Mudik

Bagaimana rasanya mudik?

Satu pertanyaan yang dulu saya ajukan bukan pada siapa-siapa. Hanya menjadi bahan pemikiran sendiri tanpa pernah mengalaminya. Setiap menjelang lebaran, saat sekolah atau kuliah mulai libur dan saya disibukkan dengan kegiatan membuat kue bersama mama, saya selalu heran, gimana rasanya mudik?

Saya berpikir seperti itu karena seumur-umur saya tidak pernah mudik. Ibu saya asli Cicalengka. Nenek saya juga tinggal di kota kecil ini (sekarang sudah meninggal dan dimakamkan tidak jauh dari rumah). Walaupun ayah saya dari Indramayu, dan sanak saudaranya ada yang tinggal di sana dan sekitaran Cikampek, kami tidak pernah mudik ke sana. Lebaran selalu di Cicalengka. Jangankan ke Indramayu, ke Bandung saja tidak. Pasalnya sanak keluarga di Bandung juga selalu berkumpul di Cicalengka kalau lebaran.

Jadi, lebaran atau bukan, bagi saya sama saja. Setiap hari tinggal di kampung. Pulang kuliah juga selalu ke rumah (kampus saya di Jatinangor, sekitar 40 menit dari Cicalengka). Setiap waktu bisa ketemu mama dan keluarga.

Baru tiga tahun terakhir ini saya mengalami mudik. Namun dalam kurun waktu tersebut saya hanya dua kali mudik, karena pada tahun pertama tinggal di Surabaya, saya hamil. Pertama kalinya mudik, apalagi bersama suami dan anak, merupakan mudik yang sangat mengesankan. Pada waktu inilah saya kembali ke rumah mama setelah hampir dua tahun tidak bersua keluarga besar. Saya sempat takjub melihat perubahan yang ada. Kondisi rumah yang lain, para keponakan dan sepupu yang tambah gede. Begitu juga sebaliknya. Keluarga saya takjub melihat perubahan pada diri saya. Soalnya saya sudah punya anak.

Seandainya saya belum punya anak atau Kiara mau diajak main sama keluarga saya, selama mudik itu mungkin saya akan sering melamun. Tempat favorit saya di rumah selain kamar adalah sofa merah dekat jendela. Di tempat itu saya biasanya melamun, menulis, memandang hujan, bermain dengan keponakan, makan, males-malesan sambil mendengar radio.

Namun kali pertama mudik itu saya tidak kangen-kangenan dengan si farah atau sofa merah. Kiara yang tidak mau diajak main oleh keluarga saya dan maunya nempel terus sama bundanya ini, membuat saya susah berkutik. Bahkan untuk mengambil air minum pun saya harus minta tolong kakak atau keponakan.

Lalu pada mudik kedua, yakni beberapa minggu yang lalu, kejadiannya hampir sama. Kiara tidak mau main sama siapa-siapa selain saya. Kalau ada om-omnya alias sepupu saya, baru dia mau turun dari pangkuan saya. Itu pun karena pertamanya dia dibujuk nonton Masha and The Bear serta main bola. Kalau tidak ada dua item favorit si centil ini, bisa-bisa selama di Cicalengka saya bukannya bisa rileks, malah tambah pegal.

Padahal seharusnya, saya dan mama bisa cerita-cerita lebih banyak dari tahun sebelumnya. Banyak sekali perubahan di rumah. Sedikitnya saya sudah tahu dari SMS atau telepon mama. Tetapi, dengan menyaksikan sendiri perubahan yang ada, saya penginnya cerita lebih banyak lagi. Sebabnya, banyak hal yang saya lewatkan. Dan mendengarkan atau membaca cerita melalui telepon atau SMS rasanya kurang komplit dibandingkan dengan menyaksikan sendiri.

Saya tidak pernah melewatkan waktu yang lama di Cicalengka. Tahun ini hanya tujuh hari. Tahun sebelumnya malah cuma enam hari. Saya akui, di Cicalengka saya malah kikuk karena terbiasa dengan situasi di rumah Surabaya. Saya tidak tahu di mana mama menaruh wajan, karet gelang, bahkan gula. Sehingga ketika memasak pun saya seperti memulai dari nol. Banyak nanya di mana bumbu-bumbu, peralatan masak? Belum lagi kalau Kiara mulai kumat sungkannya, yang mengharuskan saya tidak mengerjakan apa-apa selain menemaninya.

