Reframing

Berani kotor itu baik. – Iklan Rinso

Kaki saya memar-memar. Awalnya, saya pengin perut saya langsing. Selain diet, olahraga juga harus dong. Tapi, saya malas olahraga kecuali senam aerobik. Sayangnya saya tidak tahu sanggar senam dekat rumah dengan keanggotaan yang tidak mengikat.

Kebetulan sekali di rumah ada hula hoop. Saya pikir, kenapa tidak saya pakai saja? Bukankah main hula hoop sama dengan olahraga?

Berhubung belum mahir, setiap kali latihan, hula hoop-nya jatuh. Kadang-kadang hula hoop-nya saya tahan supaya tidak sampai jatuh, atau kalau sampai jatuh pun tidak sampai menimpa lantai dengan keras.

Tapi karena hula hoop-nya terbuat dari rotan yang berukuran lumayan besar, ketika  hula hoop-nya saya tahan dan mengenai tulang kaki, kaki saya pun sakit. Dan malamnya (saya biasa latihan hula hoop pagi), kaki saya sakit dan memar-memar di beberapa bagian. Tidak sampai parah, tapi kalau kakinya tertekan atau terinjak, ya sakit juga.

Selain itu, tangan saya juga luka akibat cipratan minyak panas. Sebetulnya dari dulu saya sering mengalami masalah seperti ini. Dan selalu saya abaikan. Kena ciprat minyak panas tidak berbahaya. Paling-paling saya oleskan pasta gigi sebagai obatnya. Itu pun jarang sekali saya lakukan.

Sekarang pun begitu. Ketika sedang menggoreng, minyaknya nyiprat ke tangan. Saya cuma menggosoknya dengan tangan satunya lagi atau lap; tidak pernah saya obati. Tahu-tahu, di tangan ada bercak-bercak  bundar berwarna coklat. Tidak sakit, tapi cukup mengganggu penampilan.

Siapa sih yang mau luka seperti itu? Pastinya tidak ada. Saya juga tidak mau. Tapi kalau harus luka, walaupun sudah berusaha mengantisipasinya, bagaimana lagi?

Cuma, ada yang menghibur dari kejadian-kejadian itu. Memar-memar kan timbul akibat hula hoop. Nah, kenapa saya main hula hoop? Ya untuk olahraga. Dan kenapa saya olahraga? Ya biar perut saya langsing.

Terus kenapa tangan saya punya bercak-bercak coklat? Karena kena ciprat minyak panas. Dan kenapa saya kena ciprat minyak panas? Karena saya memasak.

Dalam dunia psikologi, ada yang namanya reframing. Reframing ini membuat kita melihat sebuah masalah dari sudut pandang lain. Misalnya saya bilang, “Kaki saya memar gara-gara latihan hula hoop.” Di sini saya mengatakan sesuatu yang negatif. Coba kalau saya tidak latihan hula hoop, kaki saya tidak akan memar.

Tapi apa jadinya kalau saya tidak latihan hula hoop? Perut saya nggak langsing-langsing dong. Dan bagaimana kalau saya tidak memasak? Ya tidak akan ada makanan yang bisa dimakan.

Melakukan reframing ini kadang tidak mudah. Karena begitu kita mengalami sesuatu yang negatif, selama beberapa waktu, atau selamanya, kita akan berpikir negatif.

Saya bukan motivator, jadi saya juga tidak akan memotivasi kalian untuk menerapkan reframing ini. Cuma, saya mau bilang, ber-reframing itu menyenangkan lho.


4 thoughts on “Reframing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.