Melati dan Kematian

Melati berjalan riang di atas trotoar. Hari yang cerah itu dia habiskan bersama bundanya. Besok adalah hari yang tampaknya akan sangat menyenangkan baginya: sekolah. Ya, Melati mau masuk sekolah. Hari itu dia mau membeli tas baru.

Berjalan bersama sang mama membuat Melati tidak takut apa-apa. Kalau ada yang mengganggu, Melati tidak ngumpet di belakang kaki mamanya sambil bilang, “Hiii… takut….” Melainkan menghadapinya tanpa gentar.

Namun ada kalanya sang mama tak bisa jadi pelindung. Seperti saat Kematian mendatangi Melati dan mengajaknyabermain. 

Layaknya anak-anak, Melati selalu riang. Ketika Kematian datang, Melati tidak takut. Lain halnya dengan orang dewasa. Kematian selalu membuat mereka ketakutan. Sebaliknya, Melati senang ketika Kematian menghampirinya. Gadis kecil itu merasa punya teman bermain. Kematian pun tidak keberatan bermain bersama Melati. Malah dengan cara seperti itu, Kematian mendekati Melati.

“Kamu mau nggak main di tempat lain?” tanya Kematian.

“Di tempat lain? Di mana?” Melati dengan polosnya balik bertanya.

“Tempatnya sangat indah. Kamu pasti betah berada di sana. Ada sungai dengan air yang jernih, padang bunga yang luas. Enak deh buat bermain. Nggak jauh kok.”

Melati menimbang-nimbang. Sepertinya tempat itu sangat menyenangkan. Tapi, Melati tidak mau pergi sendiri. Dia mau pergi bersama ibunya.

Kematian menggeleng. “Aku hanya ingin membawamu, Melati. Kalau mamamu diajak, nanti dia mengajakmu cepat pulang ke rumah. Sementara aku yakin, kamu bakalan betah di sana.”

Retorika Kematian begitu meyakinkan. Melati pun takluk. “Tapi, aku mau jalan-jalan dulu sama mama sehariii… aja. Lusa kan aku mau sekolah. Mama janji mau membelikan aku tas baru.”

Meski terlihat keberatan, Kematian akhirnya mengangguk.

Lalu tibalah hari itu, hari Minggu yang cerah. Melati dan mamanya akan belanja segala keperluan sekolah untuk Melati. Mama Melati tidak tahu kalau Kematian juga bersama mereka. Hanya Melati yang mampu melihat dan dia senang-senang saja bersama Kematian. Jalan bertiga lebih seru ketimbang jalan berdua.

Saat ketiganya sedang menyusuri trotoar, Kematian menyingkap lengan bajunya, melihat jam. “Sudah waktunya, Melati.”

“Waktu apa?”

“Kita harus pergi sekarang.”

“Tapi aku kan belum beli tas. Belum minta izin mama juga.”

“Tidak usah. Mamamu pasti mengerti kok.”

“Iya deh. Tapi…” Sejenak Melati ragu. Untuk pertama kalinya dia harus pergi tanpa mamanya.

“Tidak usah khawatir. Mamamu pasti baik-baik saja. Kamu juga tidak usah takut. Nanti banyak malaikat yang menjagamu.”

Melati memejamkan mata. “Baiklah,” katanya seraya menyerahkan sebelah tangannya kepada Kematian.

Kematian menggenggam tangan mungil Melati. Perjalanan menuju tempat yang dijanjikan Kematian pun dimulai.

“Mama…”

Melati memanggil mamanya. Mungkin minta izin. Mungkin pamit.

“Nak… Nak… kamu kenapa?”

“Ma…”

Tangan Melati terlepas dari genggaman tangan mamanya.

“Melati! Melati! Nak, kamu kenapa? Bangun, Nak! Besok kan kamu sekolah.”

Melati diam saja. Sekujur tubuhnya membeku.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.