Namun, ibarat pohon, akar saya masih menancap di tanah Cicalengka, tanah kelahiran saya. Setiap kali mau kembali ke Surabaya, saat pamitan dan naik kereta, saya selalu menangis. Berat rasanya meninggalkan keluarga yang telah membesarkan dan menemani saya sampai saya masuk ke jenjang kehidupan yang baru yaitu pernikahan. Saya masih ingat ketika sepupu atau keponakan saya minta ditemani bermain atau ngobrol, mengalami kelucuan dan kenakalan mereka, obrolan sebelum tidur dengan mama, sampai ketika mama, kakak-kakak dan tante-tante saya antusias mempersiapkan pesta pernikahan saya. Semua terjadi dan dilakukan di rumah Cicalengka.

Dengan kata lain, saya tidak bisa melupakan rumah dan keluarga saya di Cicalengka.

Bukannya saya tidak betah tinggal di Surabaya. Saya suka keluarga baru yang hangat. Cuma, mungkin karena saya lebih lama tinggal di Cicalengka sementara di Surabaya ini baru tiga tahunan, jadinya saya suka kangen dengan suasana Cicalengka. Pagi yang dingin dan membuat saya punya alasan untuk menambah jam tidur atau menunda mandi, hawa yang sejuk, aneka jajanan yang mudah didapatkan, keluarga yang selalu siap membantu dan menemani.

Mudik adalah momen tahunan yang sangat berharga. Ketika saya dikangeni, disambut dengan baik. Terlebih lagi setelah saya punya anak. Kehadiran kami selalu ditunggu-tunggu. Seperti halnya saya yang selalu menunggu waktu mudik untuk bisa berkumpul dengan keluarga saya lagi, meski kami kalau mudik tidak pas lebaran. Kami sengaja menunggu waktu yang sepi demi keamanan (dan harga tiket normal kembali, hehehe). Apalagi kami membawa anak kecil. Walau selama perjalanan Kiara tidak rewel, tidak seperti tahun lalu, kami tetap harus mengutamakan kenyamanan baginya.

Risikonya, kalau mudik bukan pas lebaran atau libur sekolah, acara kumpul-kumpulnya pun jadi agak susah. Tapi tidak masalah kok, soalnya kakak-kakak saya tinggal tidak jauh dari Cicalengka. Satu di Ujungberung, satu lagi di Garut. Terus, tante-tante saya juga tinggal di sebelah rumah mama. Kami masih gampang ketemuan kalau saya pulang ke sana.

Pada akhirnya, saya jadi tahu bagaimana rasanya mudik. Kangen-kangenan dengan orang-orang tercinta, terkaget-kaget dengan perubahan yang ada, diperlakukan istimewa… Semuanya itu melahirkan perasaan sentimentil. Saya tidak peduli kalau ada yang bilang di Cicalengka tidak ada apa-apa, atau kalau ada yang berpendapat Bandung kota macet, masakan Sunda tidak menarik. Karena bagi saya, apa yang ada di tanah kelahiran, merupakan aset yang penting bagi hidup saya. Tanpa semua itu, saya tidak akan punya apa-apa.

Dan mudik adalah salah satu cara supaya saya tidak lupa dari mana saya berasal. Supaya saya juga melihat ke bawah dan tidak terus-menerus melihat ke atas.

3 thoughts on “Mudik

  1. Mochamad Yusuf

    Selamat ya, akhirnya bisa merasakan mudik.

    Justru saya tidak pernah merasakan mudik. Bahkan dulu saat ada kesempatan bisa mudik, saat kerja di SCTV saya diminta pindah ke Jakarta, saya tidak mau. Saya ingin selalu dekat dengan Ibu. Setahun terakhir saya hampir tiap hari mudik, karena harus jemput Zidan yang pulang sekolah ke rumah neneknya dulu.

    Ya, mungkin nanti saya rasakan adalah menunggu anak-anak mudik. Pasti ini sesuai yang menyedihkan. Apalagi kalau mereka tidak bisa mudik.

    Bandung, bagi saya tetap luar biasa. Meski tidak seluar biasa saat saya mengunjunginya pertama kalo di tahun 1991.

    Reply
  2. Rie Yanti Post author

    Siap-siap aja, Pak, kalo nanti anak-anak nggak bisa mudik. Tapi asalkan kitanya selalu care, anak-anak nggak bakalan lupa kok sama ortunya 🙂

    Bandung itu banyak berubahnya. Jangankan setelah saya tinggal pergi, selama saya di sana juga banyak yg berubah. Tapi Bandung selalu jadi tempat main yg asyik buat saya. Banyak kenangannya sih.

    Reply
  3. Pingback: Dan Kiara Pun Belajar "Terbang" | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *