Sundea

Akhirnya saya bertemu lagi dengan cewek yang satu ini: Sundea. Sebelumnya, terakhir kami bertemu pertengahan 2010 lalu di launching Rona Kata. Setelah itu, ketemuan sebatas internet. Nah, Senin 14 November kemarin, saya dan Brahm berkunjung ke rumah Dea di sekitaran Setiabudi, Bandung. Kami ngobrol-ngobrol tentang penulisan, pastinya. Wawasan Dea tentang menulis banyak sekali. Maklumlah, dia kan sudah punya banyak pengalaman. Saat saya pertama kenal dia pun, Dea mengajari saya banyak hal tentang menulis.

Saya kenal Dea akhir 2008 silam, saat dia masih bekerja sebagai editor Tobucil. Saya suka menulis di sana dan main ke Tobucil. Sejak saat itu kami berteman, tapi jarang sekali bertemu secara fisik. Kendati demikian saya bisa tahu beberapa hal tentang Dea melalui karya-karyanya, di buku maupun blog. Salah satunya yakni www.salamatahari.com, sebuah zine-zine-an yang dikelola Dea seorang dan terbit saban hari Kamis.

Dea suka menulis sejak kecil. Semasa duduk di bangku SD sampai SMA, Dea menjadi pemimpin redaksi di majalah skeolahnya. Penulis Dunia Adin ini juga memutuskan untuk menjadi penulis sejak kecil. Lalu dengan dukungan dari ayahnya yang seorang kurator seni rupa, Dea mengambil kuliah di jurusan Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran.

Dea menaruh minta besar terhadpa dunia anak. Tengok deh, bahasa Salamatahari, sangat kekanak-kanakan. Isinya juga seperti manifestasi pandangan anak-anak mengenai berbagai hal yang ada dan terjadi di sekitarnya. Jernih dan lugu.

Selain rutin menulis tentang kesehariannya dan mengelola zine-zine-an, belakangan ini Dea juga sering menerima job membuat company profile atau copywriting. Tapi, Dea tidak pernah asal menerima job lho. Soalnya penyuka karya-karya Astrid Lidgren ini benar-benar bekerja dengan hati. Dea selalu mempertahankan idealisme dan ciri tulisannya.

Bukan berarti Dea tidak profesional. Justru dengan bekerja dengan hati itulah dia bekerja dengan sungguh-sungguh. Dea tidak akan setengah-setengah menggarap pekerjaannya.

Yang saya suka dari Dea adalah konsistensi menulisnya. Dari kecil sampai sekarang Dea tidak pernah bosan menulis. Tulisan-tulisannya pun tersebar di berbagai media. Buku, majalah, blog, dan lain-lain.
Berkarya memang tidak harus berupa buku. Zaman sekarang, apa-apa serba canggih dan praktis. Dea memanfaatkan hal tersebut untuk memublikasikan karya-karyanya. Penasaran? Coba deh buka www.salamatahari.com atau salamahati.blogspot.com. Dan kalau ingin tahu karya-karya Dea yang sudah dipublikasikan di media lain, bisa dilihat di salamataangin.blogspot.com.

Yang penting bagi Dea, sebagaimana yang selalu dia sampaikan pada saya, adalah keep on writing.

One thought on “Sundea

  1. Pingback: Merindu Jalan-jalan Bandung | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *