Menyimpan Keseharian Kiara

Karena jarak yang jauh, keluarga saya di Bandung jadi tidak bisa mengikuti keseharian Kiara. Padahal anak ini banyak tingkah. Misalnya saja tidur gaya kung fu, memasukkan kaki ke dalam kaos, atau memarkir baby walker-nya sendiri. Sayang sekali kalau melewatkan tingkah-tingkahnya itu. Belum lagi kalau Kiara sudah memperlihatkan perkembangan motorik kasarnya seperti duduk, merangkak, atau berjalan.

Kiara 8 bulan

Paling banter saya mengirim foto Kiara ke mama dan saudara-saudara saya via Facebook. Atau ketika kami bertiga pergi ke Bandung, saya transfer foto, video dan rekaman suara Kiara ke hp mama dan laptop kakak saya. Memang, lebih puas kalau mereka melihat sendiri tingkah laku Kiara yang menggemaskan. Namun, apa boleh buat, hanya melalui foto dan videolah mereka bisa mengenal Kiara.

Mengikuti keseharian dan perkembangan anak merupakan momen sekali seumur hidup. Makanya penting sekali membuat dokumentasi keseharian anak dari waktu ke waktu. Untungnya saya ibu rumah tangga, bukan ibu bekerja. Sehari-hari tugasnya ya mengurus anak. Jadi kalaupun tidak sempat mengabadikan kebisaan Kiara, saya masih bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri. Saya tidak pernah rela kalau melewatkan satu pun kebisaan Kiara. Maunya selalu jadi orang pertama yang melihat tingkah unik si Penpen ini hehehe.

Keinginan saya sih, bisa menjepret Kiara setiap kali dia melakukan sesuatu yang unik. Tiap anak kan tingkah lakunya beda-beda. Gaya duduk Kiara saja lain dari yang lain. Yang jadi masalah, Kiara suka susah difoto. Begitu melihat hp, dia pasti merebut dan memainkannya sampai hp saya sering eror karena LCD-nya ditekan terus. Dan saya tidak bisa merekam sambil mengawasi Kiara. Lalai sedikit saja Kiara sudah melangkah ke mana, mengambil apa saja yang belum tentu aman dipegang anak seusianya.

Difoto sama ayahnya pun, sementara saya menjaga Kiara, seringkali gagal. Beberapa kali jepret, hasilnya tidak memuaskan. Gambarnya kabur karena Kiara tidak bisa diemlah, disuruh senyum malah mingkemlah, dan segudang faktor kegagalan lainnya. Namanya juga memotret anak. Atau kalau Kiara bertingkah lucu nan unik, sayanya tidak pegang hp atau kamera. Jadinya kesempatan itu sering terlewatkan begitu saja. Phew! Memotret Kiara itu tidak ubahnya memotret bintang jatuh. Suka nggak keburu. Sering gagal.

Ngomong-ngomong, dokumentasi anak tidak melulu berupa foto, video, atau rekaman suara lho. Ada yang mendokumentasikan telapak kaki bayi dengan cat air, misalnya. Sah-sah saja kok. Yang penting ada sesuatu buat dikenang di hari mendatang. Terus, cara menyimpannya pun tidak melulu di dalam album foto atau file komputer atau CD. Bisa saja dibuat scrapbook. Atau yang gampang: bikin blog. Tengok saja mom.isnuansa.com.

Yang penting, dalam setiap dokumen ada keterangannya. Paling tidak ada catatan 4w1h. Supaya tidak lupa.

Lalu, kapan saat yang tepat membuat dokumennya?

Kapan saja. Tidak harus menunggu sampai anak bisa tengkurap, berjalan, atau ketika dia sedang mandi atau meniup lilin pertamanya. Perkembangan motorik kasar memang perlu diingat. Tapi hal-hal kecil dalam keseharian pun tidak boleh diabaikan. Seperti yang saya bilang, tiap anak tingkah lakunya beda-beda. Kiara bisa memarkir baby walker, sementara mas-mas dan teteh-teteh sepupunya tidak bisa meski saat mereka seumur Kiara.

Nah, dokumen ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga. Bukan hanya buat orang tua, tetapi juga buat anaknya. Kelak, anak akan tertawa sendiri melihat foto masa kecilnya. Atau mungkin juga merasa malu, apalagi kalau dilihat teman-temannya. Hehehe.

Namun yang tidak kalah penting adalah meluangkan waktu bersama anak. Melewatkan kebersamaan dengan anak, menurut saya, jauh lebih menyenangkan daripada melakukan hal apa pun. Jikapun kegiatan ini tidak diabadikan dalam lembaran foto atau rol video, setidaknya bisa direkam di dalam kepala orang tua, tidak terkecuali anaknya.

Kiara 15 bulan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.