Pokoknya Menyusui

Kalau saja rumah sakit tempat saya melahirkan tidak pro ASI, Kiara mungkin sudah minum susu formula. Bayangkan saja, sampai Kiara berumur tiga hari ASI belum keluar. Cuma ada kolostrum. Itu pun jauh dari yang namanya deras. Belum lagi setelah umurnya tiga mingguan Kiara rewel terus. Menyusu, tidur, tidak sampai lima menit bangun lagi sambil nangis, menyusu lagi. Begitu seterusnya. Sesiangan, atau semalaman. Badan lelah bukan kepalang. Rasanya tidak ada lagi yang tenaga yang tersisa. Energi habis untuk menyusui Kiara. Sempat terbayang, kalau Kiara minum sufor, saya tidak akan seletih itu. Tapi, di kemudian hari saya pasti akan merasa sangat berdosa dan menyesal karena tidak menyusui anak sendiri.

Menyusui, sekalipun terlihat enteng dilakukan, ternyata penuh perjuangan. Perjuangan supaya ASI keluar lancar, menjadi orang yang sangat sabar dan bisa terus menyusui selama dua tahun. Apa pun yang terjadi. Dulu saya kira menyusui itu kegiatan yang biasa-biasa saja. Ternyata selama hampir tujuh bulan ini saya mendapati bahwa menyusui itu sangat istimewa. Ada sebuah kebanggaan melihat Kiara tumbuh besar, hanya dengan minum cairan putih yang tampak seperti susu biasa. Dan yang lebih penting lagi, ASI mencukupi kebutuhan nutrisi si kecil.

Makanya selama enam bulan bayi cukup diberi ASI. Sayangnya, masih saja ada ibu yang sudah memberi makan anaknya yang masih berusia di bawah enam bulan. Bahkan ada yang menyarankan bayi berumur satu bulan sudah bisa diberi makan pisang kerok. Kemungkinan, asumsi ini muncul lantaran bayi rewel terus, dan rewel itu acapkali dikaitkan dengan lapar. Ditambah dugaan lain yakni ASI yang keluar kurang memadai jumlahnya, maka bayi pun diberi makan walau belum waktunya. Padahal, bayi rewel mungkin karena kolik. Atau sekadar ingin mendapatkan ketenangan karena masih syok dengan kehidupan barunya di dunia. Dengan menyusui, bayi bisa mendapat ketenangan.

Dan ASI sama sekali tidak pernah kurang. Semakin sering disedot, jumlah ASI akan terus bertambah. Ada semacam interaksi antara perut bayi, payudara dan otak ibu. Saat bayi terus membutuhkan ASI, payudara ibu memberitahu otak supaya terus memproduksi ASI. Asalkan kondisi ibu fit lahir batin, ASI pun akan terus diproduksi.

Yang saya suka dari menyusui selama enam bulan lebih ini adalah sensasi yang muncul manakala sepasang mata bening menatap dengan inosen, tangan mungil yang meraba dada sampai bibir, serta senyum ceria yang mengembang di antara kegiatan mengisap dan menelan ASI. Walau kadang ada juga rasa kesal ketika kaki Kiara ikutan bergerak atau kepalanya yang menoleh ke layar komputer kalau saya menyusui sambil menulis. Makanya kalau sedang menyusui lebih baik saya hentikan kegiatan lain. Daripada acara menyusui jadi nggak bener karena perhatian Kiara teralihkan ke hal lain.

Atau, kalau Kiara maunya “ngegantung” terus selama berjam-jam sampai saya susah ngapa-ngapain. Dan karena saya menyusui sambil menggendong, jadinya lengan, punggung dan pinggang jadi pegal. Menyusui sambil tidur pun kadang saya lakukan. Tapi cara seperti ini malah lebih tidak nyaman. Lagipula, beberapa ahli mengatakan kalau menyusui sambil menggendong membuat berat badan bayi cepat naik. Pun dengan digendong, bayi tidak akan menjadi manja. Sebaliknya bayi akan merasa tenang dan percaya diri.

Dengan beberapa keistimewaan itu, saya kira tidak menyusui merupakan sebuah pilihan yang keliru. Jadi selama masih bisa menyusui, menyusuilah. Andaipun terjadi beberapa masalah dengan payudara atau ASI, pertimbangkanlan pemberian susu formula. Kalau ASI tidak keluar sementara bayi sudah lahir, jangan panik lantas melakukan tindakan pintas, misalnya dengan memberi bayi madu atau sufor. Tunggulah selama tiga hari, karena selama 3 x 24 jam, bayi memiliki cadangan makanan dalam tubuhnya, sehingga bayi tidak akan kelaparan. Kalau bayi menangis terus, gendong saja dan coba susui dia. Paling tidak, bayi mengisap kolostrum, dan justru ini merupakan bagian terbaik dari ASI.

ASI juga bisa mencegah bayi dari ikterus atau kuning pada bayi. Bayi baru lahir kerjanya tidur terus. Tapi jangan lantas hal ini membuat ibu jadi tenang. Bangunkan bayi setiap dua sampai tiga jam untuk menyusu. Kalaupun bayi harus disinar, jangan malas memompa ASI. Paling tidak setiap dua jam harus setor ASIP supaya bayi bisa menyusu terus walau harus disendok, sehingga kadar bilirubinnya cepat turun.

Menyusui adalah hak seorang ibu untuk menunjukkan kasih sayang pada anaknya. Apalagi zaman sekarang, menyusui merupakan semacam kegiatan prestis. Ibu menyusui pun difasilitasi. Mulai dengan tersedianya minuman khusus ibu menyusui, krim untuk merawat puting, celemek menyusui sehingga menyusui bisa dilakukan di tempat umum. Baju menyusui pun memiliki desain yang beragam, tidak melulu blus atau daster berkancing depan. Selain itu, beberapa tempat umum dan kantor menyediakan pojok laktasi atau tempat memompa ASI. Jadi, ibu bekerja sekalipun bisa tetap menyusui anaknya. Bahkan ASI yang mereka perah bisa diantarkan melalui jasa kurir. Biasanya yang menjadi kurir ASI adalah para ayah. Di Jakarta, tidak selalu begitu, karena sebuah usaha jasa kurir menerima pengantaran ASI dari kantor tempat ibu bekerja ke rumah.

Kalau ibu punya masalah dalam menyusui, misalnya tidak tahu pelekatan yang benar atau bayi mogok menyusu alias nursing strike, selain berkonsultasi ke dokter, juga bisa meminta bantuan pada konselor laktasi melalui AIMI atau Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.

Tuh, kan, tidak ada lagi alasan untuk tidak menyusui. Apalagi kalau anaknya masih mau menyusu. Satu lagi yang saya sarankan, jika ibu akan melahirkan, sebaiknya cari dokter atau bidan, serta tempat bersalin yang pro ASI. Sehingga ibu termotivasi untuk menyusui si buah hati.

Selamat menyusui 🙂

3 thoughts on “Pokoknya Menyusui

  1. Pingback: Puasa bersama Kiara | rie yanti

  2. Pingback: Nugget Tempe Keju | rie yanti

  3. Pingback: Pakansi Ning Semarang (Bag. 2: Keliling Semarang) | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *