Ananas Taart

Toserba penuh. Jalan ramai. Seperti itulah pemandangan menjelang bulan puasa di Cicalengka. Menyambut bulan puasa sama halnya dengan menghadapi kiamat. Orang-orang pada keluar rumah, riuh di jalan dan pasar. Ada yang berbelanja buat sahur dan buka di hari pertama puasa. Ada juga yang berbelanja bahan-bahan kue buat lebaran.

Tahun kemarin, saya adalah satu dari sekian banyak orang yang mengisi keranjang belanja dengan berkantong-kantong terigu dan margarin. Belum ditambah bahan-bahan lain. Saya dan mama biasanya membuat kue sekitar seminggu sebelum lebaran. Namun kami sengaja belanja lebih awal supaya nanti kami tidak harus berdesakan di toko bahan kue atau toserba. Meski tidak jarang juga kami kekurangan bahan dan ini membuat kami terpaksa mengantre di toko bahan kue di pasar.

Tahun ini, kesibukan saya tidak seperti itu. Alih-alih belanja bahan kue, saya malah berhadapan dengan laptop setiap hari, dari pagi sampai malam. Ada kerjaan yang harus segera diselesaikan. Membuat saya sampai kepikiran untuk tidak membuat kue apa-apa saking sibuknya.

Tapi saya juga tidak bisa menahan diri untuk membuat kue. Mungkin ini semacam insting seorang perempuan yang sudah menikah. Ditambah sejak awal kehamilan saya kepengin banget makan nastar bikinan mama. Gara-garanya, semua orang mengingatkan saya untuk tidak makan nenas. Padahal di awal kehamilan saya sering mual. Pikir saya, makan buah yang seger-seger termasuk nenas pasti bisa bikin enak. Tapi karena tidak boleh, saya cuma bisa gigit jari sembari mikir: kalau makannya dikit boleh nggak? Terus gimana kalau nanti saya makan nastar?

Berangkat dari situlah ketika akhirnya ada sehari bebas kerjaan, saya belanja bahan kue di minimarket. Sudah saya putuskan, saya akan membuat nastar dengan menggunakan resep dari mama. Hanya, kalau mama menggunakan selai nenas bogor bikinannya sendiri, saya menggunakan selai strawberry. Yang selai nenas pun ada. Beli jadi karena saya tidak menemukan nenas bogor di pasar dekat rumah plus nastar yang saya buat hanya sedikit. Bentuknya pun bukan bola dengan setangkai cengkeh di atasnya, melainkan model sarang burung (bird nest).

Kalau sebelum-sebelumnya saya mengasisteni mama, kali ini saya mengasisteni diri sendiri. Saya bikin kue benar-benar sendirian. Tapi karena sering membantu mama, saya jadi hafal cara membuat nastar. Dan begitu kuenya jadi, saya puas. Bukan hanya karena rasa kuenya persis nastar buatan mama. Abaikan juga masalah bentuk yang agak tidak rapi. Saya puas karena akhirnya bisa membuat kue kering sendiri.

Kalau mau nyoba, ini bahan-bahan nastarnya, versi saya.

500 gr mentega
600 gr tepung terigu serbaguna
50 gr maizena
3 btr telur
125 gr gula halus
selai nenas/ stroberi/ blueberi untuk isian
kuning telur untuk olesan

Cara membuat:
Campur semua bahan (kecuali selai). Aduk dengan tangan sampai adonan kalis.
Bentuk sesuai selera dan isi dengan selai. Olesi permukaan kue dengan kuning telur.
Panggang dalam oven hingga matang.

Nah, sembari mengunyah nastar, tercetus beberapa ide tentang kue ini.

  • Barang Wajib Lebaran

Mama tidak termasuk orang yang harus menunggu bulan puasa untuk bisa membuat kue. Syukurlah. Kami berasal dari strata ekonomi berkecukupan. Kalau sewaktu-waktu ingin makan nastar atau kue-kue lainnya, kami bisa membuatnya segera. Tapi tetap, saat hari raya setoples nastar selalu eksis di meja.

Di rumah-rumah lain pun pada saat lebaran kue nastar selalu tersaji. Ini membuat seolah nastar adalah barang wajib lebaran. Lebaran tidak akan komplit tanpa nastar. Nastar sama dengan ketupat. Kenapa? Persisnya saya tidak tahu. Dugaan saya hanya sebatas pada tradisi. Saya tidak tahu siapa yang memulai tradisi kue kering lebaran dan siapa yang memelopori kue nastar ini.

  • Manifestasi Kreativitas

Seperti yang kita tahu, bentuk nastar tidak hanya terbatas pada bola-bola mungil yang bagian atasnya mengilat sebab dioles kuning telur. Juga ditusuk cengkeh sebagai gagang atau ditabur parutan keju. Coba buka buku-buku resep kue kering, browsing di internet, atau perhatikan nastar yang dipajang di toko-toko. Bentuknya macam-macam. Selain model bulat yang klasik atau bird nest seperti yang saya buat, juga ada bentuk jambu, nenas, mangga, roll, dan keranjang.

Untuk isian pun tidak melulu selai nenas. Ada yang menggunakan selai strawberry atau blueberry. Semuanya sama-sama enak; tergantung selera. Atau, ada juga yang adonannya dicampur keju sehingga kulit nastar terasa gurih.

Begitulah keunggulan nastar. Bahan bisa dimodifikasi. Bentuk bisa bervariasi. Tergantung kreativitas setiap orang. Bagi yang suka kepraktisan, model bola dan bird nest sangat cocok diaplikasikan. Namun bagi mereka yang suka tantangan, model apa saja bisa dicoba. Atau jika kreatif, bisa membuat bentuk lain yang lebih unik.

  • Bahan Prestis dan Obrolan

Barangkali setiap pembuat nastar memiliki resep sendiri-sendiri. Ada yang didapat dari hasil eksperimen, resep dari majalah atau buku resep kue kering, atau resep warisan dari ibu atau nenek. Berhubung lebaran adalah ajang silaturahim, tidak tertutup kemungkinan kalau para tamu mencicip nastar yag disediakan nyonya rumah.

Di sinilah si nyonya rumah bisa menunjukkan kue nastarnya yang paling enak sedunia. Dia akan bangga mempersilakan tamunya mencicip nastar buatannya seraya menunggu pujian. Jika nastar buatannya memang enak, si tamu mungkin akan bertanya, atau bahkan meminta, resepnya.

Sebetulnya, ketiga poin di atas tidak hanya berlaku untuk nastar. Ada lagi kue kering yang jadi suguhan khas lebaran, yakni kastengel atau kue keju. Bentuknya bisa bervariasi, mulai dari bentuk panjang kotak sampai bentuk hati. Namun sepertinya kastengel tidak seberuntung nastar yang lebih populer dan lebih bervariasi lagi bentuknya. Apalagi nastar memiliki perpaduan rasa yang menarik: manis dan segar. [Foto oleh Brahm]

Published by Rie Yanti

I am a writer at Warung Fiksi. Please visit this page to know me more. Don't forget to circle me at Google+.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.