Tunda Beli Baru

Tidak bisa disangkal, kerap saya kesulitan mengendalikan nafsu. Namanya juga makhluk tidak sempurna. Pasti ada cacatnya. Walaupun sudah bolak-balik baca dan nonton video tentang minimalis dan selalu kepengin punya sedikit mungkin barang (kalau bisa semuanya gampang dibawa pergi biar ndak usah repot kalau pindah domisili), tetap saja kalau lihat iklan kaos lengan panjang atau jilbab, pengin beli lagi yang baru. Padahal yang ada juga sudah cukup karena setiap hari cuci baju.

Inilah dilema. Di satu sisi ingin menjalani gaya hidup minimalis, di sisi lain belum bisa menahan keinginan untuk memiliki barang baru yang belum tentu dibutuhkan dan digunakan.

Memang, tidak ada batas jumlah barang yang harus dimiliki seorang minimalis. Namun jika melanggar konsep, rasanya seperti melakukan sebuah dosa. Tapi kalau keinginan tidak dituruti, bakal kepikiran terus. Serasa bakal menyesal kalau tidak segera memiliki barang tersebut.

Ada satu solusi untuk masalah ini: menunda untuk membeli yang baru dan memakai yang sudah ada sampai tidak bisa lagi digunakan. Cuma, buat orang yang tidak sabaran, menunda hanyalah bikin greget. Hehehe.

Hm, tapi memang ini satu-satunya cara yang paling efektif. Dengan menunda, kita bisa mengumpulkan uang dulu. Setidaknya, uang yang kita miliki sekarang bisa digunakan untuk hal-hal yang esensial dan mendesak. Sementara untuk membeli barang yang baru, mending kita kumpulkan dulu uangnya. Sedikit demi sedikit tidak apa-apa. Karena dengan begitu, bakal kerasa kalau mendapatkan uang itu tidak mudah.

Menunda juga bisa membuat kita lebih banyak lagi berpikir soal barang yang ingin kita beli. Coba, deh, pertimbangkan lagi harganya, kualitasnya, warnanya, kegunaannya. Kalau bisa pinjam dulu ke saudara atau teman, kenapa tidak? Buat dicoba. Supaya kita bisa tahu cocok atau tidaknya barang tersebut. Kalau cocok dari segala hal, kita bisa memutuskan untuk membelinya.

Sekadar mengingatkan, lebih baik menyesal karena tidak membeli daripada menyesal karena sudah membeli. Karena kalau sudah membeli dan ternyata kita merasa tidak sreg, uang yang kita miliki sudah berubah bentuknya dan tidak akan kembali ke bentuk semula. Kecuali kalau kita menjual kembali barang tersebut.

Selain itu, kalau barang tersebut tidak laku dijual dan tidak ada yang mau menerim kendati sudah dikasih gratis, kita akan punya masalah baru. Rumah jadi penuh barang lagi, dan kita bingung, harus diapakan barang tersebut supaya jadi berguna.

Saya bicara seperti ini bukan ngelantur semata. Sudah beberapa kali saya membeli barang dan ujung-ujungnya menyesal, kenapa beli? Alhasil, barang-barang itu memboroskan pikiran saya. Bagusnya diberikan kepada siapa? Di-upcycle jadi apa?

Saya pun bikin reminder, setidaknya buat diri saya sendiri, untuk lebih bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang saya miliki sekarang. Tidakkah menyenangkan bisa betul-betul memanfaatkan barang-barang yang sudah ada?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.