Perjalanan Menyusui Akira


Tumbuh di perut yang sama, lahir dari rahim yang sama, tidur di pangkuan yang sama, tidak menjamin Kiara dan Akira punya karakter yang sama. Dulu saya kewalahan menghadapi Kiara yang gemar begadang, tidak pernah puas menyusu, kelewat lincah apalagi kalau jalan-jalan di mal, bolak-balik mogok makan. Saya pikir, Kiara tergolong nakal. Namun setelah Akira tumbuh besar, persepsi saya pun berubah. Saya harus lebih ekstra sabar dalam menemani Akira tumbuh.

Akira, 1 tahun, badannya kuruuuus… sekali.

Akira terlahir dengan bobot 2,7 kg. Sama dengan Kiara. Namun, Akira tampak lebih mungil. Tapi, berbekal pengalaman membesarkan Kiara, saya tidak khawatir-khawatir amat dengan ukuran badan Akira yang cuma segitu. Cukup disusui sesering mungkin, berat badan Akira pasti bisa melesat.

Dan benar, belum dua bulan berat Akira sudah mencapai empat kg. Badannya sudah kelihatan montok dan menggemaskan. Yah, mungkin ada bayi lain seumuran Akira yang badannya lebih besar. Tapi karena menambah berat Akira itu sangat melelahkan, saya anggap itu sebagai prestasi. Baru satu bulan lebih menyusui, saya selalu merasa mudah lapar dan lelah. Tenaga saya benar-benar terkuras. Selain juga karena saya mengurus semuanya sendiri. Ya mencuci, memasak, mengurus Kiara juga. Suami saya tidak pernah lepas tangan. Tapi saya juga tahu diri, tugas utamanya kan mencari nafkah.

Selama hampir satu tahun berikutnya, tidak ada masalah yang berarti. Akira tidak pernah begadang, menyusu lebih banyak dari kakaknya dulu. Tidak heran kalau badannya cepat besar dan pipinya awet menggelembung. Jarang sekali mogok makan, apa saja bisa dia lahap. Cuma motoriknya yang bermasalah. Telat duduk, tidak merangkak, telat jalan. Tapi Kiara juga begitu. Pikir saya, mungkin Akira seperti Kiara. Motoriknya lambat, tapi umur satu tahun sudah bisa bicara banyak.

Ternyata tidak. Di usia satu tahun, bobot Akira merosot drastis. Dia masih minum ASI, tapi makannya sedikit sekali. Bahkan kadang-kadang hanya mau makan buah. Dagingnya menipis, kulitnya keriput. Saya pikir, ini gara-gara GTM yang kebablasan. Namun karena Akira masih doyan nenen, saya tidak menganggapnya masalah yang besar.

Lama-lama, saya dan suami jadi prihatin. Apalagi Akira juga sering sakit walaupun hanya flu dan batuk. Biasanya kami hanya memberinya madu, air putih, dan buah. Tapi karena keseringan sakit, akhirnya kami membawa Akira berobat. Awalnya ke Puskesmas sekalian supaya Akira menjalani DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang). Menurut bidan, kalau Akira tidak suka makan, sebaiknya diberi sufor. Saya kaget dan bingung. Bukannya ibu disarankan menyusui anaknya selama dua tahun? Kenapa anaknya yang baru satu tahun harus diberi sufor?

“Karena ASI saja tidak cukup setelah anak berumur enam bulan ke atas,” jelas bu bidan. “Usia juga berpengaruh ke ASI meski bisa dikatakan ibu masih muda. Dan biasanya, ASI pada anak pertama dan kedua lain. Waktu anak pertama dulu ASI-nya mungkin lancar selama dua tahun. Sekarang lain karena, selain usia, ibu juga mungkin lebih lelah.”

Sebetulnya penjelasan bidan itu bisa dipahami. Tapi saya tetap tidak terima kalau anak saya harus diberi sufor.

Akhirnya, kami coba membawa Akira ke dokter spesialis anak. Jawabannya, sama. Akira harus diberi sufor. Kalau dibiarkan seperti itu terus, lama-lama tidak akan tertolong karena dia sudah masuk kategori malnutrisi. Kalau nafsu makannya sudah membaik, baru deh susunya bisa dikurangi. Atau tidak diberi susu sama sekali.

Apa boleh buat. Sudah dua pakar kesehatan anak yang berkata seperti itu. Kami pun memutuskan untuk membei susu formula. Saat itu, Akira belum genap 18 bulan.

