Bus Kuning di Surabaya

Sudah membaca kumcer Bus Kuning?

Sebetulnya, bus kuning adalah sebuah bus di Universitas Padjadajaran, Jatinangor. Karena luasnya lahan perguruan tinggi itu, jarak antara gerbang dengan fakultas sastra atau antar fakultas jadi berjauhan. Karenanya ada moda transportasi di kampus. Salah satunya sebuah bus besar berwarna kuning.

Kiara berdiri di depan Bus Suroboyo.

Jarak antara gerbang kampus dengan fakultas sastra sebetulnya tidak begitu jauh, hanya jalannya menanjak. Membuat kami kerap ngos-ngosan kalau berjalan kaki. Nah, bus kuning adalah solusi supaya kami tidak kelelahan.

Bus ini tidak istimewa, malah sudah tampak jelek. Tapi penumpangnya selalu banyak karena kami menumpang bus ini tanpa membayar alias gratis. Tidak heran, sering kali kami berdesakan di dalam bus. Untungnya karena jarak dekat, kami jadi tidak begitu tersiksa.

Itu kalau naik busnya untuk berangkat. Kalau naik bus untuk pulang, kami tidak bisa langsung meluncur ke gerbang. Melainkan harus keliling kampus Unpad dulu. Melewati fakultas peternakan, pertanian, mipa, kedokteran, sampai akhirnya sampailah kami di dekat gerbang. Hm, lumayanlah buat jalan-jalan. Belum lagi karena jalannya naik dan turun, kami seperti naik wahana halilintar.

Sebuah momen yang berkesan. Karena kebersamaan kami dengan bus kuning tidak lama. Busnya sudah tidak kuat lagi mengangkut mahasiswa dari berbagai jurusan dengan medan jalan yang menanjak dan menurun.

Sampai beberapa tahun, bahkan sampai lulus kuliah, saya selalu ingat bus itu. Karena itulah lahir cerpen Bus Kuning.

Sekarang saya berdomisili di Surabaya. Tidak ada bus kuning di sini. Yang ada hanya bus biru alias Bus Damri.

Tapi sejak kira-kira dua tahun yang lalu, ada Bus Suroboyo. Bus yang keren, bersih, penumpangnya tertib, dan cukup dibayar dengan botol plastik bekas minuman saja.

Ada dua macam Bus Suroboyo. Yang berwarna merah dan kuning. Bus merah adalah bus biasa, sedangkan bus kuning adalah bus tingkat.

Beberapa waktu lalu saya bersama keluarga kecil saya naik bus kuning. Naik bus sambil menjaga anak-anak berkeliling kota Surabaya, membuat saya sama sekali tidak bernostalgia dengan bus berwarna kuning. Serius, saya hampir lupa bus kuning Unpad yang dulu suka saya tumpangi saat kuliah.

Beda masa, beda cerita.

Namun, sesuai dengan warnanya yang kuning, bus tingkat juga memberikan keceriaan. Kiara dan Akira suka banget naik bus ini. Bahkan mereka tidak gentar duduk di lantai atas bus di bagian depan pula! Ketika kaca bus menabrak ranting pohon yang menjuntai ke jalan, mereka menjadikan itu sebagai lelucon.

Saya punya cerita sendiri tentang bus kuning. Kali ini, giliran Kiara dan Akira yang membuat kisah sendiri.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.