Menyesap Pagi yang Lain

Ada sebuah ritual yang saya lakukan beberapa hari belakangan ini: jalan pagi. Banyak yang bilang, jalan kaki baik bagi ibu hamil, terutama yang akan melahirkan. Selain membuat sehat dan tergolong olahraga yang aman, jalan kaki juga bisa turut memperlancar proses persalinan.

Awalnya subuh sehabis salat saya senam hamil di rumah. Jalan kaki biasanya saya lakukan pada sore hari. Namun saat sedang menggarap sebuah proyek menulis, waktu dan tenaga saya seakan terkuras. Entah berapa kali saya tidur larut malam. Besoknya badan saya pegal-pegal atau lelah sekali. Jadi paginya saya tidur. Ditambah kegiatan relaksasi sehabis senam hamil sangat mendukung saya untuk bangun siang, hehehe.

Makanya saya baru bisa jalan kaki pada sore hari, keliling kompleks. Suasana cukup tenang. Ada juga pemandangan yang bisa saya nikmati: anak-anak yang bermain di depan rumah atau bermain futsal setelah pulang sekolah sambil menunggu dijemput orang tua. Hanya, ada dua hal yang mengganggu. Pertama, sinar matahari sore yang menyembur wajah karena tidak semua pinggir jalan ditumbuhi pepohonan besar. Kedua, sebagian jalan kompleks ramai karena dilewati banyak kendaraan. Apalagi kompleks yang saya huni ini memiliki jalan pintas menuju jalan besar, sehingga meski agak jauh dari jalan raya, polusi tetap saja ada.

Jadilah acara jalan sore saya kerap terganggu oleh hal-hal semacam itu. Sayangnya lagi di sini tidak ada taman. Seandainya ada, saya pasti bakalan jalan kaki di sana. Udara segar, pemandangan cantik karena di taman biasanya banyak tanaman bunga. Benar-benar rileks dan sehat.

Atas pertimbangan itulah saya mengubah jadwal jalan kaki saya jadi pagi hari. Kecuali kalau perlu, baru saya keluar rumah pada sore hari.

Tadinya, waktu jalan pagi saya hanya sebentar. Sekitar 15 menit. Saya pikir, karena saya juga senam hamil ditambah sorenya kadang saya keluar juga, waktu segitu cukup untuk jalan kaki. Saya tidak tahu persis untuk ibu hamil bagusnya jalan kaki berapa menit. Ada yang bilang semampunya saja, 30 menit, atau diangsur (awalnya sebentar, kemudian waktunya ditambah). Saya hanya bisa menyimpulkan, paling tidak saya jalan kaki 30 menit, tapi ditambah senam hamil plus relaksasi dan latihan pernapasan. Itu cukup bagi saya, mengingat di rumah pun kalau tidak menulis, saya tidak diam melulu di kasur.

Kemarin pagi adalah awal mula saya jalan kaki 30 menit, di halaman rumah. Sengaja tidak keliling kompleks. Ada beberapa rumah yang memelihara anjing. Dikhawatirkan ketika saya sedang asyik-asyiknya jalan kaki, anjing itu keluar dan lari mengejar saya, sementara saya tidak bisa lari sekarang. Jadi, walaupun kalau jalan-jalan sore saya tidak pernah berpapasan dengan anjing-anjing tersebut, untuk amannya, saya jalan kaki di halaman depan rumah beberapa keliling. Kebetulan pagi kemarin saya menghabiskan waktu 30 menit.

Selama jalan kaki, pikiran saya melayang ke mana-mana. Membayangkan asyiknya ada taman di kompleks, bayi yang kelak lahir, sampai suasana di kampung saya dulu di Cicalengka. Pagi adalah saat yang ramai. Sejak pukul empat subuh, masjid bergaung, bahkan sampai lewat waktu salat subuh. Orang-orang dan ojek mulai menggilas jalan. Rata-rata adalah para pedagang di pasar. Di rumah saya pun pagi cukup sibuk. Paling tidak ada kegiatan memasak air, menyapu, mematikan lampu, dan mencuci piring atau pakaian.

Saya sendiri ketika masih tinggal di rumah orang tua saya, biasa bangun pukul lima. Salat subuh, olahraga sebentar di dalam kamar, lalu menyeduh susu atau teh plus madu. Agak siangan, makan bubur yang dibeli di perempatan dekat rumah. Bubur yang sederhana sekali dengan takaran yang tidak begitu banyak, tapi rasanya enak.

Saya biasa menikmati semua itu sambil duduk di sofa merah dekat jendela. Sambil memandang langit, menerka cuaca hari ini dengan mengamati pergerakan awan. Kadang awan menggumpal tebal dan lama sekali berarak hingga terbuka celah menuju langit. Tapi kadang awan berpencar, membuat saya selalu menduga kalau seharian nanti cuaca bakal cerah.

Mendadak saya sadar, ada satu kegiatan yang saya lewatkan hampir setahun ini: menyesap pagi. Menjadi istri, calon ibu, tinggal di tempat baru dengan kebiasaan baru, membuat saya kadang lupa kalau pagi itu eksis. Meski saya akui juga kalau pagi memang ada. Namun dengan beberapa kegiatan rutin, jadinya saya tidak bisa menikmati pagi. Menyiapkan sarapan bersama mertua, melayani suami dan menyiapkan perlengkapannya ke kantor. Belum lagi saat awal hamil atau sekarang kalau kelelahan, saya bisa bangun siang.

Tahu-tahu, matahari sudah agak tinggi dan sinarnya mulai menyengat. Disertai suhu udara Surabaya yang panas bahkan sejak subuh, membuat saya tidak merasakan segarnya udara pagi. Pagi-pagi saya sudah berkeringat atau lelah. Pagi itu sendiri seolah tidak pernah hadir lama-lama karena siang keburu datang.

Kemarin pun ketika jalan kaki saya tidak sepenuhnya bisa menikmati pagi. Walau di rumah, saya tetap harus hati-hati kalau jalan. Tidak boleh balangah (teledor), supaya tidak jatuh. Dan suasana kompleks yang tidak terlalu ramai membuat saya berpikir untuk segera kembali ke tempat tidur. Saya hanya sempat melihat langit timur yang warnanya memudar perlahan. Dari merah lalu jadi putih dan biru muda.

Terus terang, saya merindukan pagi yang hadir cukup lama seperti di Cicalengka dulu. Tapi saya juga tahu, seseorang yang sudah menikah, pasti kehidupannya bakal lain. Dulu saya bisa menikmati pagi lama-lama karena saya belum punya tanggungan. Setidaknya dulu tanggung jawab saya hanyalah diri saya sendiri.

Bulan depan, insya Allah, pagi saya akan lebih berbeda lagi.

11 thoughts on “Menyesap Pagi yang Lain

  1. Mochamad Yusuf

    Menyesapi? Saya tidak paham dengan kata ini. Maksudnya menikmati, begitu ya? Jangan khawatir, masih bisa kok meski sudah menikah. Seperti shalat jamaah bareng dengan anak. Ini lebih nikmat dulu dibanding bujang ya? Apalagi seperti saya sebagai imam. Asyiik…

    Reply
  2. Pingback: Mendamba Sebuah Taman dekat Rumah | rie yanti

  3. Pingback: Makanan Bayi Tak Cuma Bubur | rie yanti

  4. Pingback: Nugget Tempe Keju | rie yanti

  5. Pingback: 1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan (Bag. 2) | rie yanti

  6. Pingback: Menyapih KIara (dan Bundanya) | rie yanti

  7. Pingback: 1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *