin itu satu-satunya
persembahan dari pertiwi
untuk musim yang enggan mengenal teduh
sehelai sejuk bagi mata
yang berhari-hari dipaksa menatap api

Ketika Bulan Tak Menjadi Puisi

Bulan menyungging senyum di atas sana
Berharap hening menambah pesonanya
Seperti malam-malam sebelumnya,
ia menunggu dipuja
Menanti penyair-penyair menuliskan namanya

Namun jalan-jalan masih gaduh
Suara-suara mengoyak sunyi
Klakson dan deru mengalah
Manusia menggemakan keadilan

Dan gaduh itu menjelma ricuh
Saat sekuntum mawar yang tangkainya
belum mampu berdiri tegak,
gugur kelopaknya
tersebab angin yang enggan dibendung
dan takut serbuan debu musim kemarau
yang kering dan hampa sebab telah dirampas patinya

Lalu, berbatang-batang lilin dinyalakan
Mengenang mawar yang belum mekar sempurna itu,
namun harus kembali menjadi tanah

Malam itu dan malam-malam berikutnya,
Semua mata terpaku pada jalan itu
Kepala terlalu berat untuk mendongak
Dan penyair-penyair tak lagi sanggup
membayangkan wajah bulan

Di dalam Cangkir Putih

Cangkir antik putih berlukiskan bunga-bunga kecil
Berdiri pongah di atas hamparan beling
serupa dirinya
Menganga pada langit yang baru saja lahir
mengembuskan napas hangatnya dengan jumawa

Di dalam dirinya, ada pekat yang bertahan
Seakan bening adalah kesempatan bagi cela untuk tinggal

Sesendok kristal berjatuhan,
lalu lenyap ditelan jelaga
Baru kutahu pahit diam-diam merindu manis

Tetapi pekat itu tetap jumawa
dengan pusaran yang mengisap dingin
Dan ia menunggu sampai sepasang bibir
menyentuh salah satu tepinya
dan menikmati pahit yang tak benar-benar getir