Batu Kecilku

Batu kecilku,
Tentu, aku masih ingat
Sejak pertama kali aku menjumpaimu di pinggir jalan, seketika aku jatuh sayang
Kupungut kau supaya tak tercebur ke dalam selokan
Kau tetap berdebu
Namun setidaknya kau aman dari air comberan yang kotor dan bau

Batu kecilku,
Kau sudah menemaniku
Mengisi saku celanaku yang tak pernah ada isinya
Sekalinya aku punya uang, anak-anak berandalan itu selalu merampok
Bahkan aku tak sempat membeli sebatang es lilin cokelat saat panas menyengat
Setiap kali kurogoh saku celanaku, jari-jariku seakan tak tahan untuk mengambilmu dan melemparmu ke wajah anak-anak itu
Namun kau selalu mengingatkanku untuk tidak menyeretmu dalam kejahatan itu
Dan aku membiarkanmu di dalam saku celanaku

Lanjutkan membaca

Ketika Rasa dan Aroma Jalan Sendiri-sendiri

Gara-gara kompor nggak bisa nyala, terpaksa saya masak pake rice cooker. Masaknya dengan cara direbus atau dikukus. Nggak bisalah goreng-goreng atau tumis. Mau gimana lagi? Ini juga udah beruntung ada rice cooker multifungsi, hadiah pernikahan dari teman mertua saya.

Suatu hari, saya belanja ikan dan tempe. Ikannya saya kukus, dibikin brengkes alias pepes ala-ala. Kebetulan masih ada sisa daun pisang selembar gede. Tempenya saya bikin pepes juga, gimana lagi?

Buat ikan, saya kasih bumbu super duper simpel aja. Cuma bawang putih, garem, kunyit, ketumbar, dan daun jeruk biar nggak bau amis. Nggak pake kemangi soalnya udah bosen. Selama beberapa hari berturut-turut makan kemangi terus, ngabisin stok daun kemangi dari batangnya yang roboh.

Lanjutkan membaca

Kepik Oren dan Kepik Merah Jambu

Cerita tentang kepik oren yang tinggal di salah satu pot taneman bayem brazil ternyata masih berlanjut. Pagi kemarin waktu mau siram-siram di kebun, saya tengok keluarga kepik oren itu. Saya sempat bingung, warna sayap luarnya lain dari yang sebelumnya. Bukan oren muda, tapi oren rada merah jambu. Tapi saya yakin, dia juga pasti dari Negeri Senja. Warna langit kalo senja, kan, oren semu-semu merah jambu gitu.

Sebetulnya, ibu kepik oren masih ada di sana juga. Sementara kepik merah jambu (kayaknya, sih, dia bapak kepik) anteng aja di salah satu daun bayem brazil, ibu kepik kayak lagi gelisah. Nggak tau kenapa. Padahal anak-anaknya ada di sana. Keluarga kecilnya hadir di pot bayem brazil, jadi harusnya nggak ada yang bikin dia gelisah.

Lanjutkan membaca

Keluarga Kepik Oren

Pada suatu sore, cuacanya bagus banget. Nggak ujan. Saya dan Akira ke kebun buat siram-siram. Sekalian mau mangkas satu pot bayem brazil yang nggak tumbuh sehat. Daunnya nggak ijo tua dan kecil-kecil. Malah kalo sempet, bayem brazil itu mau diganti sama benih yang baru.

Tapi kayaknya saya nggak bisa mangkas bayem brazil itu, deh. Soalnya ada seekor kepik warna oren muda.

Dulu pernah ada kepik merah di taneman singkong. Mau difoto, sebetulnya. Cuma dia kabur. Kaget gara-gara Kiara kepo mau nyentuh sayap luarnya. Abis itu kami nggak pernah nemu kepik lain. Sampe sore itu, saya nemu kepik warna oren di pot bayem brazil.

Lanjutkan membaca

Minggu Membeku

Matahari masih saja berbaring
di balik awan yang tak mau mencairkan hujan
sementara lampu-lampu taman
mematung di atas tiang
dalam belenggu sarang kaca
kehabisan cahaya setelah semalaman berkobar melawan gelap

Rumput-rumput kaku
menyangga bunga-bunga mekar yang
mengabadikan warna mereka dalam beku
Tak ada wangi yang tercium
Entah hidungku sudah baal atau bunga-bunga itu mati aroma

Sementara tetes-tetes hujan semalam mengkristal di permukaan mahkota dan daunnya
Tak sudi menyentuh tanah karena membuat mereka terserap dan tak lagi mampu menikmati dunia

Lanjutkan membaca