Balada Kotak Bekal

Salah satu barang yang ada banyak di rumah, tapi jarang dipakai adalah kotak bekal. Saya tidak mengoleksi barang tertentu atau fanatik kepada satu merek. Yang memakai kotak bekal pun hanya satu orang, yakni Kiara. Jadi, satu kotak bekal seharusnya cukup. Lalu, bagaimana ceritanya sampai ada 10 kotak bekal di lemari?

Masing-masing kotak bekal ada ceritanya. Ada yang merupakan pemberian mama atau saudara, hadiah produk susu anak, ada juga yang sengaja saya beli. Bentuknya juga macam-macam. Ada yang bundar, segi empat, segi tiga meski ketiga ujungnya tidak runcing. Ada yang bersekat, ada yang tanpa sekat. Ada yang besar, ada yang kecil. Ada yang dibeli di pasar dengan harga yang sangat terjangkau, ada juga yang harganya mahal dan bermerek.

Semua saya simpan. Mau dibuang atau diberikan ke orang lain, selalu ada rasa khawatir berkelebat di benak, bagaimana kalau suatu saat saya membutuhkannya? Karena kadang-kadang Kiara memakai kotak bekal berlainan setiap harinya. Kalau bekalnya kompleks, misalnya nasi-ikan-sayur, dia memakai kotak bekal bersekat. Tapi kalau hanya membawa snack atau nasi dan lauk yang digoreng, kotak bekal tanpa sekat pun jadi pilihan.

Dengan jam sekolah yang terbilang pendek, Kiara seharusnya membawa bekal sedikit saja. Apalagi dia bukan anak yang doyan makan. Menunya juga super simpel. Mi goreng, telur ceplok, omelet, telur krispi, telur puyuh, sosis, tahu krispi, nasi goreng, atau donat. Seringnya yang digoreng, supaya kalau bersisa bisa dimakan lagi di rumah. Kadang-kadang saya bawakan tumis sayur seperti capcay. Tapi dijamin, tidak habis.

Begitulah. Kadang saya sengaja menyiapkan menu bekal yang berbeda supaya Kiara tidak bosan membawa bekal yang itu-itu saja. Tapi anaknya sendiri tidak antusias. Malah kadang-kadang kalau membawa bekal sesuai permintaannya, begitu pulang saya tengok kotal bekalnya, masih utuh.
Namun kalau tidak diberi bekal, mau makan apa dia? Kantin sekolah seringkali penuh pada jam istirahat. Apalagi kalau saya baca cerita tentang sekolah di luar negeri yang mewajibkan siswa-siswinya membawa bekal sehat dari rumah, rasanya saya greget pengin menyiapkan bekal sehat dengan gizi seimbang buat Kiara.

Sejatinya, di dalam kotak bekal, selain ada makanan, juga ada kasih sayang seorang ibu. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya kelaparan? Ibu mana yang tidak ingin anaknya mendapat asupan yang bernutrisi? Ada ibu yang sengaja menyiapkan bahan-bahan makanan sejak malam, supaya ketika subuh atau pagi bisa langsung masak. Ada juga yang ambil praktis saja dengan memasak telur atau makanan cepat saji, seperti yang biasa saya lakukan. Apapun itu, seorang ibu telah meluangkan waktunya untuk mengisi kotak bekal anaknya.

Tidak jarang, ketika mendapati bekal Kiara tidak habis atau masih utuh, saya kesal. Sudah dibawakan makanan, kok tidak dimakan? Tapi, apa mau dikata? Namanya juga anak-anak. Kadang dia keasyikan bermain bersama teman-temannya sampai-sampai lupa makan atau makan hanya sedikit karena ditunggu teman-temannya.

Sekarang mungkin Kiara belum mengerti apa pentingnya membawa bekal. Tapi suatu hari nanti, dia akan paham kenapa dia harus membawa bekal ke sekolah.

Teman-teman punya pengalaman yang sama? Atau justru sedang bingung memilih kotak bekal buat anak? Kebetulan, saya punya beberapa tips dalam memilih kotak bekal.

  • Kenali pola makan anak. Ada anak yang makannya banyak, sedikit, moody, picky eater. Ini berpengaruh terhadap ukuran kotak bekalnya nanti. Kalau porsi makannya besar, bolehlah pakai kotak bekal yang juga besar, supaya bekalnya juga banyak. Kalau makannya sedikit, sebaiknya pilih kotak bekal berukuran kecil. Jangan sengaja membawakan bekal yang banyak supaya anaknya makan yang banyak. Tipe anak lain-lain, lho. Kiara biasanya senewen kalau dibawakan bekal yang bukan favoritnya, apalagi dalam porsi yang banyak. Makanya kotak bekal yang sering dia pakai adalah yang kecil.
  • Kotak bekal berkualitas baik, harganya juga sangat “baik”. Bagi kalangan tertentu, tidak masalah. Tapi bagi kalangan lain, bisa saja ini memberatkan. Tenang. Kotak bekal tidak harus yang mahal. Yang murah tapi food grade, sah-sah saja, kok. Daripada beli yang mahal, terus hilang atau rusak, sayang juga, kan? Yang penting isinya berkualitas.
  • Membawa bekal, selain lebih sehat dan bersih, juga bisa berhemat. Tidak hanya hemat uang, tapi juga hemat kantong plastik. Usahakan, ketika membawa kotak bekal, jangan membawa kantong plastik juga. Saus, sambal, atau cocolan dan bumbu lain, bisa ditempatkan di wadah kecil lain (mini canister). Kotak bekalnya pun jangan dimasukkan ke kresek lagi, ya. Lebih baik pakai tas kotak bekal atau tas kain.

Semoga tipsnya berguna, ya.

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.