Foto Kenangan

Selembar foto, punya banyak cerita. Dan meski cerita itu berulang-ulang diceritakan, tidak ada rasa bosan yang muncul.

Saya suka membuka-buka album foto lama dan berlama-lama memandang satu foto. Baik foto-foto sendiri maupun keluarga. Bukannya narsis. Tapi melihat sebuah foto dan mengenang kejadian di baliknya menimbulkan banyak perasaan. Haru, sedih, bangga, terhibur, penasaran.

Mama saya menyimpan album-album foto lawas. Ada foto ketika kakak-kakak saya masih cilik, foto pernikahan mama dan papa, bahkan foto mama semasa kecil pun ada. Hitam putih, tentunya, dan kertasnya sendiri sudah kekuningan karena usia. Di waktu senggang, kami suka membuka album-album itu. Lalu mengalirlah cerita dari bibir mama. “Ini foto waktu naik feri ke Lampung”, “Ini foto waktu ada pertemuan kantor papa”, “Ini waktu kakakmu ngambek karena permintaannya nggak dituruti”, dsb.

Cerita apapun itu, saya selalu suka. Mencoba membayangkan masa-masa sebelum saya lahir. Kadang saya bertanya, seperti apa itu? Jawabannya ada di foto. Tinggal dilihat, diamati, dan kalau ada hal-hal yang tidak saya mengerti, tinggal tanya mama. Saya bisa tahu bagaimana keadaan waktu itu. Tapi saya selalu saja penasaran. Sampai terpikir, coba kalau mesin waktu itu ada, saya pengin ke sana supaya bisa melihat langsung kejadian atau hal-hal yang ada di dalam foto.

Atau, kalau saya lihat foto saya sama kakek (papanya mama), ada rasa sedih dan penasaran. Kakek meninggal waktu saya umur tiga tahun. Tidak banyak memori tentangnya. Atau kalau boleh jujur… tidak ada. Saya lupa kakek seperti apa orangnya, banyak bicara atau pendiam, galak atau lemah lembut. Saya tahu wajah kakek dari foto, dan saya tahu sosok kakek dari cerita orang-orang saja.

Tapi kalau lihat foto kakak-kakak saya, ditambah mama menceritakan hal-hal lucu tentang mereka, saya bisa tertawa. Padahal saya sendiri waktu kecil sering jadi bahan tertawaan kakak-kakak saya.

Selembar foto tentang seseorang bisa membuat saya berpikir tentang perjalanan hidupnya. Melihat dia waktu bayi, kanak-kanak, remaja, dan tumbuh menjadi orang dewasa. Siapa yang bisa mengira dia bisa menjadi seorang ayah atau ibu? Siapa yang bisa menebak dia bisa menjadi seorang sukses di jalannya? Siapa yang bisa membayangkan dia harus menghadapi cobaan hidup yang berat?

 


Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

4 Comments

  1. Ke depannya, mengenang akan semakin mudah, berkat internet. Generasi kakek2 kita dulu belum ada blog atau social media. Jadi cerita mereka hanya dituturkan dari mulut ke mulut.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.