Senja

Bukannya tak bisa bicara
Tetapi ia memilih menyimpan kata-kata
Ketika tahu ia tak bisa memiliki jingga selamanya

Dan ia memutuskan untuk menahan rindu
Bukan tak ingin mengentas sendu
Tetapi agar ada alasan untuk kembali menemui rona itu

Kontemplasi

Jika menurutku senja itu cantik,
apakah bagimu juga demikian?
Karena mungkin kamu lebih menyukai pagi
Saat mimpi burukmu sirna, meleleh karena merahnya fajar
Merasuk ke dalam tanah
Terkubur
Jauh di dasar bumi

Berkali-kali aku berpikir
tentang pikiranku sendiri
Alasan apa yang membuatku menganggap hujan itu indah?
Sebab kalau aku lihat lagi dengan saksama,
dalam tempo yang lambat,
hujan bisa jadi bencana

Aku selalu menciptakan ilusi
Tatkala orang-orang sibuk meladeni tagihan yang mendatangi mereka,
aku malah membiarkan waktu berlama-lama merayap di dinding kamarku
dan aku ciptakan dunia lain yang entah di mana
tapi
aku bahagia di sana

Dan aku tak butuh apa-apa lagi
Secangkir kopi dan sepotong donat cukup untuk mengganjal perutku
Menempuh jalan yang berbaring di atas khayalanku

Maka,
jika bagimu daun-daun sekadar tempat bunga dilahirkan,
boleh-boleh saja
Atau,
ada baiknya kauserahkan daun itu pada tanganku
Biar kuperlihatkan keelokan setiap lapisannya
Atau
mungkin
lebih dari itu

Mungkin Kamu

Lihatlah rintik hujan
Di atas mahkota bunga
Mungkin itu kamu
Yang memperlihatkan rindu
dengan syahdu

Atau bintang yang berkilau
Di kejauhan langit malam
Itu juga mungkin kamu
Yang ingin memandang bumi dengan lugu

Setiap yang terjadi di semesta
Ada kamu di dalamnya
Meski kamu menyangkal

Jadi, ketika seekor kupu-kupu terbang melintas di hadapanmu
Mengantar harum cempaka
Jangan lari
Amati saja setiap sisik pada sayapnya
Mungkin itulah kamu

Pesan dari Semesta

Jika musim kemarau datang dan tak satu pun bunga mekar,
maka semesta sedang berpikir
Menciptakan kreasi bunga baru untuk ia tumbuhkan di musim berikutnya

Percayalah
Semesta terlalu kaya untuk dikhawatirkan
Ia tak pernah kekurangan apa-apa

Bertahanlah
Siapkan matamu untuk bunga-bunga yang baru
Kuatkan kakimu untuk berjalan-jalan di ranah lain
yang punya bunga yang berbeda dari tempat asalmu

Atau jika kau hanya menyukai satu bunga,
ulurkan tanganmu untuk menanam benihnya di kebunmu
Tak ada bunga yang bersembunyi selamanya di dalam kuncup
Bahkan jika matahari mengambil semua warna dan wanginya,
hujan akan mengembalikan mereka kepada tanah
Melewati tahap demi tahap sebelum mekar malu-malu,
berselimut daun-daun hijau dan memandangmu dengan lugu

Bersabarlah

Bintang Jatuh Tak Mengenal Luka

Sampaikan pada hujan yang memadamkan api
Bintang jatuh tak mengenal luka
Dan katakan pada matahari yang mengakhiri gelap
Bahkan saat musim panas sekalipun, malam tetap ada

Angin tak pernah menggugurkan daun
Daunlah yang memilih lepas dari tangkainya
Sungai tak mesti berhenti mengalir terjegal batang kayu
Arus mendorongnya untuk terus mencapai laut

Dan aku tak akan berhenti mendayung perahu
Bahkan jika sungai ini mengering,
masih akan kaudengar langkah kaki
Berderap di bawah arakan awan yang menutupi langit sesaat