Ketika Bulan Tak Menjadi Puisi

Bulan menyungging senyum di atas sana
Berharap hening menambah pesonanya
Seperti malam-malam sebelumnya,
ia menunggu dipuja
Menanti penyair-penyair menuliskan namanya

Namun jalan-jalan masih gaduh
Suara-suara mengoyak sunyi
Klakson dan deru mengalah
Manusia menggemakan keadilan

Dan gaduh itu menjelma ricuh
Saat sekuntum mawar yang tangkainya
belum mampu berdiri tegak,
gugur kelopaknya
tersebab angin yang enggan dibendung
dan takut serbuan debu musim kemarau
yang kering dan hampa sebab telah dirampas patinya

Lalu, berbatang-batang lilin dinyalakan
Mengenang mawar yang belum mekar sempurna itu,
namun harus kembali menjadi tanah

Malam itu dan malam-malam berikutnya,
Semua mata terpaku pada jalan itu
Kepala terlalu berat untuk mendongak
Dan penyair-penyair tak lagi sanggup
membayangkan wajah bulan

Sebuah Catatan tentang Penindasan

Pagi tadi waktu ke pasar, liat pemandangan biasa jadi nggak biasa. Liat kang ojol lewat atau lagi mangkal, bawaannya sedih. Bukan cuma soal idup bisa singkat atau maut bisa datang cepat.

Ini soal arogansi. Aparat itu punya apa, sih, kalo nggak dikasih fasilitas? Buat ngebubarin massa aja harus pake kendaraan dan senjata. Sekalinya pake tangan, tangannya juga dikasih kekerasan dulu.

Dulu aku ngeremehin driver ojol. Waktu mereka nggak paham tujuan, jengkel batin. Kalo datang terlambat, pegal hati. Tapi begitu mereka datang ngejemput dan selama perjalanan dia nanggepin pertanyaan dengan santun, aku jadi nggak enak sendiri udah ngeduga yang nggak-nggak.

Pernah waktu paksu nggak bisa nganter anak ke sekolah, kita manggil ojol dan nitipin anak kita sambil was-was. Takut dibawa kabur, takut diapa-apain.

Itu wajar, karena kita nggak saling kenal. Dan kewajaran itu rasanya cukup sampe situ aja. Apalagi setelah anak kami sampe sekolah dan bayar ojolnya pake uang tunai yang nominalnya kita lebihin dikit, kang ojolnya nolak. Mungkin karena anak kami masih SD.

Sepengengalaman kami pake jasa ojol, baik buat antar jemput maupun belanja onlen, nggak pernah ada kasus apa-apa. Kami berusaha sabar ketika mereka datang telat. Nggak semua hal bisa berjalan lancar dan sesuai keinginan. Ada aja kendalanya.

Dan walaupun berperan sebagai pelanggan, kami nggak pernah menganggap mereka orang rendahan. Apalah kami ini? Cuma orang-orang yang berusaha bertahan hidup dan waras. Kami sama-sama berusaha menafkahi keluarga. Sama-sama kena imbas buruk tiap pemerintah membuat kebijakan ini-itu.

Aku dan paksu nggak pernah ikut demo-demoan bahkan sejak kami masih mahasiswa. Tapi ngeliat orang-orang berdemo nentang hal-hal yang nggak sesuai hati nurani, liat orang-orang turun ke jalan tanpa bekal senjata apa-apa selain keberanian dan kebenaran, kami bisa tercengang. Apa yang bisa jadi tameng mereka tiap kali berhadapan dengan aparat? Sementara polisi-polisi ngadepin mereka berbekal perisai dan pemukul, gas air mata, senjata apalah, kendaraan apa gitu, bahkan kepalan tangan berisi emosi nggak jelas.

Pemerintah suka ngamuk kalo dikritik. Sementara rakyat udah nggak tahan memendam amarah gara-gara ulah mereka. Suara yang dibungkam lalu terdengar sama mahasiswa dan buruh. Mereka menghimpun kekuatan buat mendatangi wakil rakyat.

Ya. Kekuatan rakyat dulunya cuma itu: mahasiswa dan buruh. Sekarang ditambah sama driver ojol. Mereka yang biasanya mondar-mandir nganter anak-anak ke sekolah, bapak-bapak ke kantor, nganter makanan atau pesanan lain, kali ini ikut bergerak.

Berapa, sih, perbandingan jumlah aparat sama rakyat? Masih lebih banyak jumlah rakyat, kan? Tapi segitu aja pemerintah dan aparat takut setengah mampus. Mereka nyari cara buat nyingkirin massa.

Pemerintah nggak mau tangan mereka kotor. Disuruhlah aparat buat ngatasin pendemo. Aparat yang seiprit itu sebenernya takut ngadepin orang-orang yang segitu banyak. Makanya mereka berlindung di balik mobil baja itu dan terus maju tanpa peduli siapa di depan mereka. Yang penting “perintah sudah dilaksanakan”.

Aku sebenernya nggak bisa ngomong apa-apa. Berang dari ketika liat video pelindasan itu. Daging dan tulang yang remuk bikin siapapun yang ngeliat ambruk. Dan luka yang ditinggalkan begitu menyakitkan semua orang.

