Pakansi Ning Semarang (Bag. 3: Pulaaang…)

Hari kedua, tujuannya adalah Wonderia dan wisata religi selain ke MAJT sehari sebelumnya. Saya harap Kiara bisa bersenang-senang di Wonderia. Wonderia adalah semacam taman ria mini. Di sini ada bom-bom car, komidi putar, rumah hantu, dan aneka wahana permainan lainnya. Meski untuk bersenang-senang itu kami harus mengantre karcis atau berebut wahana dengan pengunjung lainnya.

Ternyata… dugaan saya meleset amat jauh. Wonderia sepi sekali! Padahal kami sampai di sana pukul 10 pagi. Seharusnya sudah banyak pengunjung. Apalagi saat itu hari Sabtu. Namun yang ada: komidi putar menanti ditunggangi, kereta halilintar berharap ditumpaki oleh pengunjung dengan jeritan-jeritannya, bom-bom car menunggu disetiri. Yang lebih kasihan, ada anak-anak TK pentas drumband, yang menonton adalah orang tua mereka sendiri.

Saya dan suami juga terbengong-bengong dengan kejutan ini. Tapi kami sudah kadung datang kemari, jadi bersenang-senangnya pun diteruskan. Kami naik bom-bom car dan komidi putar. Dan entah karena suasananya tidak menyenangkan, entah karena tidak suka, Kiara tampak tidak bersemangat. Dia tetap cerewet dan lincah, tapi tidak seperti waktu berenang dan bersepeda.

Kami di Wonderia tidak lama. Setelah makan siang, kami ke berbagai tempat peribadatan yang ada di Semarang, misalnya ke Klenteng Grajen dan Gereja Blenduk. Cuma sebentar-sebentar mengingat cuaca panas sekali dan waktu yang agak sempit, sementara masih ada beberapa tempat yang ingin kami kunjungi.

Setelah seharian panas-panasan di luar, kami kembali ke kamar hotel. Sambil menunggu sore buat berenang lagi, kami tiduran. Kiara malah tidak mau tidur. Begitu waktunya berenang, dia malah tidur. Terpaksalah, setelah setengah jam Kiara tidur, kami bangunkan. Selain juga supaya di kereta nanti dia tidur pulas daripada rewel seperti waktu berangkat. Cuma efeknya, Kiara tidak semangat berenang. Padahal di kolam hanya ada kami bertiga.

Kelar magrib, kami beli makan di luar. Pilihannya kali ini adalah tahu gimbal. Kemarin kami tidak jadi wisata kuliner. Saat mau pulang, baru beli makanan khas Semarang. Tahu gimbal ini rasanya enak sekali. Terdiri dari tahu goreng, telur ceplok, lontong, kubis dan kecambah mentah, plus gimbal alias bakwa udang, tahu gimbal nyaris biasa saja. Tapi sambal kacangnya yang ditambah petis… yummy! Enak sekali. Dan mengenyangkan. Porsi saya dan suami diambil sedikit buat Kiara. Minus sambal kacang. Namun biar porsinya berkurang, kami merasa kenyang.

Saatnya berkemas-kemas pulang. Periksa kamar mandi, periksa lemari. Tidak boleh ada barang yang ketinggalan, selain sampah. Kiara sudah tidur. Semoga saja dia tidak banyak bangun di kereta.

Kami ke stasiun naik taksi. Di sana, keretanya sudah menunggu. Padahal waktu keberangkatan masih satu jam lagi. Tapi tidak apa-apa, jadi kami tidak ketinggalan kereta.

Dan akhirnya kami sampai di rumah. Kiara banyak bangun selama perjalanan pulang. Dan saya ketularan flu. Mana cucian banyak. Pembantu tidak masuk. Oalaaaah…

Oh ya, siangnya kami makan oleh-oleh. Wingko babatnya sih enak-enak saja. Terdiri dari rasa orijinal, coklat, kelapa, buah dan duren. Sayang, ukurannya terlampau mini, jadi tidak mengenyangkan buat penggemar wingko babat seperti saya. Sedangkan lumpianya… Alot bin atos (keras). Rasanya juga biasa saja. Mendingan beli di Surabaya aja deh. Atau mungkin karena yang saya beli ini versi beku?

Tidak tahu juga. Yang jelas, liburan di Semarang ini mengesankan sekali. Hari-hari serasa milik kami bertiga. Dan alhamdulillah Kiara tetap sehat sampai rumah, meski batuk pileknya masih ada sedikit. Cepet sembuh ya, Nak, biar kita bisa jalan-jalan bertiga lagi 🙂

One thought on “Pakansi Ning Semarang (Bag. 3: Pulaaang…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *