Pemenang Hadiah Utama

Jodoh, mati, dan rezeki ada di tangan Tuhan. Meski kita sudah berusaha mendapatkan jodoh dan rezeki, atau menghindari maut, jika Tuhan sudah menghendaki, apa pun bisa terjadi di luar kekuasaan kita. Saya tidak bermaksud menceramahi. Kebetulan saja saya punya pengalaman yang membuktikan petuah tadi.

Dulu saya suka ikut jalan santai di Cicalengka. Saya tidak akan menyangkal kalau saya kepincut hadiah utamanya. Apalagi salah seorang sepupu saya pernah ikut acara begini dan mendapat sepeda motor. Jadi, kenapa saya tidak mencoba peruntungan dengan cara seperti itu? Siapa tahu dapat hadiah utama.

Jadi kalau ada pengumuman acara jalan santai, saya langsung daftar. Dengan kupon di tangan, bertualanglah saya dan keluarga saya di ranah Cicalengka. Capek, pasti. Tapi saya ambil hikmahnya saja: badan sehat, kaki kuat, dan jadi mengenal daerah-daerah Cicalengka yang belum atau jarang saya jamah. Dan tentu saja berharap dapat hadiah. Sudah capek-capek ikutan, masa tidak menang?

Seperti lima tahun yang lalu. Saya mendengar pengumuman tentang acara jalan santai yang diselenggarakan sebuah organisasi pemuda di Cicalengka. Hadiahnya antara lain magic com, setrika, handphone, dan hadiah utama berupa kulkas satu pintu. Dengan harga tiket yang cuma lima ribu perak, siapa saja bisa ikutan. Sehingga saingan saya pun banyak. Tua-muda, kalangan bawah-kalangan menengah, anak sekolahan-umum, dsb. Belum lagi sepupu saya yang lainnya dan kakak ipar saya juga ikut. Namun saya tidak putus asa. Barangkali Tuhan berbuat baik pada saya walau di rumah sudah ada kulkas. Apalagi saya tidak berbuat curang dengan menitipkan kupon undian kepada peserta lain. Beneran saya jalan kaki keliling separuh Cicalenga, bukan ongkang-ongkang kaki di rumah.

Setelah capek keliling-keliling Cicalengka selama kira-kira dua jam, para peserta berkumpul di lapangan sambil dihibur lagu-lagu pop dan guyonan sang MC. Sesekali jantung berdebar-debar tatkala muncul sesi pengumuman pemenang. Belum masuk hadiah utama. Bagian ini selalu menempati jam terakhir ketika para peserta sudah bosan dan lelah menunggu.

Sampai hampir waktu adzan lohor, masih banyak hadiah yang akan dibagikan. Di tangan saya ada dua potongan kupon, milik saya dan sepupu saya yang tidak bisa ikut jalan-jalan karena harus menghadiri acara keluarga. Keduanya belum terlepas dari tangan saya. Pinggirannya sudah lecek karena saya mainkan terus sepanjang acara.

Tidak ada yang bisa saya lakukan selain memainkan kupon-kupon tersebut. Setiap kali tiba pengumuman pemenang, saya duduk tegak sambil memegang kupon di depan mata dan memasang telinga baik-baik. Begitu nomor kupon yang disebutkan pembawa acara bukan milik saya atau sepupu saya, saya kembali membungkukkan badan dan memejamkan mata.

Ketika jeda lohor, kakak ipar saya pamit pulang duluan, takut anaknya yang ditinggal di rumah rewel. Dia menitipkan potongan kuponnya pada saya. Saya yang masih penasaran tetap tinggal sambil kembali jajan.

Tiga kupon masih berada di tangan saya. Saya pelototi semua nomornya. Mencoba menerawang nomor mana yang membawa keberuntungan, nama siapa yang akan menggondol hadiah utama atau minimal hadiah hiburan. Kalau tidak ada yang menitip, saya juga akan pulang. Saya enggan menunggu sendirian. Apalagi setelah acara dilanjutkan, pembawa acara tidak kembali mengumumkan siapa saja yang mendapatkan hadiah. Hiburan lagi, dan saya sudah muak dengan yang namanya hiburan.

Lalu acara kembali dilanjutkan dengan mengundi kupon. Kupon demi kupon keluar dari kotaknya. Pemenang demi pemenang menghampiri panggung dan mengambil hadiah. Tinggal tiga hadiah lagi dan satu hadiah utama setelah para peserta memprotes pihak panitia karena pengumuman pemenang diselingi hiburan melulu.

Tidak satu pun nomor yang saya genggam mendapatkan ketiga hadiah hiburan itu. Saya pun bersiap-siap pulang. Mungkin saya tidak akan menang. Toh di rumah sudah ada kulkas. Begitu juga kakak ipar dan sepupu saya; mereka juga sudah punya kulkas walau tidak sebagus kulkas baru.

Saya mulai melangkah meninggalkan lapangan saat seorang panitia mengaduk kotak berisi potongan-potongan kupon undian. Saya yakin, tidak satu pun dari kami bakal memenangkan kulkas satu pintu itu. Namun dalam hati penasaran juga, siapa yang beruntung mendapatkan hadiah utama.

MC membacakan nomor kupon dan nama pemenangnya. Saya memasukkan kupon milik saya, kakak ipar, dan sepupu saya ke dalam saku dan mengikuti peserta lain yang berjalan pulang dengan lesu.

Tiba-tiba terdengar suara orang-orang bersorak. Saya menoleh. Seorang anak berada di depan panggung dan diam saja. Mungkin dia yang memenangkan hadiah utama. Tapi kenapa dia diam saja, bukannya naik ke atas panggung untuk menerima hadiah itu?

Kemudian saya mendengar pembawa acara mengatakan, “Tidak sah.” Orang-orang kembali bersorak. Rupanya anak itu tidak membawa potongan kupon. Lalu tidak tahu kenapa, saya membalikkan badan dan kembali berjalan ke dekat panggung sambil mengeluarkan ketiga potongan kupon yang sudah lecek, yang tadi sudah saya masukkan ke dalam saku.

Di atas panggung, panitia kembali mengaduk potongan-potongan kupon undian dan membacakan nomor kupon yang dia ambil. Saya sempat diam seperti dihipnotis. Untungnya saya cepat sadar. Tidak ada gunanya diam saja. Pembawa acara menghitung mundur dengan cepat. Memanggil sang pemenang untuk segera menukarkan potongan kupon undian.

Saya tidak percaya, tapi ini betulan terjadi. Buru-buru saya berlari menghampiri panggung dan menyerahkan salah satu potongan kupon undian. Kemudian pembawa acara dan panitia meminta saya naik ke atas panggung untuk menerima hadiah.

Bukan saya yang mendapatkan hadiah utama. Melainkan sepupu saya, yang tidak ikut jalan-jalan, yang menitipkan kuponnya pada saya. Saya bisa saja mengabaikan kemenangan tersebut. Tapi saya tidak sampai hati pada sepupu saya. Ini sudah rezekinya.

Berarti betul kan, kalau Tuhan menghendaki, apa saja bisa terjadi.

3 thoughts on “Pemenang Hadiah Utama

  1. Rie Yanti Post author

    @Pak Yusuf: Ya saya kasih, Pak. Itu kan rezeki sepupu saya. Habis itu, saya dikasih hadiah balik sama dia. Hehehe.

    @Sandra: Makasih ya. Segera ke “TKP”.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.