Back At One

Konon, janji sama diri sendiri adalah janji yang paling mudah diingkari. Nggak tahu kenapa. Dan ini terbukti. Dari tahun 2011-an sampai sekarang, saya bisanya cuma bikin konsep cerita buat novel. Begitu dieksekusi jadi cerita yang panjang (novel atau novelet), selalu berhenti di tengah jalan. Ada aja alasannya. Nggak bisa ngembangin kerangka jadi cerita, idenya nggak logis, maunya sempurna, pas di tengah-tengah baru nyadar si tokoh utama nggak punya alasan kuat untuk beraksi, atau ceritanya terlalu melebar ke mana-mana.

Tapi kalau buat proyek ghostwriting, mau nggak mau saya harus menuntaskan ceritanya. Tentunya atas persetujuan klien. Emang beda, ya, komitmen sama orang lain dan diri sendiri. Salah satu alasannya yaitu karena ada motivasi uang. Sebagai ghostwriter, saya dibayar buat mewujudkan “mimpi” orang lain. Dan orang lain ngasih saya kepercayaan buat jaga rahasia.

Saya sempat kepikiran buat jadi ghostwriter buat diri sendiri. Saya nggak bayar diri saya dengan uang, tapi dengan iming-iming kebanggaan. Tahu sendiri, menulis novel atau buku itu butuh napas yang panjang, ketelatenan tingkat tinggi, dan kesabaran tingkat dewa. Banyak banget tantangannya, baik internal maupun eksternal. Kalau saya bisa melewati semua tantangan itu, bagaimanapun penilaian orang lain terhadap karya saya, saya boleh berbangga diri.

Sejak awal Desember kemarin, saya menggarap karya saya yang baru. Sebuah novel kalau nggak novelet. Tadinya saya pasang target tiga bulan selesai. Sama kayak target saya kalau menggarap proyek ghostwriting. Walaupun nantinya masih bakalan ada revisi di sana-sini, paling nggak saya sudah menyelesaikan draft satu.

Ini sudah lewat tiga bulan dan ceritanya belum kelar. Draft satu udah selesai kira-kira 75%. Tapi kemudian mandek. Saya ngerasa ada yang salah. Dibaca lagilah draft-nya dari awal. Dan memang, banyak yang salah.

Akhirnya saya rombak itu konsep. Bikin lagi cerita dari bab satu. Tapi beberapa bagian cerita dari draft satu saya masukkan ke draft dua ini kalau cocok.
Sekarang ceritanya baru nyampe kira-kira 50%. Kesannya buang-buang waktu, tenaga, dan pikiran. Sudah nyampe tiga per empat cerita, tapi balik lagi ke pijakan pertama dan baru tergarap setengah ceritanya saja. Tapi saya rasa, inilah jalan yang baik buat saya.

Dari masalah ini juga, saya dapat pelajaran moral:

1. Konsep cerita yang matang itu sangat penting. Mungkin pas di tengah-tengah pengerjaan bisa aja ada beberapa bagian yang kudu diubah. Tapi kalau kerangka ceritanya udah matang, perubahan yang kita buat nggak akan melenceng jauh dari konsep. Paling nyenggol kanan-kiri dikit dan nggak terlalu signikfikan efeknya.

2. Kalau udah terserang writer’s block yang cukup parah, menurut saya nggak ada salahnya balik ke bab satu. Minimal baca-baca. Kenapa? Supaya kita ingat motivasi dan passion kita menulis cerita itu. Biasanya, kan, di awal-awal kita semangat menjalankan rencana kita karena idealismenya masih tinggi. Pas di tengah-tengah, semangatnya menurun. Itu wajar. Emosi manusia nggak pernah stabil. Apalagi kalau banyak gangguan, dari dalam maupun dari luar. Dan itu bisa berpengaruh ke konsistensi kita dalam berkarya. Makanya, penting banget untuk ingat alasan kita menulis cerita itu. Supaya termotivasi lagi.

Tapi perlu diingat, setiap penulis punya pengalaman yang beda-beda. Itu tadi pengalaman saya saja, sih. Yang tahu masalahnya, kan, cuma kita sendiri. Otomatis yang tahu solusinya, ya, kita sendiri juga. Semisal ada saran dari penulis lain, boleh juga, sih, diterapkan. Kalau memang sesuai dengan masalah kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.