Dunia Bayi, Dunia Ibu

Kebanyakan postingan yang saya tulis belakangan ini bertema bayi. Tentang ASI, merawat bayi, MPASI, dsb. Ini karena pekerjaan utama saya sekarang adalah mengurus anak. Mulai dari memandikan, mencuci baju, membuat MPASI, mengganti popok, menemani bermain, dan mengabadikan setiap momen menarik dari Kiara, baik berupa foto maupun cerita.

Setelah punya anak, saya seakan menjelajah dunia baru. Kalau dulu saya sebatas bermain dengan keponakan tanpa mengurus mereka, sekarang saya total mengurus anak. Dan ini bukan sebatas kewajiban, namun juga semacam panggilan jiwa. Demi anak sendiri, saya melepas banyak keinginan. Termasuk menyelesaikan naskah cerita. Saya bahkan bisa meninggalkan draft tulisan ringan seperti ini sampai berhari-hari.

Walau begitu, sebisa mungkin saya menyempatkan online setiap hari. Buka Facebook, buka email, googling. Dan yang selalu menarik perhatian saya adalah segala hal tentang bayi. Saya suka membaca blog para ibu yang menulis tentang keseharian mereka bersama bayinya. Lalu ketika Kiara mau menginjak enam bulan, misalnya, setiap hari saya meriset MPASI. Sampai sekarang. Saya bisa berulang-ulang membuka laman resep di ayahbunda.co.id atau mencari resep MPASI sesuai umur Kiara. Perbendaharaan bahan makanan bayi di otak saya cukup banyak, walau pada kenyataannya saya suka bingung tiap hari, memikirkan menu makan Kiara. Hehehe. Dan pada akhirnya, apa yang ada di rumah, itu yang saya olah. Namun tentunya saya browsing dulu mengenai aman tidaknya bahan makanan tersebut untuk Kiara.

Hal-hal remeh pun tidak luput dari perhatian saya, seperti kosmetik yang aman buat bayi, deterjen untuk mencuci baju bayi. Setiap hari saya bisa mencari tahu tentang sesuatu yang itu-itu terus. Membuka laman yang itu-itu lagi. Tanpa bosan. Seolah apa yang sudah saya baca dan ingat-ingat mudah lenyap dari memori.

Sebetulnya, tidak demikian. Saya berbuat begitu karena didasari rasa khawatir. Khawatir produk perawatan bayi yang dipakai Kiara ternyata mengandung bahan kimia yang tidak aman buat bayi, khawatir deterjen yang saya pakai membuat Kiara alergi, khawatir MPASI yang dimakan Kiara bisa bikin sakit. Padahal Kiara sendiri baik-baik saja. Tidak alergi kosmetik yang saya pakaikan, deterjen yang saya gunakan, ataupun makanan yang saya berikan.

Merasa khawatir ini-itu terhadap si manusia kecil adalah wajar. Jangankan saya yang baru kali ini punya anak, eyang-eyangnya Kiara saja yang sudah berpengalaman punya anak dan mengurus anak bisa khawatir kalau Kiara, atau saya, mengalami sesuatu yang tidak lazim menurut mereka. Misalnya ketika ASI tidak keluar setelah Kiara lahir. Baik mama maupun mama mertua sama-sama khawatir. Khawatir Kiara kelaparan. Padahal kalau ditinjau secara medis, tidak masalah kok, karena setiap neonatus sudah dibekali cadangan makanan untuk 3 x 24 jam setelah dilahirkan.

Belum lagi karena bayi bisanya cuma menangis, kita semua tidak mengerti apa maksud tangisannya. Kelaparan, kepanasan, ingin diperhatikan, atau apa. Seolah bayi itu jenius dengan memiliki bahasa sendiri. Bahasa yang tidak ada kamusnya, dan untuk memahami artinya, orang dewasa hanya bisa menerka.

Dunia bayi merupakan dunia yang istimewa. Para ibu secara otomatis memasukinya setelah melahirkan. Di dunia ini, para ibu belajar secara alami berbekal naluri. Berbagai teori mengenai perawatan bayi atau parenting bisa saja mereka kuasai. Namun setiap bayi memiliki pembawaan yang berbeda, sehingga pengaplikasian teori-teori tersebut harus disesuaikan dengan kondisi anak mereka.

Ini tidak mudah, tapi juga tidak sulit. Asalkan mau memberikan waktu, ibu bisa memahami bahasa atau kebiasaan bayi secara perlahan. Yah, saya juga kadang-kadang kesal. Mau makan, tidak jadi karena Kiara mau menyusu. Mau ke kamar mandi, tidak bisa karena Kiara maunya nempel terus. Digendong eyangnya, tetap saja rewel. Tapi itu semua adalah bagian dari dunia bayi. Dan dunia bayi adalah dunia ibu.

Makanya sejak jauh sebelum menikah, saya sudah memutuskan untuk tidak bekerja kantoran dan membiasakan diri dengan situasi rumah. Dan menjadi penulis lepas saya pikir adalah pilihan yang tepat karena saya bisa mengatur waktu sendiri. Kendati setelah punya anak, saya mengalami kesulitan kalau harus mengerjakan tulisan yang panjang-panjang. Paling sering ya nulis yang pendek-pendek seperti artikel atau postingan blog.

Kecuali kalau harus menulis tentang bayi. Haha! Saya mau-mau saja meriset dan mencuri-curi waktu untuk menggarap tulisan seperti itu sekalian menambah ilmu. Jangan dikira menjadi seorang ibu tidak perlu wawasan. Setelah menggali banyak hal tentang dunia bayi, saya jadi tahu kalau untuk urusan ASI saja ada banyak kosakata yang mungkin belum dipahami banyak orang. Bahkan tidak semua ibu memahaminya. Tuh kan, bayi itu memang istimewa. Dunianya penuh dengan kejutan dan keajaiban. Dan para ibu yang menjelajahinya, yang mau bersusah-payah mengurus bayi mereka, adalah petualang sejati.

Hm, tidak salah apa yang dikatakan Dian Sastro, bahwa menjadi ibu itu memang seru!

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.