Seorang Teman Kecil

Dalam perjalanan ke Bandung beberapa waktu lalu, di jok seberang depan, duduk seorang ibu muda bersama anaknya yang berumur kira-kira enam bulanan. Meski saya juga membawa Kiara, namun kehadiran perempuan itu menarik perhatian saya. Jadi selama perjalanan, perhatian saya terbagi antara Kiara dengan perempuan beserta anaknya itu.

Menempuh perjalanan jauh sangatlah membosankan. Apalagi pada siang hari. Mau tidur terus, masa iya? Mau baca, bisa pusing. Diam saja, malah jenuh. Dengan adanya anak kecil yang harus diurus, setidaknya saya punya sesuatu untuk dilakukan. Dan karena Kiara sudah agak besar, saya jadi punya teman perjalanan juga. Terutama sekali jika suami harus tetap bekerja meski di dalam kereta.

Kalau Kiara bangun, saya mengajaknya bernyanyi, memainkan botol air mineral, atau melihat pemandangan yang kami lewati. Kami baru diam kalau Kiaranya tidur. Sesekali, kami juga menoleh ke jok seberang, ke si ibu dan anaknya. Kiara suka melihat anak-anak dan bayi. Ketika mengetahui ada anak sebayanya, dia senang sekali. Cuma, “temannya” itu seperti kurang merespon antusiasme Kiara. Mungkin masih kecil ya, dibanding Kiara yang sudah 10 bulan.

Memang tidak ada hal yang menarik dari ibu dan anaknya itu, selain keberanian si ibu pergi berdua bersama anaknya, dari Surabaya ke Kroya. Jujur saja, saya tidak berani pergi bersama Kiara untuk jarak sejauh itu. Kami pergi berdua paling ke pasar atau minimarket dekat rumah. Itu pun saya kerap kerepotan menjinjing belanjaan sambil menggendong Kiara. Lha, ibu itu malah kelihatan biasa aja meski angkaribung (banyak bawaan). Ya menggendong si kecil, ya menenteng kardus makanan, ya menggusur koper besar. Belum lagi tas bayi yang diselempang bersilangan dengan gendongan bayi.

Sampai sekarang, saya masih teringat dengan ibu itu. Bukan soal keberanian atau ke-angkaribung-annya, melainkan kebersamaannya dengan si kecil. Saya tidak tahu dia tinggal bersama siapa, siapa yang membantunya mengurus anaknya. Kami tidak ngobrol karena jarak joknya yang kejauhan.

Mungkin dia hanya tinggal bertiga bersama suami dan anaknya itu. Lalu setiap hari harus bangun subuh, nyuci, belanja, masak, memandikan anaknya, menemani anaknya bermain, menyusui, meladeni suaminya. Mungkin dia juga kerepotan mengurus rumah dan keluarganya, serta tidak punya waktu untuk diri sendiri, bahkan untuk ke kamar mandi. Mungkin dia harus menunggu anaknya tidur dulu untuk bisa buang air kecil. Mungkin dia sering melewatkan salat karena anaknya tidak bisa ditinggal. Mungkin dia sampai kelaparan karena tidak bisa makan kalau anaknya minta digendong terus. Sementara dia sendiri harus menyusui. Dan ibu menyusui perlu nutrisi yang banyak.

Barangkali bayangan saya salah. Barangkali ada orang yang membantu ibu itu di rumahnya. Saya membayangkan seperti itu karena saya mengalami sendiri rutinitas seorang ibu, lengkap dengan suka dukanya. Lagi mandi, Kiara bangun. Mau masak, tidak bisa meninggalkan anak bermain sendirian di kamar.

Sebagai jalan keluar, saya membawa Kiara mengerjakan berbagai pekerjaan. Saya nyuci atau mandi, Kiara saya dudukkan di ember mandinya lalu saya beri mainan. Tapi ini baru bisa saya lakukan setelah Kiara bisa duduk. Jadi sebelum Kiara bisa duduk, saya harus menunda nyuci atau mandi sampai Kiara tidur. Lalu kalau saya masak, Kiara saya taruh di stroller. Ini dilakukan sejak Kiara masih enam bulan, ketika saya harus membuat makanannya. Nah, kalau saya makan, Kiara saya dudukkan di baby walker atau stroller, berhubung kami tidak punya high chair. Sementara saya makan, Kiara saya beri finger food.

Tampaknya beres. Saya bisa mengerjakan apa saja dengan tenang. Tapi, jangan salah. Kadang hal ini malah lebih merepotkan. Saya harus bolak-balik mengingatkan atau membetulkan duduk Kiara kalau dia banyak bertingkah. Meski duduk di dalam ember, bisa saja Kiara terjungkal atau terbentur dinding kamar mandi. Atau bisa saja Kiara berusaha mengambil mainannya yang jatuh dari stroller hingga terjatuh.

Walau tinggal bersama mertua dan ada asisten rumah tangga, saya berusaha tidak merepotkan orang lain. Kalau ada yang mau membantu, ya bagus, hehehe. Tapi kalau tidak ada, ya sudah, kerjakan saja sendiri. Repot, repot deh. Namanya juga punya anak.

Selain itu, saya pikir hal ini bisa menjaga kebersamaan antara ibu dan anak. Bagi banyak orang, sering-sering membawa anak dalam berbagai kegiatan bisa membuat si anak jadi manja sama ibunya. Namun buat saya, momen seperti ini sangat langka; mungkin hanya sekali dalam seumur hidup. Kelak, kalau Kiara sudah masuk sekolah, dia punya teman. Tambah besar, tambah tinggi jenjang pendidikannya, lingkup sosialnya pun kian luas. Bakal jarang ada di rumah. Lalu dia bekerja, meneruskan sekolah, menikah…

Punya anak itu seperti punya teman perjalanan. Sama-sama berangkat dari ketidaktahuan, sama-sama menemukan banyak hal baru, sama-sama bingung, sama-sama senang. Saya merasa beruntung bisa ada di rumah sebab bisa bersama si kecil setiap waktu. Kala harus pergi tanpa Kiara, saya merasa ada yang kosong dan pengin cepat-cepat pulang supaya kami bisa bersama-sama lagi. Padahal… kalau Kiara bangun, saya pengin dia tidur supaya saya bisa mengerjakan berbagai tugas. Hehehe.

Hm, dibalik rasa lelah, kesal, bingung, saya sangat bersyukur punya seorang teman kecil. Bisa saja kami kelak sering berantem, kalau Kiara sudah mengerti banyak hal. Sekarang saja Kiara suka ngamuk kalau saya larang main air atau enggan bobo. Namun untuk hari-hari ini, saya sangat senang dengan kehadiran Kiara.

2 thoughts on “Seorang Teman Kecil

  1. Mochamad Yusuf

    Mantab!
    Saya salut dengan istri saya apalagi sekarang. Di rumah tidak ada pembantu. Hanya kami, saya dan sitri, beserta anak-anak. Dan masih harus bekerja. Pulangnya malah lebih malam daripada saya.

    Reply
  2. Rie Yanti Post author

    Kalo anak2 sudah besar mungkin tdk merepotkan. Malah bisa ikut ngurus rumah. Tapi kalo anak2 masih kecil, kitanya yang repot. Terus, Pak Yusuf suka bantu istri ngurus rumah nggak? 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *