Minimal Rapi

Mengubah gaya hidup tidaklah mudah. Dulu saya pernah diet makanan ber-MSG dan mengurangi asupan gula pasir. Namun tidak bertahan lama. Saya kembali makan bakso dan membiarkan si abang tukang bakso menambahkan vetsin ke dalam porsi bakso pesanan saya. Pun saya kembali mengonsumsi gula pasir karena madu terkadang menimbulkan rasa aneh dalam teh hijau yang saya seduh. Sampai sekarang, saya tidak pernah diet apapun lagi. Saya makan dan minum apa saja yang saya mau.

Akira blog book Bukan Manusia Bus Kuning family fiction food health Kiara life motherhood movie nature nonfiction novel on writing poem pregnancy Satin Merah short story vacation writer

Tidak hanya dalam hal makan. Dalam hal memiliki barang pun begitu. Saya pernah bilang bahwa saya ingin berubah dari maksimalis menjadi minimalis. Saya ingin punya sedikit saja barang di rumah saya. Nyatanya, saya masih tidak tega membuang barang-barang yang sebetulnya tidak saya suka lagi. Selalu ada kekhawatiran, bagaimana kalau saya membutuhkan barang tersebut suatu hari nanti?

Akhirnya, saya tetap membiarkan kamar dipenuhi banyak barang, seraya menunggu kesempatan agar saya bisa tega “membuang” barang-barang tersebut. Hanya saja, saya merapikan semua itu.
Prinsip saya, kalau tidak bisa meniru Fumio Sasaki, minimal bisa meniru Marie Kondo.

Marie Kondo, setahu saya, bukanlah seorang minimalis seperti Fumio Sasaki. Namun dia mampu menyimpan barang-barang sehingga tampak rapi dan tidak memakan tempat. Selain itu, Marie Kondo juga tampaknya membolehkan menyimpan banyak barang, asal rapi. Berbeda dengan Fumio Sasaki yang hanya memprioritaskan barang-barang yang sangat dibutuhkan.

Namun keduanya sama-sama menghargai barang. Marie Kondo senang beres-beres karena menurutnya semua barang harus diperlakukan dengan baik. Dan kalau ada barang yang tidak kita sukai lagi atau barang tersebut tidak lagi membuat kita bahagia, sebaiknya kita melepaskannya.

Sementara bagi Fumio Sasaki, setiap barang pasti ingin diperhatikan, ingin dirawat, dan dipakai. Dengan memiliki banyak barang, kita bisa bingung, bagaimana harus merawat mereka satu per satu? Apalagi kalau kita orang sibuk. Sekalinya kita punya waktu luang dan ingin menggunakannya untuk hal lain yang lebih berguna, kita malah terbebani untuk memperhatikan barang tersebut. Daripada merasa bersalah, lebih baik punya sedikit barang tapi benar-benar kita butuhkan.

Bagaimana dengan teman-teman?

Akira blog book Bukan Manusia Bus Kuning family fiction food health Kiara life motherhood movie nature nonfiction novel on writing poem pregnancy Satin Merah short story vacation writer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.