Plesetan

Saya suka plesetan atau tebak-tebakan lucu. Entah sejak kapan. Tidak pernah mengingat-ingat. Yang jelas waktu sekolah saya suka main tatarucingan alias tebak-tebak dengan teman-teman sekolah.

Biasanya kami mendapat tebak-tebakan dari bungkus permen karet atau iklan. Ada juga yang bersumber dari mulut ke mulut atau hasil karya sendiri. Tidak jarang plesetannya garing. Tapi paling tidak, hal-hal semacam itu bisa bikin kami ketawa.

Di rumah Cicalengka dulu, saya suka main plesetan dengan sepupu saya. Dia biasanya nemu plesetan atau tebak-tebakan dari teman-temannya, kalau tidak bikin sendiri. Dan kalau saya lagi kreatif dan produktif, dalam sehari kami bisa beberapa kali saling lempar plesetan. Sampai SMS-an segala. Tidak cuma membuat tebak-tebakan, tapi juga dalam beberapa kata atau nama yang kami sebutkan atau dengar. Prinsip kami, apapun yang bisa diplesetkan, plesetkan saja.

Plesetan memang tampak tidak serius. Namanya saja plesetan, berasal dari kata peleset atau leset, yang artinya tidak kena sasaran. Tapi bagi saya, plesetan bisa menstimulasi otak supaya lebih kreatif dan cerdas. Dengan plesetan, orang jadi berpikir.

Dan percayalah, bikin plesetan itu tidak mudah, sama tidak mudahnya dengan membuat cerita lucu. Kita harus membuat pertanyaan yang bisa mengecoh orang dan membuat orang berpikir keras untuk mendapatkan jawabannya.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.