Apakah Saya Sudah Menjadi Seorang Minimalis?

Menjelang akhir tahun… saatnya introspeksi. Mengingat-ingat apa saja yang saya kerjakan sepanjang 2021 ini, bagaimana pencapaian-pencapaian saya, dsb. Terdengar serius banget, ya. Padahal sehari-hari saya begini-begini saja. Hanya menggarap tugas-tugas rumah tangga, mengurus anak.


Namun ada satu keinginan yang sudah saya gaungkan sejak lama: menjadi minimalis. Mewujudkan hal ini seharusnya tidak rumit. Contoh saja Fumio Sasaki atau minimalist lainnya yang tanpa ragu menjual sebagian besar barang-barang miliknya. Yang penting barang sisanya yang disimpan jumlahnya cukup dan benar-benar dibutuhkan.

Tapi, fakta di lapangan tidaklah demikian. Banyak hambatannya. Misalnya, nih saya sudah mengeluarkan sebagian isi lemari. Seharusnya, apa yang sudah saya eliminasi tidak balik lagi ke lemari, dan tidak ada barang baru lagi jika memang tidak dibutuhkan. Tetapi karena belum ada pihak yang mengambil barang yang siap didonasikan, akhirnya barang-barang preloved itu menumpuk. Daripada rusak karena debu atau hewan-hewan pengganggu di rumah, saya amankan lagi di lemari.


Sudah begitu, sulit menolak pemberian orang. Antara ga enak sama yang ngasih dan mikir “mungkin nanti saya akan membutuhkannya”. Misalnya, kadang ada acara tertentu yang mengharuskan saya tampil seragam dengan banyak orang, seperti acara nikahan. Belum tentu saya punya pakaian atau printilannya yang sesuai dress code. Jadi, barang apapun, entah jilbab atau bros, yang diberi orang lain saya simpan buat jaga-jaga di kemudian hari. Siapa tahu diperlukan. Ketimbang repot cari sana-sini, rasanya lebih baik saya nyetok dari sekarang.
Jadi selain sulit menolak pemberian orang, juga khawatir kalau sewaktu-waktu saya bakal membutuhkan barang tertentu.


Saya pun menyimpulkan. Menjadi minimalis tidaklah mudah. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu.

  1. Ubah mindset kita. Pahami apa itu minimalis atau minimalisme, apa saja jenisnya, jenis minimalis mana yang akan kita anut.
  2. Lakukan perlahan karena kita sedang dalam proses belajar. Minimalis itu membuat kita belajar banyak, loh. Belajar memilah barang, melepaskan barang, menolak pemberian orang, menahan nafsu belanja, dll.
  3. Tidak boleh sombong. Jangan merasa diri sudah benar dengan menjadi minimalis. Karena apa yang kita pilih dan lakukan bisa saja salah di mata orang lain.
  4. Belajar menolak dan berpikir bahwa besok bukanlah hari ini. Segala sesuatu bisa berubah dengan cepat. Apa yang saya miliki sekarang belum tentu dibutuhkan tahun depan.
  5. Menjadi minimalis hari ini demi hari esok yang melegakan. Serius, punya banyak barang, punya banyak pikiran, sangat menguras tenaga. Kebetulan, saya orangnya kurang bisa apatis, jadi satu saja barang tidak terpakai masih ada di rumah, bisa dipikirin terus. Harus disalurkan ke mana? Bagusnya di-upcycle jadi apa?Sekurang-kurangnya, seperti itulah jatuh-bangunnya saya berusaha menjadi minimalis. Berusaha mengurangi dan memilah barang, mendaur ulang barang lama, juga menahan keinginan untuk menambah barang baru. Saya belum menjadi seorang minimalis, tetapi sedang dalam perjalanan ke arah sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.