Enak di Mulut, Enak di Perut

Baru-baru ini, kami menjalani sesuatu yang baru: mengubah pola makan.

Soalnya selama ini, pola makan kami seenaknya. Makan nasi pakai lauk yang berterigu atau dobel karbo (mi atau kentang dan nasi), makan buah jarang, masak sayur kalau sempat, lahap kalau makan masakan berlemak atau bersantan, menikmati hidangan yang gurih termasuk mi instan.

Sekarang kami berusaha mengurangi gluten dan gorengan, menghindari masakan bersantan, rajin makan buah dan sayur. Masih dalam tahap belajar dan beradaptasi, sih. Jadi kadang-kadang kami makan roti dan gorengan juga. Apalagi kalau dikasih orang. Mau nolak, nanti orangnya tersinggung.

Nggak gampang, loh, mengubah pola makan seperti ini. Kadang kami kangen makan pentol, bala-bala yang dibeli di pinggir jalan. Bukan cuma itu, kami juga tidak lagi minum teh. Pagi, minuman kami adalah air hangat campur madu. Malamnya kacang ijo. Kopi? Cuma saya yang kadang-kadang masih minum. Seminggu 2-3 kali. Suami tidak lagi minum kopi untuk sementara ini karena beberapa waktu lalu sakit lambung.

Kalau ditotal, ada banyak makanan dan minuman yang tidak lagi menyentuh lidah kami. Kebetulan, sehari-hari kami banyak di rumah. Kalaupun pergi, kami usahakan bawa bekal. Kalau tidak, terpaksa beli yang kami temukan. Bagaimanapun, kami tidak bisa terpaku pada aturan melulu. Ada kalanya kami melanggar aturan kalau terpaksa.

Anak-anak juga kami latih untuk menjalani pola makan seperti kami. Awalnya mereka protes. Tapi setelah diberi penjelasan dan mulai dibiasakan, lama-lama mereka mengerti dan tidak merengek minta teh manis atau biskuit.

Mudah-mudahan apa yang kami jalani berbuah baik. Siapa, sih, yang nggak kepengin makanan yang enak di mulut sekaligus enak di perut?

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.