Tidak mudah memberi Akira susu. Dia menolak, lalu memberontak. Bahkan setiap kali saya mengambil gelas serta sendok, Akira sudah menangis histeris duluan. Saya sempat menyerah. Tidak tega juga kalau harus memaksa dia minum sufor. Tapi kalau harus menunggu Akira minta minum susu, sampai kapan?

Terpaksalah saya memaksa dia minum susu. Disendok sedikit demi sedikit. Akira terus memberontak. Saya tidak menyerah. Sekitar 30 ml sufor saya berikan secara paksa. Ini dilema. Di satu sisi, saya tidak mau memaksa anak melakukan sesuatu yang tidak dia suka. Di sisi lain, ini harus dilakukan demi kesehatan Akira.

Lewat fase 30 ml, saya tambahkan porsi susunya menjadi setengah gelas besar. Lama-lama, Akira pasrah dan tidak mau kalau susunya disendoki. Dia minum dari gelas, tapi kadang-kadang tidak habis sehingga saya harus mengurangi porsinya.

Setelah dua bulan, berat Akira bertambah satu kilo lebih. Masih kurang dari target. Tetapi, badannya mulai berisi karena dia mulai mau makan walaupun sedikit. Motoriknya pun perlahan-lahan membaik. Bisa jalan dan bisa bicara.

Hingga lama-lama, Akira minum susu dari gelas. Porsi penuh. Bahkan dia sering minta sendiri sehingga saya tidak perlu menawarkan. Sehari bisa sampai lima gelas! Tetapi meski begitu… Akira tetap saja nenen.

Biasanya, kalau anak sudah minum sufor, dia berhenti menyusu. Tapi mungkin karena Akira minum susunya pakai gelas, bukan dot, jadi dia tidak puas kalau tidak menyedot.

Lewat usia dua tahun, Akira masih menyusu. Sufor tetap berjalan dan nafsu makannya, meski tidak meningkat, tetap ada. Kembali saya bingung, bagaimana menyapih anak ini? Apalagi dulu saya menyusui Kiara hanya selama dua tahun.

Akira? Umur dua tahun setengah masih semangat menyusu. Disuruh berhenti, malah menangis menjadi-jadi.

Haduh! Saya malu campur bingung. Beberapa orang bilang saya harus tega. Terus terang, saya sih maunya menyapih Akira saat itu juga. Tapi gimana dong kalau Akira rewel terus, bahkan rewelnya lebih dahsyat dari Kiara dulu.

Lagi-lagi saya harus ingat, lain anak lain pula perangainya. Saya harus ekstra sabar plus telaten membesarkan Akira. Putri kedua saya ini memang tampak tenang, tapi di balik ketenangannya itu dia anomali dan sulit diajak kompromi.

Tidak ada jalan lain, saya hanya bisa mengikuti kemauan Akira sambil berusaha menjelaskan kalau dia tidak boleh menyusu lagi karena sudah besar. Akira biasanya merajuk dan saya tidak bisa menolak keinginannya. It’s okay, pikir saya. Tapi kalau sampai umur tiga tahun Akira masih belum berhenti menyusu, saya harus bertindak tegas.

Tahu-tahu… Akira sudah tidak menyusu sejak kira-kira hampir dua bulan yang lalu. Saya sempat menepuk jidat karena tidak mencatat momen yang membuat Akira berhenti menyusu. Seingat saya, ketika itu kami berempat terserang flu dan Akira sempat mau muntah ketika menyusu. Lalu saya bilang padanya untuk tidak nenen lagi karena itu bisa membuatnya muntah. Akira mengangguk walau sambil sesenggukan. Kasihan juga sih karena dia sedang sakit dan harus melepaskan sesuatu yang sangat dia suka. Namun saya pikir, itu momen yang tepat untuk menyapih Akira.

Dan sampai sekarang, Akira benar-benar tidak menyusu lagi. Kadang-kadang dia minta nenen, seperti beberapa waktu lalu ketika dia sedang sariawan. Tapi tentu saja saya tidak memberikannya. Saya harus tegas atau Akira kembali lagi menjadi bayi.

Nah, kan, di saat yang tidak terduga Akira malah mau berhenti menyusu. Coba waktu saya sengaja menyapihnya, malah ngamuk.

Tapi PR saya sebagai seorang ibu belum selesai sampai di sini, tentunya. Nafsu makan Akira yang naik turun kerap membuat saya bingung. Belum lagi harus membagi perhatian dengan Kiara. Juga membagi waktu antara mengurus anak dan bekerja.

Akira dan Kiara, dua anak yang beda karakter.

Yah, menjadi orang tua berarti tidak punya masa pensiun.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.