Pakansi Ning Semarang (Bag. 2: Keliling Semarang)

Kiara bangun begitu kami sudah di kamar hotel pukul 10 malam. Dia cengar-cengir senang. Entah karena bisa berguling-guling lagi, entah karena suasana hotel yang sangat berbeda dengan kamar kami.

Keesokan harinya, petualangan pun dimulai.  Tujuan kami adalah Masjid Agung Jawa Tengah sekalian suami salat jumat, Lawang Sewu, dan Simpang Lima. Masjid Agung berada jauh dari hotel. Kami harus menumpang angkot dua kali.

Cuaca yang panas ditambah capek menemani Kiara bermain, saya haus bukan kepalang. Air mineral saja tidak cukup untuk mengatasi kerongkongan yang kering. Saya pun beli es campur di kantin masjid seraya menunggu suami selesai salat jumat. Rasanya tidak enak sih. Tapi lumayanlah daripada kehausan.

Kelar mengunjungi masjid agung, kami bertiga ke Lawang Sewu. Meski merupakan peninggalan Belanda, menurut saya tempat ini tidak begitu menarik selain jumlah pintunya yang sangat banyak. Selain itu, tidak ada apa-apa lagi. Namun bagi Kiara, tempat ini menarik, karena dia jadi bisa berjalan melalui banyak pintu. Kiara bahkan tidak merasa takut dengan kesan angker Lawang Sewu.

Kesan yang kurang menarik ditambah banyaknya pengunjung membuat kami tidak betah berlama-lama di sini. Dan karena ada rencana lain di hotel, kami pun bergegas pulang.

Rencana itu adalah… berenang! Saya ingin tahu antusiasme Kiara di kolam renang. Dia pernah berenang bersama budenya di Darajat Pass, Garut. Tapi ketika itu dia masih kecil. Sekarang Kiara sudah besar. Mungkin dia bakalan senang berenang.

Benar saja. Kiara senang sekali berenang di kolam renang hotel bersama ayahnya, lalu gantian sama saya. Kebetulannya, kolam renang sepi. Hanya ada tiga tamu di situ. Kami pun jadi bebas berenang. Tapi sebetulnya saya sih sekadar jalan-jalan sambil memegangi Kiara. Saya bisa renang, tapi gaya batu. Hehehe. Sudah tua begini malas belajar renang. Biarlah. Asalkan Kiara bisa. Maka dari itu kami mengenalkannya pada kolam renang sesering mungkin supaya kelak Kiara mahir berenang.

Habis berenang selama hampir satu jam, Kiara kedinginan. Saya panik. Mana Kiara belum sembuh. Lekas-lekas saya memandikannya dengan air hangat, mengoleskan minyak kayu putih ke badannya, memakaikannya baju, dan menyusuinya. Hingga akhirnya Kiara tidur nyenyak di bawah selimut. Padahal sehari-harinya dia tidak betah tidur memakai selimut. Mungkin karena kamar hotel adem dan di luar… hujan deras disertai petir.

Tadi sore waktu berenang, langit cerah sekali. Tiba-tiba saja langit berubah gelap magrib itu. Rencana ke Simpang Lima pun agaknya urung.

Untunglah sehabis magrib hujan reda. Kami bertiga pun menunaikan rencana jalan-jalan di Simpang Lima. Dari hotel, kami jalan kaki. Lalu beli nasi goreng. Kiara sudah makan bubur tim sebelum berangkat, jadi dia tidak perlu merasakan pedasnya nasi goreng yang kami santap.

Kenyang makan, naik sepeda tangdem. Tadinya Kiara mau digendong ayahnya. Namun melihat ada sepeda dengan sadel tambahan buat anak kecil di belakang setang kedua, akhirnya kami mendudukan Kiara di sadel itu. Sayang tidak ada sabuknya. Saya harus menjaga Kiara kalau-kalau dia bertingkah sampai nyaris jatuh. Tapi hal itu tidak terjadi meski Kiara senang sekali diajak bersepeda.

Saya juga senang di Simpang Lima ini. Suasana yang ramai karena ini merupakan pusat kota, ditambah mood yang bagus karena keceriaan keluarga, membuat saya jadi pengin jalan-jalan di sini terus. Tapi jam menunjukkan pukul sembilan. Kiara juga sudah tidur dalam gendongan saya karena tadi sebelum berangkat dia minum obat dulu. Kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel.

Tapi sebelumnya, beli oleh-oleh dulu. Karena besok belum tentu kami punya banyak waktu untuk beli oleh-oleh.

Di dekat hotel, ada pusat oleh-oleh. Ada toko, ada juga gerobak-gerobak jajanan. Mungkin seru tuh belanja di sana. Namun karena males kalau harus jalan kaki melewati hotel, kami belanja oleh-olehnya di pusat oleh-oleh di Simpang Lima. Di toko ini, barang-barangnya sedikit. Saya sempat bingung beli oleh-oleh apa. Selain itu, makanan khas Semarang kan juga ada di Surabaya. Setiap hari tukang lumpia semarang lewat depan rumah.

Tapi demi mengetahui perbedaan lumpia semarang dari Semarang dengan dari Surabaya, kami pun membeli yang kemasan beku, sehingga bisa lebih tahan lama dari yang biasa. Ditambah wingko babat kesukaan saya. Sudah. Hanya itu belanjaan kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *