5 Hal yang Kudu Diingat dari Minimalis

Sebagai pengingat buat saya dan mungkin teman-teman yang pengin banget menjalani gaya hidup minimalis tapi masih bingung harus mulai dari mana, atau sering lupa, dan entah alasan apa lagi, ada beberapa poin yang bisa kita lakukan. Poin-poin tersebut bahkan masih bisa diterapkan setelah kita menjadi seorang minimalis, agar tidak menjadi maksimalis lagi.

1. Berpikir Sebelum Membeli

Sering mendengar atau membaca istilah-istilah berikut: limited stock, new release, must have item, recommended, sale, best priceā€¦ atau istilah-istilah lain semacamnya? Sering luluh dengan istilah-istilah tadi?


Itu semua adalah bahasa marketing yang mempersuasi kita untuk membeli barang yang dijual. Beda-beda istilahnya, tapi pada intinya sama: agar kita membeli barang yang ditawarkan. Padahal kita nggak butuh-butuh amat dengan barang tersebut.
Gambar juga kerap menggoda kita untuk belanja. Apalagi di IG. Di gambar, barang yang ditawarkan terlihat sangat menarik dengan model yang cantik atau ganteng. Pada kenyataannya, belum tentu barang tersebut cocok dengan kita.


Jadi, think before you buy. Ambil sikap tegas. Kalau tidak butuh, ngapain beli? Mengurangi asupan iklan ke beranda medsos kita juga bisa mengurangi jiwa impulsif kita dalam belanja.
Jangan lupa untuk memakai sampai habis produk skincare atau makanan yang sudah kita beli. Untuk produk fashion dan lainnya, pakai sampai tidak bisa dipakai lagi.


Beres-beres juga bisa kita lakukan daripada menggulir-gulir layar ponsel. Sekalian biar kita tahu, mungkin saja sebetulnya kita sudah punya celana panjang putih yang hendak kita beli. Daripada punya dobel, mendingan pakai yang lama. Atau kalau mau beli yang baru, pastikan celana putih yang lama itu sudah tidak bisa kita kenakan lagi.

2. Jangan Sungkan untuk Meminjam

Pengin bikin sate, beli pemanggang. Pengin belajar menjahit, beli mesin jahit. Padahal belum tentu semua itu bakal sering-sering dipakai.
Untuk beberapa barang seperti pakaian, saya lebih suka memiliki sendiri daripada meminjam atau menyewa. Kecuali baju pengantin, ya. Bukan sok kaya. Saya cuma khawatir kalau pinjam punya orang, saya tidak bisa menjaganya.


Namun setelah dipikir-pikir, kalau barang tersebut jarang sekali digunakan, mendingan pinjam atau sewa, deh, daripada menuh-menuhin ruangan. Untuk mengatasi rasa sungkan pinjam ke orang lain, kita bisa memberikan tanda terima kasih dengan memberikan makanan atau jasa yang sebanding dengan barang yang kita pinjam. Selain tentunya dengan menjaga barang tersebut agar tidak rusak.

3. Yang Kosong Biarkan Tetap Kosong

Manusia itu seringnya tidak kuasa menahan godaan. Punya banyak uang, belanja terus. Lihat ruang kosong, pengin mengisinya.


Stop berperilaku seperti itu. Jangan mentang-mentang di atas meja kosong, tidak lantas kita meletakkan sesuatu di atasnya. Sekalipun itu kecil ukurannya.


Biarkan yang kosong tetap kosong. Rumah juga butuh udara buat pemiliknya. Jangan meletakkan benda apapun di antara dua benda lainnya. Kecuali kalau harus atau perlu.

4. Pentingnya Meal Preparation

Kenapa saya ujug-ujug menyinggung soal makanan? Karena meal prep juga berdampak pada gaya hidup minimalis. Coba, deh, bikin daftar menu untuk seminggu, atau tiga hari saja, dan patuhi. Kemungkinan besar tidak ada sisa makanan, minim sampah, dan dapur atau kulkas bakalan rapi. Uang belanja juga tidak akan habis sia-sia.


Hidup minimalis itu tidak hanya mengurangi kepemilikan barang, guys. Tetapi juga mengurangi sampah. Istilah kerennya zero waste, atau less waste. Karena sebagian besar sampah berasal dari makanan dan plastik, kalau bikin meal prep, kita bisa berusaha untuk mengurangi sampah dari kedua sumber itu.

Mungkin untuk masalah ini saya akan membahasnya dalam satu postingan khusus supaya lebih jelas.

5. Koleksi atau Declutter?

Ini yang menjadi dilema bagi saya sekarang. Saya mulai berjilbab tahun 2016 akhir. Sampai sekarang, jilbab yang saya beli ada 6. Tapi kalau teman-teman buka lemari, niscaya kalian akan menemukan sekitar dua lusin jilbab.


Kenapa jumlahnya bisa empat kali lipat begitu?
Ada jilbab pemberian saudara. Selebihnya adalah jilbab milik ibu saya yang tidak dipakai lagi lalu saya angkut ke Surabaya secara nyicil. Tiap kali pulang, bawa beberapa. Begitu.


Malangnya, dari sekian banyak jilbab itu, yang terpakai tidak lebih dari 10. Apalagi pandemi begini, paling-paling saya perginya ke pasar atau untuk hal-hal mendesak. Jilbab yang dipakai juga yang itu-itu saja. Jadi bingung, deh, sisa jilbab lainnya harus dikemanakan. Niatnya, sih, disumbangkan. Tapi masih belum tahu mau disumbangkan ke mana.


Ini jadi pertanyaan bagi kita, bolehkah kita bergaya hidup minimalis sambil mengoleksi barang tertentu?


Menurut saya, sih, boleh-boleh saja. Asalkan bertanggung jawab. Maksudnya, kita membuat barang-barang tersebut berguna untuk kita. Caranya? Dengan memakainya. Hidup minimalis lebih mengedepankan aspek fungsional, bukan estetik atau afektif. Jadi jangan menyimpan barang karena terlihat bagus atau sayang. Lagipun kalau bagus atau sayang, ya, dipakai.

Itu beberapa hal terkait gaya hidup minimalia yang saya kumpulkan dan rangkum. Seharusnya dibahas satu per satu, ya. Berhubung ilmu keminimalisannya belum mumpuni, saya bagikan sedikit-sedikit saja. Selebihnya, masih harus dipelajari lagi.

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.