Ingin Jadi Minimalis? Jadilah Diri Sendiri

Jujur, kalau saya nonton video-video tentang gaya hidup minimalis, saya tergiur dengan barang-barang yang dipamerkan. Rumah, perabot, sampai pakaian yang dikenakan si artis (maksudnya si minimalis yang ada di konten). Ujung-ujungnya ya cari barang yang sama dan mirip, atau berandai-andai punya barang seperti itu dan menjalani hidup minimalis yang sama.

Adakah yang salah?

Sepintas mungkin tidak. Teman-teman kalau mau cari tahu tentang minimalis dan mencari konten (foto dan video) tentang minimalis, mungkin jadi kepikiran buat punya benda yang sama. Serba simpel, multifungsi, netral dan basic.

Tapi sebetulnya, semua itu jadi tidak masuk akal. Karena kita jadi masuk perangkap media. Kita jadi tergiur punya barang yang sama, yang menimbulkan konsumerisme. Kita jadi ingin membuang segala sesuatu yang kita punya di lemari dan menggantinya dengan barang baru yang minimalis.

Padahal, tujuan dari minimalisme adalah memiliki ketenangan hidup dengan mensyukuri apa yang kita punya. Caranya dengan memanfaatkan barang-barang milik kita sebaik mungkin. Pakai sampai rusak, atau habis. Tidak harus beli yang baru, tidak harus berdesain minimalis, tidak harus berwarna netral.

Standar minimalis setiap orang tidak sama, disesuaikan dengan banyak hal. Jenis kelamin, usia, profesi, status. Bagi seorang ibu rumah tangga, punya dua kemeja mungkin cukup karena jarang bepergian (ini contoh saja, ya). Tapi bagi ibu-ibu yang bekerja, punya lima kemeja saja mungkin kurang.

Jadi kalau mau menjadi seorang minimalis, pertama-tama kita harus mengenali diri kita sendiri. Siapa kita, apa saja kebutuhan kita. Bahkan poin ini harus dilakukan sebelum kita belanja dan membuat daftar pertanyaan minimalis (perlu nggak barang ini, bakal kepake lama nggak, dsb).

Selain itu, kurangi juga screen time, terutama medsosan. Tren dan medsos ibarat dua sahabat yang selalu beriringan. Mereka bahkan mampu melesat melampaui waktu. Kita bisa tergiur dengan tren A. Namun sebelum kita selesai mengikutinya, sudah muncul tren B. Begitu seterusnya.

Belum lagi dengan banyaknya selebgram atau content creator yang bermunculan. Masing-masing membawa gaya yang berbeda-beda. Opininya juga berbeda-beda. Yang membuat kita bimbang, mana yang sesuai kepribadian kita. Dan bahkan, kita sendiri mungkin kehilangan karakter kita akibat selalu niru-niru orang lain.

Minimalisme mengajarkan kita untuk kembali ke dasar atau esensi. Karenanya, alih-alih melihat ke luar, kita perlu lebih banyak melihat ke dalam dan mengenal diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.