Yuk, Baca Buku di Rbm Kali Atas!

Di Cicalengka, kegiatan literasi adalah hal yang istimewa sekaligus tidak istimewa. Kegiatan membaca dan menulis merupakan sebatas tugas sekolah. Bukan sebuah hobi apalagi pekerjaan profesional. Tidak heran jika di Cicalengka tidak ada taman bacaan. Ada perpustakaan desa, tapi sepi pengunjung. Ada persewaan buku, tapi yang banyak digemari adalah komik. Penjual koran juga ada, tapi hanya segelintir orang yang benar-benar membaca berita dan artikel-artikel berbobot di dalamnya.

Saya sempat pesimis melihat ini. Waktu kuliah, karena buku yang diperlukan kebanyakan buku-buku (berbahasa) Prancis, saya lebih rutin meminjam buku ke CCF Bandung (sekarang IFI). Atau ketika menulis Satin Merah, saya larinya ke perpustakaan PSS dan Rumah Baca Buku Sunda milik Pak Asas. Tapi dari PSS itulah saya jadi tahu, bahwa sebetulnya di Cicalengka pun ada semacam rumah baca.

Bergegas saya menuju alamat yang dimaksud Atep Kurnia, penulis Sunda yang merekomendasikan saya rumah baca tersebut. Namun ternyata, rumah baca yang dimaksud masih merupakan perpustakaan pribadi milik Agus Sopandi. Meski begitu, koleksi bukunya banyak dan beragam. Dan mungkin karena saya terlihat kutu buku (hehehe), jadinya Pak Agus mau meminjamkan saya beberapa buku koleksinya.

Saya dan teman saya sempat kepengin tahu, dengan koleksi buku yang banyak, tidakkah Pak Agus ingin membangun sebuah rumah baca untuk umum? Karena mungkin saja di Cicalengka ada banyak penggemar buku namun hobi membacanya tidak tersalurkan. Gara-garanya sih karena di sana tidak ada perpustakaan umum. Mau ke perpustakaan desa, sungkan. Mau pinjem buku di perpustakaan sekolah, males.

Ternyata, Pak Agus punya niat membuat sebuah rumah baca. Kendalanya ada pada tempat dan manajemen. Hm, saya sebetulnya ingin sekali membantu beliau membangun rumah baca yang dimaksud. Namun saya sadar, latar belakang pendidikan saya bukan perpustakaan atau pengarsipan, melainkan sastra.

Sampai saya menikah dan pindah ke Surabaya tahun 2012, Pak Agus masih belum dapat merealisasikan keinginannya. Tapi setahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2013, keinginan Pak Agus akhirnya terwujud. Rbm Kali Atas dibangun dan resmi dibuka tanggal 28 Oktober di tahun yang sama.

Namun saya baru bisa menjenguk rumah baca itu bulan kemarin saat mudik ke Cicalengka. Sempat keliru, saya pikir rumah baca itu ada di lantai dua rumah Pak Agus soalnya nama rumah baca itu ada “atas-nya”. Ternyata, letaknya ada di samping belakang rumah. Dinamakan Kali Atas sebab rumah baca itu dibangun di atas sebuah kali kecil yang mengalir di belakang rumah Pak Agus.

Meski begitu, tidak tercium bau tidak sedap saat kami berada di sana. Malah suasananya nyaman untuk dijadikan tempat membaca. Hanya kadang-kadang, karena lokasi rumah Pak Agus ada di sebuah gang kecil, suka terdengar suara orang bercakap-cakap sambil jalan. Selain itu, ada sekolahan juga. Jadi jangan heran, jika berkunjung ke sini, teman-teman merasa terganggu karena riuh anak sekolahan.

Tapi justru hal itu menjadi potensi “wisata” bagi satu-satunya rumah baca di Cicalengka ini. Karena banyak orang lalu lalang dari atau menuju pasar, dekat rumah penduduk dan sekolah, Rbm Kali Atas tidak sepi pengunjung. Ada saja yang mampir dan meminjam buku. Barangkali ini juga dikarenakan koleksi bacaan di sini beragam. Mulai dari buku-buku serius, novel, komik, juga majalah wanita.

Untuk membangun rumah baca ini, Pak Agus dibantu beberapa relawan dari Unpad. Beliau sendiri tidak pernah malas terjun ke acara-acara bagi-bagi buku gratis untuk melengkapi koleksinya. Misalnya pada gerakan 1 Juta Buku untuk Anak Indonesia. Pak Agus juga menjalin hubungan sosial dengan para penggiat buku dan rumah baca lainnya seperti Sudut Baca Soreang.

Selain menyediakan tempat untuk membaca dan meminjam buku, Rbm Kali Atas juga mengadakan acara Wayang Literasi saban hari Sabtu, yang dipersembahkan oleh relawan Rbm Kali Atas. Kegiatan ini berisi ajakan membaca bagi masyarakat, terutama siswa sekolah (SD sampai SMA).

Sekalipun terlihat sudah “matang”, Rbm Kali Atas masih punya banyak PR, di antaranya pembenahan administrasi dan finansial. Tapi, tidak berarti Rbm Kali Atas tidak layak dikunjungi. Teman-teman bisa kok mampir ke sini. Baca-baca, pinjem buku, atau mendonasikan buku.

Yah, akhirnya Cicalengka punya tempat edukatif juga. Semoga saja kehadiran Rbm Kali Atas ini mampu membuat warga Cicalengka melek baca.

4 thoughts on “Yuk, Baca Buku di Rbm Kali Atas!

  1. Rie Yanti Post author

    Lha, aku sendiri nggak tahu, Pak. Kalau mau baca-baca paling ke Perpusda. Itu pun seringnya nemenin Kiara main, bukan baca buku, hehehe.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *