“Laut Bercerita”
Penulis: Leila S. Chudori
Jenis: Novel
Tebal: 379 halaman
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Laut Bercerita adalah novel tentang Biru Laut, seorang aktivis pada masa Orde Baru yang hidup di bawah bayang-bayang pengawasan negara. Bersama kawan-kawannya—mahasiswa dan seniman di Yogyakarta—ia menjalani kehidupan yang selalu menuntut kewaspadaan: berpindah tempat, membangun basecamp yang jauh dari pantauan aparat, serta menyusun rencana aksi dengan penuh kehati-hatian. Cerita ini menunjukkan bahwa aktivisme tidak harus berarti turun ke jalan, tetapi juga bekerja dalam kesunyian dan sarat risiko.
Komunitas yang diikuti Laut dan teman-temannya yakni Winatra dan Wirasena, perlahan menjadi sasaran penindakan. Negara hadir bukan melalui dialog, melainkan lewat mekanisme penangkapan, interogasi, dan kekerasan yang bertujuan memutus keberanian sekaligus ingatan. Ini seolah-olah menunjukkan bahwa hidup sewaktu-waktu dapat diambil alih oleh kekuasaan yang tak terlihat wajahnya.
Di luar ruang-ruang represi itu, Laut tetap seorang anak dan kakak. Kehangatan keluarganya di Ciputat—tradisi memasak dan makan bersama setiap Minggu sore—menjadi kontras yang menyakitkan ketika Laut tak lagi pulang menjelang Mei 1998.
Ke mana perginya Laut dan kawan-kawannya? Mereka dikejar aparat, dipaksa berpindah dari satu kota ke kota lain, bahkan hingga ke luar pulau. Namun, sepandai apa pun mereka bersembunyi, pada akhirnya penangkapan tak terhindarkan. Mereka mengalami penyiksaan di sebuah markas tentara—sebagian selamat, sebagian lagi hilang tanpa kabar.
Novel ini menggunakan dua sudut pandang: Laut dan adiknya, Asmara. Melalui Laut, pembaca menyaksikan kehidupan aktivisme dan kekerasan negara dari dalam sel tahanan. Sementara melalui Asmara, pembaca diajak merasakan kehidupan keluarga yang ditinggalkan—hidup yang berjalan dalam penantian tanpa kepastian.
Laut Bercerita terasa nyata buat saya (Leila S. Chudori memang piawai meramu kata-kata). Cerita yang dituturkan baik oleh Laut maupun Asmara membuat saya hanyut dalam kehidupan mereka. Saya tidak hanya merasakan kehangatan sebuah keluarga, cinta, perjuangan, dan persahabatan, tetapi juga kehilangan, pengkhianatan, ketidakpastian, dan luka yang mendalam.
Laut Bercerita tidak hanya meninggalkan sebuah kisah, tetapi juga kegelisahan. Saya jadi sadar bahwa sejarah bukan sekadar tanggal, tokoh, dan peristiwa, melainkan tubuh-tubuh yang pernah ditahan, suara-suara yang dibungkam, serta keluarga-keluarga yang hidup dalam penantian panjang.
Laut tak ubahnya ingatan dalam benak kita: kadang tenang, kadang bergelora. Dan seperti angin yang berembus di atas permukaannya, kita selalu diberi pilihan—apakah akan mengingat, atau perlahan membiarkannya dilupakan.
Setelah menutup buku ini, saya seperti merasakan tangan laut yang menyentuh ujung kaki saya di pantai. Di kejauhan, ombaknya seakan hendak menyeret saya ke dalam sebuah fragmen kehidupannya yang tidak pasti. Dalamnya menenggelamkan saya pada sebuah perasaan yang menyesakkan dada. Namun, saat ia berbaring dengan tenang, saya pun hanya bisa pasrah melihat langit yang mungkin sedang merencanakan sesuatu untuk meredakan gejolak di bumi.