Pohon dan Buah Mangga

Sebuah mangga harum manis jatuh tepat di bawah pohonnya, seolah mengukuhkan pribahasa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

“Tidak apa-apa, Nak?” tanya pohon mangga.

“Aku tidak apa-apa, Bu. Aku jatuh di atas hamparan rumput, bukan mengenai batu,” jawab buah mangga dengan tenang.

“Syukurlah, sebentar lagi Keluarga Sahaja pasti akan memungutmu. Mereka pasti senang kamu sudah masak.”

“Benarkah? Kalau begitu, aku juga ikut senang,” kata buah mangga girang.

Namun beberapa saat kemudian buah mangga tampak murung. Ada sesuatu mengganjal di hatinya. “Tapi, bagaimana kalau rasaku tidak enak? Keluarga Sahaja pasti akan kecewa. Mereka akan membuangku karena tidak menyukai rasaku,” ungkap buah mangga dengan sendu.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan, Nak. Kamu itu buah mangga harum manis sejati, bukan kawinan. Aku juga ditanam asli dari biji, bukan dicangkok. Keaslian rasa kita terjamin dan ini sudah terbukti sebelumnya,” pohon mangga menghibur.

Lalu, Ibu Sahaja keluar rumah sambil membawa seember pakaian yang baru dicuci. Ia hendak menjemurnya. Dan seperti biasa yang dia lakukan setiap hari selama satu bulan terakhir ini, Ibu Sahaja menengok pohon mangga harum manis. Didapatinya buah tersebut tidak lagi menggantung, melainkan tergeletak di bawahnya.

Ibu Sahaja menghampiri buah itu dan membaliknya. “Sempurna. Buah ini kondisinya masih bagus. Suami dan anakku tidak sabar memakannya dan adikku ingin sekali menanam buah ini di halaman rumahnya. Tapi sebaiknya aku menjemur pakaian dulu supaya tanganku tidak kotor dan lengket karena getah.”

Ibu Sahaja kembali ke tempat menjemur pakaian. Sementara itu buah mangga kembali heran. “Apa maksudnya adiknya ingin menanamku di halaman rumahnya?” tanyanya pada pohon mangga.

Sambil senyum pohon mangga menjelaskan, “Nak, Keluarga Sahaja pasti akan memakan daging buahmu, kamu tahu itu. Dan kulitmu pasti akan dijadikan pupuk kompos bersama sampah organik lainnya. Tapi bijimu akan ditanam di tempat lain. Dan tempat itu adalah halaman rumah adik Ibu Sahaja.”

“Di mana itu?”

“Entahlah. Yang jelas bukan di sini.”

Buah mangga menerka-nerka letak rumah adik Ibu Sahaja. Dekatkah dengan rumah Keluarga Sahaja? Atau justru jauh sekali. Ia kembali bertanya pada pohon mangga dan mengungkapkan keberatannya jika tinggal berjauhan dengan pohon mangga.

“Aku tidak tahu, Nak. Kalau dekat, saat kamu tumbuh melebihi atap rumah Keluarga Sahaja dan aku tumbuh lebih tinggi dari itu, kita masih bisa bersua. Kita bisa saling menyapa walau harus berteriak. Tapi kalau jauh, kita tentu tidak bisa bertemu lagi. Tapi aku sama sekali tidak berkeberatan.”

“Tapi aku sedih kalau harus meninggalkan Ibu,” timpal buah mangga lagi-lagi dengan sendu.

Pohon mangga menyikapi hal ini dengan tenang dan bijak. “Nak, aku juga sebetulnya sedih berpisah denganmu. Tapi, pikirkan baik-baik. Kalau kamu di sini, mungkin kamu hanya akan membusuk tanpa ada gunanya. Jadilah buah mangga yang dagingnya bisa dimakan dan bijinya bisa ditanam kembali, tidak peduli di mana tempatnya, asalkan tanahnya baik untuk pohon mangga. Kelak, kamu akan tumbuh jadi pohon dan berbuah. Kamu akan merasakan hal yang sama denganku.”

“Tapi… bagaimana dengan Ibu?”

“Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja. Matahari dan hujan akan terus membuatku berbuah setiap tahun. Dan yah, mungkin konyol kalau aku berbuah lalu ditinggalkan oleh buah-buahku sendiri. Tapi aku akan selalu bahagia dan tidak pernah meminta apa-apa darimu, dan kamu tidak perlu khawatir.”

Jawaban pohon mangga membuat buah mangga terharu. Ia baru tahu besarnya kasih sayang pohon mangga padanya. Pohon mangga banyak memberi tapi tak pernah mengharapkan kembali.

Ibu Sahaja selesai menjemur pakaian, tinggal memasangkan jepitan supaya jemurannya tidak beterbangan ditiup angin. Pohon dan buah mangga menyadari kebersamaan mereka tidak akan lama lagi. Sebentar lagi Ibu Sahaja akan membawa buah mangga ke dalam rumah.

“Ibu, terima kasih sudah melahirkan, menyayangi dan menjagaku,” ucap pohon  dengan lirih. “Maafkan aku tidak bisa membalasnya sedikit pun.”

“Tidak usah dipikirkan, Nak,” jawab pohon mangga. “Aku mencintaimu dengan tulus.”

Ibu Sahaja akhirnya memungut buah mangga itu. “Selamat tinggal, Bu. Jaga diri baik-baik,” ucap buah mangga.

“Selamat jalan, Nak,” pohon mangga membalas. Meski ada rasa sedih menyesakki hatinya, namun entah kenapa pohon mangga merasa lega dan bangga.

Daging buah mangga akan dimakan oleh Keluarga Sahaja. Sementara bijinya akan ditanam di halaman rumah adik Ibu Sahaja di luar kota.

To  mama with lots of love

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

2 Comments

  1. wah, baguuus banget cerp… eh, flash fiction-nya, teh vijay. tapi kok tokoh bu sahaja dibuat ngomel sendiri dengan kalimat-kalimat lengkap? kayak tokoh-tokoh sintetron dong

    eh, teh vijay, teh vijay… tahu nggak kamu? ng… nggak jadi deh! ntar aja

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.