Aku sedih bukan kepalang waktu liat akang-akang ojol di jalan buat kerja tapi nggak dihargai sama pemerintah. Nyesek banget karena kami juga berjuang mati-matian buat bertahan hidup di tengah-tengah ketidakadilan di negara ini.

Tapi amarah dan kesedihan yang dipendam harus dikeluarkan. Bukan sekadar buat healing kayak aku nulis puisi atau diary, tapi juga buat perlawanan. Aku nggak punya senjata apa-apa selain jari-jariku yang mengetikkan semua unek-unek yang bikin aku lewah pikir seharian ini sampe nggak mood ngapa-ngapain. Air PDAM yang mampet di rumah aja kuanggap sebagai pengalihan isu. Bikin stres, tapi nggak se-overthinking soal kejadian kemarin malem.

RIP buat Affan. Semoga lekas pulih buat mereka yang terluka karena udah berjuang menegakkan keadilan selama beberapa hari ini. Sehat-sehat buat semua orang yang masih akan terus memperjuangkan keadilan. Apa yang udah kita perjuangan dicatat sama Tuhan. Tinggal lihat nanti jadinya kayak gimana.

Melati yang Menggugurkan Daun-daunnya

Tiap hari, melati ngegugurin daun-daunnya. Hampir semuanya berwarna cokelat; cuma sedikit yang hijau. Kadang-kadang, bunganya juga ikut gugur walaupun baru mekar.

Sambil nyapu daun-daun melati itu buat dikompos nantinya, aku nanya dalam hati, emang nggak sayang, ya, melati itu sama daun-daunnya? Biarpun udah pada tua, daun-daun itu, kan, yang bikin melatinya punya identitas. Batang yang nggak berdaun sulit dibedain sama batang yang lain. Nah, daun-daun melati itu punya ciri khas yang ngebedain dia sama taneman lainnya. Pernah liat, kan, ada orang yang nerka-nerka nama taneman dengan mengidentifikasi daunnya?

Daun-daun itu juga yang ngelahirin bunga, yang bikin pekarangan rumah jadi wangi walaupun di deket pager ada selokan yang kotor banget. Pernah ada orang lewat yang sengaja metikin melati dari pohonnya, bahkan sampe mungut-mungut di tanah. Aku sebetulnya nggak suka ada orang metik-metik bunga gitu. Waktu kutanya kenapa dia suka ngambilin bunga melati, katanya buat wewangian di rumahnya.

Hm, alasannya simpel aja. Tapi dari situ, aku jadi sadar kalo mungkin melati ngegugurin bunganya biar orang gampang ngambil kalo ada perlunya. Melati di pekarangan rumahku emang udah tumbuh jadi pohon. Karena ditanem di deket pager jugalah banyak orang lewat atau kurir paket berteduh. Rata-rata, ranting yang berbunga di bagian atas. Yang bawah juga ada. Tapi ranting itu biasanya kami potong biar nggak ngalangin kalo kami mau lewat.

Aku sendiri waktu hamil kedua sering banget mungut bunga melati, terutama kalo mau pergi. Gara-gara mual dan idung lebih peka dari sebelumnya. Aroma bunga melati yang seger bikin aku jadi enakan.

Semua tanaman menghasilkan daun, bunga, dan buah buat diambil manfaatnya. Ketika semua itu nggak bisa kita jamah, tanemannya paham. Makanya dia ngelepas apa yang mereka punya biar bisa kita pakai. Taneman itu sendiri nggak takut kekurangan atau kehilangan karena…

… selama masih tumbuh, mereka bisa memproduksi lagi. Daun melati nggak pernah ilang karena kami nggak menebang pohonnya. Semua pohon di bumi ini percaya pada alam. Kalo alam nggak menghendaki mereka tumbuh, mereka bakalan mati.

Sejauh ini, kami nggak pernah ngeganggu taneman di kebun kami, kecuali kalo mereka ngeganggu. Kayak rumput. Soalnya taneman-taneman itu jadi habitat banyak hewan kecil.

Kami memang tukang kebun amatiran yang baru bisa bereksperimen dan berusaha bersyukur dengan hasil panen yang nggak melimpah. Gagal panen atau gagal numbuhin taneman juga sering kami alamin. Tapi kami nggak menuntut minta alam ngegantiin waktu dan peluh yang udah kami lepasin (kalo berharap, sih, iya, hehehe).

Karena, belajar dari melati, kami nggak akan pernah kekurangan selama hidup masih menghendaki kami bernapas.

Di dalam Cangkir Putih

Cangkir antik putih berlukiskan bunga-bunga kecil
Berdiri pongah di atas hamparan beling
serupa dirinya
Menganga pada langit yang baru saja lahir
mengembuskan napas hangatnya dengan jumawa

Di dalam dirinya, ada pekat yang bertahan
Seakan bening adalah kesempatan bagi cela untuk tinggal

Sesendok kristal berjatuhan,
lalu lenyap ditelan jelaga
Baru kutahu pahit diam-diam merindu manis

Tetapi pekat itu tetap jumawa
dengan pusaran yang mengisap dingin
Dan ia menunggu sampai sepasang bibir
menyentuh salah satu tepinya
dan menikmati pahit yang tak benar-benar getir