Selamat Tinggal, Barang-barang! Selamat Datang, Minimalis!

“Goodbye, Things”

Penulis: Fumio Sasaki

Tebal: 264 halaman

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Kalau lihat rumah berantakan, saya maunya beres-beres. Bukan sok rajin, tapi saya ini tidak suka melihat barang-barang berserakan. Apalagi kalau barang-barang itu sebetulnya sudah tidak dipakai lagi. Begitu juga kalau membuka lemari. Maunya mengeluarkan pakaian yang sudah tidak saya suka. Tapi, bagaimana kalau nanti dibutuhkan?

Halah, bingung! Saya butuh solusi yang tepat.Kebetulan ada buku bagus. Judulnya Goodbye, Things karya Fumio Sasaki. Saya sebetulnya malas baca buku nonfiksi. Namun buku ini tampak menarik.

Feeling saya ternyata tidak meleset. Setelah membaca buku ini, saya seperti mendapat pencerahan. Ini yang harus saya lakukan: menjadi minimalis.

Jadi, dalam buku ini Sasaki memaparkan bahwa menjadi minimalis berarti mengetahui apa yang benar-benar penting baginya. Dia sendiri dulunya memiliki banyak buku sehingga memenuhi apartemennya. Hingga suatu hari, editor di salah satu penerbit di Jepang ini memutuskan untuk berubah.

Ditambah, Jepang merupakan negara yang rawan bencana. Menurut Sasaki, benda-benda bisa menjadi puing yang membahayakan. Karena itulah dia mengurangi benda-benda miliknya. Dengan memiliki sedikit benda di rumahnya, Sasaki jadi bisa segera bersiap-siap jika terjadi bencana.

Dalam buku setebal 246 halaman ini, Sasaki juga menjelaskan bahwa sebetulnya semua orang terlahir tanpa membawa apa-apa. Ya, untuk melindungi tubuh, manusia memakai pakaian. Kebutuhan ini kemudian diikuti keinginan untuk tampil berbeda. Kita tidak cukup hanya mengenakan satu jenis atau warna pakaian. Kita butuh variasi.

Hal ini membuat kita membutuhkan banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sekaligus keinginan kita itu. Ya, segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Lambat laun, kita pun menilai orang lain dari materi. Semakin banyak barang yang dimiliki seseorang, semakin kita menganggap orang itu kaya. Dan kita acapkali terpengaruh. Kita tidak mau kalah. Kita pun ingin menunjukkan nilai diri kita.

Padahal tidak seharusnya begitu. Saya dulu pernah membayangkan kalau saya punya sedikit saja pakaian. Supaya lemarinya tidak kepenuhan. Khayalan ini belum kesampaian sampai sekarang. Namun ada satu prinsip yang saya pikir bisa mendukung hidup minimalis. Masuk satu, keluar satu. Misalnya, setiap kali saya membeli satu potong pakaian, harus ada satu potong pakaian yang keluar dari lemari.

Akan lebih efektif kalau saya merombak total isi lemari saya. Yakni dengan membuang pakaian yang tidak dipakai lagi. Sekalipun itu masih bagus atau pemberian orang.

Yang jadi masalah, kegiatan membuang barang ini yang tidak mudah dilakukan. Ada rasa sayang, atau khawatir kalau-kalau di kemudian hari saya membutuhkannya. Sasaki sendiri berkali-kali mengungkapkan masalah ini. Hm, dia dulu juga mungkin begitu ya. Perlu waktu yang cukup lama untuk membatasi kepemilikan barang-barang. Bahkan kita harus tega membuang barang yang kita sayangi. Sebab, dengan menyimpan banyak barang, selain menuh-menuhin ruangan, juga menyita waktu, tenaga dan uang kita untuk memeliharanya. Lebih baik semua itu kita alokasikan untuk hal-hal lain yang lebih esensial.

Diperlukan tekad yang kuat untuk berubah menjadi minimalis. Serta dukungan yang kuat dari senior, alias orang-orang yang sudah menjalani hidup sebagai minimalis. Ya kan?

Tapi melalui Goodbye Things ini pun saya rasa kita punya teman untuk berubah. Sasaki menulis buku ini dengan jujur dan jelas. Laki-laki 35 tahun ini dengan jujur menceritakan betapa buruk hidupnya ketika masih menghuni apartemennya yang sarat barang. Dan sekarang dia merasa hidupnya jauh berbeda setelah menjadi minimalis. Walaupun, menurut saya, dia tergolong ekstrem. Percaya atau tidak, Sasaki hanya memiliki tiga potong kemeja? Sementara kalau saya buka lemari suami saya, ada lebih dari lima potong kemeja yang menggantung.

Tapi ya, Sasaki itu masih single. Wajar saja kalau dia bisa segitu minimalisnya.

Ya, kalau ingin menjadi minimalis sebaiknya sesuaikan dengan kehidupan kita. Yang penting, apa yang kita miliki, itulah yang memang kita butuhkan. Jangan membeli barang karena kita kepengin. Malah kalau bisa menyewa, sebaiknya menyewa saja. Seperti salah satu kiat menjadi minimalis yang ditulis dalam buku ini.

Setelah menulis Goodbye, Things ini, Sasaki yang dulunya orang biasa-biasa saja, kini jadi terkenal. Kita bisa mencontoh darinya. Selain Sasaki, sosok minimalis lainnya yaitu Steve Jobs dan Mark Zuckerberg. Kita selalu melihat penampilan mereka yang selalu pakai baju itu-itu saja. Tapi mereka menghasilkan sesuatu yang besar pengaruhnya bagi dunia

Begitu juga Rasulullah saw. Konon rumahnya sangat sederhana. Juga pakaiannya. Namun lihatlah, dan rasakan, bagaimana pemikiran dan sifatnya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap dunia, khususnya umat Islam. Lagipun, bukankah Islam mengajarkan kesederhanaan? Lantas kenapa banyak di antara kita yang hidup berlebihan?

Melalui Goodbye, Things, Sasaki menunjukkan bahwa menjadi minimalis adalah salah satu pilihan hidup, bukan tren gaya hidup. Jadi jika kita memutuskan untuk menjadi minimalis, lakukanlah dengan tekad yang kuat. Bahwa kita benar-benar ingin berubah.

Yang tidak kalah penting, dengan menjadi minimalis, kita jadi bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Mungkin itu juga yang membuat Sasaki merasa hidupnya jauh lebih baik.

Coba deh teman-teman baca buku ini. Niscaya teman-teman punya persepsi baru tentang barang-barang.

1 thought on “Selamat Tinggal, Barang-barang! Selamat Datang, Minimalis!

  1. Pingback: Minimalis Luar Dalam | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.