Putri dan Bintang

Setiap sehabis sahur sambil menunggu waktu solat subuh, Putri selalu membuka tirai jendela kamarnya lebar-lebar. Kemudian dia memandang bintang-bintang lama-lama.

Ada satu bintang yang selalu membuat Putri enggan beranjak dari tempatnya. Bintang itu lucu, menurut Putri. Ia seperti punya mata yang selalu menggoda Putri.

Putri suka tertawa melihatnya. Ia senang sekali menemukan satu bintang yang lucu itu. Sampai-sampai Putri ingin memiliki bintang tersebut.  Setiap habis solat dia selalu berdoa seperti ini, “Tuhan, aku suka bintang kemerahan yang selalu mengerjap-ngerjap padaku. Aku tahu semua bintang di langit itu punyamu, termasuk bintang yang aku suka itu. Tapi aku ingin sekali memilikinya. Boleh ya, Tuhan?”

Putri tidak bosan-bosannya berdoa seperti itu. Bahkan ketika bulan puasa usai dan Putri jadi jarang sekali menatap langit subuh-subuh, dia masih saja berharap Tuhan mau memberikan bintang pujaan Putri.

Tuhan memang baik. Dia mengabulkan doa Putri dengan memberikan bintang yang diidamkan gadis tersebut. Putri senang bukan main tatkala bintang yang selama ini diinginkannya turun ke bumi dan menemui Putri. Bahkan mengajak Putri jalan-jalan. Ada perasaan nyaman, tenang dan bahagia yang dirasakan Putri saat bersama bintang itu. Hal itu terbaca sangat jelas oleh ayah dan ibu Putri.

“Mungkin sudah saatnya,” kata ibu Putri.

“Benar. Putri sudah menemukannya,” timpal ayah Putri.

Setelah puas jalan-jalan, Bintang berkata,”Aku senang bisa bersama-sama kamu, Putri. Tapi aku harus pulang.”

Putri tampak sedih. “Tapi aku pengin kamu terus di sini, Bintang.”

“Aku tidak bisa lama-lama di sini. Habitatku adalah langit. Dan sebetulnya aku ingin kamu ikut denganku.”

“Ikut kamu? Tapi tempat tinggalku di sini. Dan, bagaimana orang tuaku?”

Putri bingung sekali. Bintang jadi sedih melihatnya dan merasa bersalah pada Putri. Tapi sejujurnya, ia sangat sayang pada Putri.

“Aku sayang kamu, Putri,” kata Bintang.

“Aku juga sayang kamu, Bintang. Aku ingin ikut denganmu. Tapi aku juga sayang orang tuaku dan tempat tinggalku.”

Akhirnya karena tidak mau melihat Putri terus-menersu bersedih, bintang menyarankan supaya Putri membicarakan hal tersebut pada orang tuanya. Putri sempat takut ayah dan ibunya marah. Tapi bintang berjanji akan selalu mendukung Putri.

Putri memberanikan diri berbicara pada orang tuanya kalau dia sangat menyayangi bintang dan ingin ikut dengannya. Di luar dugaan, ayah dan ibu Putri memebri restu. “Tidak apa-apa, Putri. Kamu tidak usah mencemaskan kami. Kalau kamu bahagia, kami pun bahagia.”

Putri tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas, dia ingin memeluk semuanya untuk meluapkan rasa bahagia dan leganya.

Hari itu pun tiba, saat bintang menjemput Putri dan Putri harus meninggalkan semua yang menyayangi dan dia sayangi selama ini. Sebelum pergi, Putri berpamitan kepada mereka. “Terima kasih, Ibu, Ayah.”

“Sama-sama, Putri. Jaga diri baik-baik ya,” kata ayah dan ibu Putri.

Bintang pun tidak lupa berterima kasih pada orang tua Putri karena sudah memberi restu. “Tolong jaga Putri ya,” pesan ayah dan ibu Putri.

Bintang mengangguk. Kemudian ia memegang tangan Putri dan bersiap membawanya ke langit. Putri melambaikan tangan pada orang tua dan semua yang dia tinggalkan di bumi. Tidak lama kemudian dia dan bintang melesat ke langit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *