Selamat Datang di Kelas Akselerasi!

  • Judul: 19 Letters: Beautiful Flower
  • Pengarang: Dinda Unaroma
  • Genre: Drama
  • Penerbit: 19 Books Publishing
  • Tebal: 418 halaman

Tidak banyak sekolah di Indonesia yang memiliki program akselerasi atau percepatan. Mungkin karena itu tidak banyak (atau bahkan tidak ada) cerita fiksi yang mengangkat cerita tentang program tersebut. Saya sendiri tidak tahu bagaimana, sih, kelas percepatan itu. Namun melalui novel karya Dinda Unaroma, 19 Letters: Beautiful Flower, rasa penasaran saya pun terjawab.

Ceritanya, Dinar Fortumisa merantau dari Cimahi. Dia sekolah di SMA 413 Jakarta. Sekolah ini merupakan sekolah bergengsi se-Jakarta (atau Indonesia). Selain memiliki program akselerasi, SMA 413 Jakarta juga memiliki beragam ekstrakulikuler yang keren, dan para lulusannya dijamin masuk perguruan tinggi negeri top.

Dinar sendiri baru dua hari bersekolah di sekolah tersebut ketika dia terpilih masuk kelas aksel. Sebagaimana halnya murid baru, awal masuk kelas aksel Dinar lugu dan berharap suasana di kelas barunya itu menyenangkan seperti kelas sebelumnya atau X-2. Ternyata, baru juga
memilih bangku, dia diusir (calon) teman sebangkunya, Jullie. Pun ketika mendapatkan teman sebangku yang baru hasil dipilih secara acak, yaitu Gamma, Dinar malah dicuekin.

Kesialan Dinar di hari pertama masuk kelas aksel tidak berhenti di situ. Dia harus menghadapi pretest fisika yang, sayangnya, tidak bisa dia jawab. Gamma pun tidak mau membantunya. Hasilnya, Dinar mendapat nilai jeblok.

Dinar akhirnya mengerti bagaimana suasana kelas aksel. Dinar jadi tidak percaya diri dan pesimis dengan hari-harinya ke depan. Untunglah ada Gia dan Zahra. Gia dan Zahra ini sebetulnya sudah kenal sejak SMP. Tapi mereka bisa langsung akrab dengan Dinar, dan pada akhirnya mereka bersahabat. Mereka bertiga bersama-sama menghadapi suka dan
duka di kelas ini.

Anehnya, Gia dan Zahra bisa bersikap santai. Meski hari-hari di kelas aksel begitu padat dan mereka berdua punya kegiatan di luar sekolah. Gia dengan les bahasa Jerman dan drum, Zahra dengan olahraga hoki.

Hal itu justru memotivasi Dinar untuk bertahan dan berusaha meraih prestasi tanpa merasa terbebani. Yang tidak kalah penting, Gia dan Zahra juga membuat hari-harinya menyenangkan. Dinar yang sempat depresi, terutama setelah Jullie menjuluki mereka bertiga three idiots,
bisa kembali tertawa. Bahkan mereka sempat bermain band dan penampilan mereka memukau banyak orang.

Siapa menyana, di balik kekompakan mereka bertiga, terjadi sebuah peristiwa yang merusak persahabatan mereka.

Cerita 19 Letters: Beautiful Flower tadinya merupakan web series dengan judul yang sama. Web series yang mulai tayang sejak 2018 sebanyak enam episode ini disutradarai oleh Dinda Unaroma sendiri. Tidak heran, lulusan New York Film Academy, Los Angeles ini adalah seorang sineas yang sudah beberapa kali membuat film pendek.

Cerita 19 Letters ini ringan dan renyah. Bisa dimengerti, segmennya, kan, remaja. Tapi itu bukan berarti novel ini tidak berisi. Melalui 19 Letters, selain bisa mengetahui suasana kelas aksel, kita juga bisa memahami pentingnya perjuangan, kejujuran, kesetiaan dan bagaimana cara
menjadi diri sendiri.

Oh ya, jangan lupakan kisah cintanya! Layaknya masa remaja yang mulai mengenal asmara, Dinar dan kawan-kawan juga tidak luput dari persoalan ini. Tapi tidak banyak diceritakan. Karena yang dominan dari novel ini, selain masalah persahabatan dan perjuangan tiga gadis
itu, juga masalah ekstrakulikuler musik yang mereka ikuti.

Singkatnya, novel 19 Letters tidak melulu manis. Sama halnya dengan kehidupan, ada sisi pahitnya juga yang tidak bisa dihindari.

Review ini ada versi podcast-nya juga. Klik:

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.