Menjelang Kenaikan Kelas

Memasuki usia kehamilan delapan bulan, selain karena bayinya tumbuh semakin besar, beberapa perasaan juga bersekongkol membuat saya kian sesak: bahagia, panik, bingung. Semuanya mengacu pada satu momen yang akan mengubah segalanya: kelahiran.

Delapan bulan rasanya berlalu dalam satu kedipan mata. Padahal saya masih ingat betul masa awal kehamilan yang sangat tidak nyaman, trimester kedua yang cukup bikin enak, dan hari-hari belakangan yang menggelisahkan. Ini merupakan sebuah perjalanan istimewa yang pernah saya lalui. Saya seakan meniti setiap anak tangga yang mengantar saya ke sebuah tingkat baru kehidupan. Beberapa minggu lagi, saya akan naik kelas. Begitu kira-kira analoginya.

Sebagaimana halnya anak-anak sekolah yang deg-degan menjelang kenaikan kelas, saya pun merasakan hal yang serupa. Terlebih, ini merupakan pengalaman pertama saya punya anak. Walau keluarga selalu siap membantu, tetap saja saya gelisah.

Pertanyaan-pertanyaan yang diawali dengan “bagaimana” membuat saya tidak tenang menghadapi kenaikan kelas ini. Bagaimana kalau berat bayinya kurang? Bagaimana kalau saya tidak punya cukup tenaga untuk mendorong bayinya supaya keluar? Bagaimana kalau bayi saya kurang bersih lantaran saya kurang minum air kelapa muda? Bagaimana kalau baju-baju bayinya tidak muat lantaran ukuran bayinya terlalu besar?

Ditambah persiapan yang masih belum sempurna. Beberapa perlengkapan bayi yang belum dibeli karena belum sempat dan kehabisan stok, senam hamil dan jalan kaki yang belum maksimal, pekerjaan yang masih menuntut waktu dan pikiran yang banyak, wawasan tentang kehamilan trimester akhir dan persalinan yang masih minim. Saya bisa stres seharian ketika menyadari semua itu. Sempat berharap adanya tambahan waktu supaya saya punya persiapan melahirkan yang matang. Tetapi saya juga tidak mau bayi saya kelamaan ada di dalam perut.

Saya tidak sendirian menghadapi situasi seperti ini. Beberapa ibu hamil juga mengalami berbagai kekhawatiran menjelang persalinan. Selama hamil, yang saya butuhkan adalah teman sesama ibu hamil. Apalagi kalau sama-sama hamil anak pertama. Ini adalah pengalaman pertama. Banyak ceritanya. Mulai dari tentang awal kehamilan yang bikin bad mood, memilih dokter, sikap suami, mitos-mitos, sampai soal perlengkapan bayi dan memilih tempat serta cara melahirkan.

Kebetulan dua teman saya juga hamil. Tapi kami tidak pernah saling berkomunikasi. Jadinya kalau perlu tahu apa-apa, kalau tidak bertanya pada mama dan kakak, saya cari tahu sendiri di internet. Banyak juga ibu yang mendokumentasikan cerita hamil mereka ke dalam blog. Atau ngobrol-ngobrol di semacam forum ibu hamil.

Dari semua wacana tentang kehamilan, saya mendapat simpulan. Ada yang bilang kehamilan itu adalah pengalaman personal. Memang benar. Tidak semua ibu hamil mengalami hal yang serupa. Ada yang kehamilannya berjalan lancar, ada yang sampai mengalami pendarahan, ada yang hingga usia kehamilan lima bulan hanya bisa minum cola, macam-macam pokoknya.

Saya kerap dibilangin, ibu hamil tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Pada dasarnya, orang-orang mengkhawatirkan kondisi ibu hamil. Sebagaimana yang pernah saya rasakan jauh sebelum menikah setiap kali melihat ibu hamil. Saya selalu ngilu melihat ibu hamil jalan kaki, duduk, naik sepeda motor. Kerap muncul pertanyaan, ibu hamil nyaman nggak sih jalan kaki? Kalau naik sepeda motor bayinya gimana ya? Padahal ibu-ibu hamil itu mungkin merasa biasa saja.

Sekarang saya tahu bagaimana rasanya hamil. Jalan kaki, duduk, naik sepeda motor, adalah hal-hal yang biasa saya lakukan sebagaimana halnya ketika saya belum hamil. Memang ada sedikit perubahan. Umpamanya kalau jalan harus lebih hati-hati supaya tidak jatuh, tidak naik turun tangga (saya kadang-kadang melanggar ini kalau keadaan mengharuskan saya naik turun tangga). Semuanya biasa saja, kecuali belakangan ini. Karena ukuran bayi tambah besar sehingga saya gampang lelah kalau kebanyakan beraktivitas dan cepat pegal kalau kelamaan duduk.

Jujur, kadang saya kesal juga diberi banyak aturan, apalagi mitos-mitos yang belum tentu benar. Kerap saya bingung, apa benar ibu hamil tidak boleh begini? Apa benar ibu hamil tidak boleh begitu? Kadang-kadang, sejauh kandungan saya baik-baik saja, saya langgar aturan-aturan tersebut. Bukannya bandel. Tapi ambil saja contoh, ibu hamil sebaiknya tidur saja, jangan banyak bergerak. Terutama di masa awal kehamilan. Saya sempat mengikuti nasehat itu. Tapi tidak lama. Kalau saya masih bisa berkegiatan apa pun dan saya merasa nyaman-nyaman saja, serta hasil USG menunjukkan kalau janinnya sehat, tentu ini bukan masalah kan? Daripada kebanyakan diam, bisa-bisa nanti anaknya jadi pemalas.

Sejauh ini, tidak ada masalah serius yang saya hadapi. Mudah-mudahan sampai waktunya melahirkan pun tidak ada masalah apa-apa. Ibu hamil di mana pun pasti berharap persalinannya normal dan lancar, ibu dan bayinya sehat dan selamat. Tidak terkecuali saya.

Semoga.

BTW, bagi Anda yang tertarik dengan buku laris Cara Cepat Hamil, silakan merapat ke sini. Ada diskon khusus plus gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia! Atau cukup isi formulir di bawah ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *