Membesarkan Kiara

Ketika masih mengandung, saya sudah memutuskan untuk memberikan anak saya ASI. Sudah teruji, ASI jauh lebih sehat dibanding susu formula. Tapi siapa yang nyana kalau ASI juga menimbulkan beberapa masalah. Dimulai ketika saya masih hamil. ASI belum juga keluar. Padahal payudara sudah membesar dan seperti sedang memproduksi ASI. Saya khawatir, jangan-jangan ASI-nya memang tidak keluar.

Benar saja, setelah melahirkan, ASI yang keluar pun hanya satu-dua tetes. Itu pun baru keluar setelah areolanya dipencet dengan agak keras. Saya jadi mengkhawatirkan Kiara, bagaimana kalau dia kelaparan kalau ASI tidak keluar lancar begitu? Namun kata dokter spesialis anak yang menangani Kiara, bayi yang baru lahir sudah diberi bekal cadangan makanan di dalam tubuhnya untuk tiga hari setelah dilahirkan. Ada rasa lega, namun saya juga jadi berharap-harap cemas menunggu tiga hari berikutnya. Kalau sampai ASI belum keluar, bisa-bisa Kiara harus minum sufor. Apalagi, Kiara lahir dengan berat badan hanya 2780 gram. Tergolong kurus meski ukuran segitu termasuk normal.

Sampai Kiara berumur lima hari, ASI hanya sedikit yang keluar. Ibu saya juga heran. Biasanya ibu yang baru melahirkan, ASI-nya bisa keluar deras sampai banjir dan membasahi bra. Saya boro-boro bisa seperti itu. Selain itu, muncul masalah lain. Kulit Kiara kuning. Begitu juga dengan matanya.Kiara adalah anak pertama. Sudah pasti ini merupakan pengalaman pertama saya dan suami mengurus anak. Malah diberi berbagai masalah yang kami tidak mengerti. Naasnya, orang tua kami juga ikut heran.

Malamnya Kiara kontrol ke dokter. Berat Kiara ketika keluar dari rumah sakit menyusut 100 gram. Sekarang sudah naik lagi ke bobot semula. Kami pun lantas mengonsultasikan warna kuning pada kulit dan mata Kiara. Ternyata, Kiara mengalami ikterus atau kuning pada bayi. Solusinya, Kiara harus difototerapi 2 x 24 jam. Artinya, Kiara harus menginap lagi di rumah sakit untuk disinar.

Sedih rasanya harus berpisah dengan anak sendiri, walaupun ini juga demi kesehatan Kiara. Namun saya tidak boleh cengeng. Ada PR yang harus saya kerjakan: memompa ASI. Jadi selama difototerapi, Kiara bisa tetap mendapatkan asupan ASI. Susterlah yang akan menyuapinya menggunakan sendok, bukan dot, supaya Kiara nantinya tidak bingung puting. Sementara saya, selain memompa ASI, juga bisa menyusuinya sehari dua kali. Jadilah saya, ibu, kakak serta kakak ipar saya yang sengaja datang dari Bandung, bolak-balik ke rumah sakit selama dua hari berturut-turut. Saya menyusui Kiara siang hari begitu kami sampai di rumah sakit dan sore hari sebelum kami pulang.

Selama berada di rumah sakit, kami bertemu beberapa orang tua bayi yang juga difototerapi. Rata-rata mereka memiliki masalah serupa: kurang ASI. Saya pun belakangan tahu kalau anak sepupu kami juga kena kuning dan kurang mendapat asupan ASI.

Saya jadi mengkhayal, coba kalau ASI saya keluar deras begitu Kiara lahir. Kiara tidak akan kena ikterus dan harus disinar. Dijemur setiap pagi pun sudah cukup baginya. Tapi segitu pun saya bersyukur karena dengan dipompa, ASI saya bisa keluar cukup banyak sehingga Kiara tidak harus menerima donor ASI apalagi mengonsumsi sufor. Tidak seperti bayi lain yang terpaksa minum sufor karena ASI ibunya tetap tidak keluar banyak lantaran kesedihan yang mereka rasakan. Saya hanya ingat pesan pegawai administrasi rumah sakit yang dulu anaknya juga disinar. Katanya, jangan dibawa sedih, nanti ASI-nya tidak keluar.

Tapi saya jadi berpikir, begitulah kalau anak mengandalkan ASI sebagai makanannya. Ketika saya baru melahirkan dan masih di rumah sakit, lalu ASI cuma keluar sedikit sekali, ibu saya menyarankan saya memberikan Kiara madu supaya dia tidak kelaparan. Berhubung pihak rumah sakit sangat pro ASI dan keukeuh dengan prinsip cadangan makanan tiga hari dalam tubuh bayi baru lahir, saya pun tidak bisa mengikuti saran ibu saya. Kiara tetap saya “paksa” menyusu walau dia mungkin hanya meneguk satu-dua tetes saja. Dan begitulah jadinya, Kiara kena ikterus.

Kiara, 8 hari, sehabis difototerapi

Setelah Kiara keluar dari rumah sakit untuk kedua kalinya, ASI saya keluar lancar. Tidak lupa saya mengonsumsi beberapa sayuran yang disinyalir mampu memperlancar ASI: daun katuk, labu siam, pare, pepaya muda, dan kacang-kacangan. Kiara tidak pernah kelaparan karena setiap hari saya susui. Malam-malam sekalipun. Bahkan kalau dia tidur lama pada siang hari pun setiap dua sampai tiga jam saya bangunkan untuk menyusu. Tangan dan punggung memang pegal. Tapi kalau kelamaan tidak menyusui, payudara saya juga bisa bengkak.

Tapi masalah dan kekhawatiran tidak hentinya saya alami. Meski rajin menyusu, tubuh Kiara tetap kurus. Malah ketika kontrol setelah difototerapi, berat badannya hanya bertambah 100 gram. Menurut dokter, sebaiknya saya menyusui Kiara dengan cara digendong, bukan berbaring. Pelekatannya pun harus benar.

Saya lakukan cara itu. Dalam waktu tiga minggu, berat Kiara naik 600 gram. Menurut dokter, kenaikan sebesar itu normal. Paling tidak, dalam sebulan berat badan bayi bertambah 500 gram. Sehingga meski tubuhnya masih kurus, saya tidak khawatir-khawatir amat dengan kesehatan Kiara. Apalagi semakin hari Kiara semakin lincah saja.

Merasa puaskah saya dengan petumbuhan Kiara? Tidak. Rasa iri selalu ada manakala saya melihat foto bayi lain yang gemuk. Setelah Kiara mulai gendut pun saya masih saja bertanya, kok pertumbuhan badannya seperti lambat?

ASI memang “mengakibatkan” dampak yang kurang disenangi. Pertama, bayi tidak bisa buang air besar dengan teratur; ada yang sehari sampai lima kali, ada juga yang dua minggu sekali. Kedua, kalau pada awal-awal kelahirannya bayi tidak mendapat asupan ASI yang cukup, bisa kena ikterus.

Kiara mengalami semua masalah tersebut. Yang paling mengusik pikiran ya poin nomer satu. Setahu saya memang anak perempuan susah gedenya dibanding anak laki-laki. Tapi tetap saja melihat anak perempuan lain yang badannya menggelembung, sedih juga rasanya memiliki anak yang kurus seperti Kiara.

Rasa penasaran terus mengusik saya. Hingga saya baca sebuah cerita tentang seorang ibu yang punya dua anak. Anak pertama, laki-laki, kenaikan berat badannya begitu pesat. Sedangkan anak kedua, perempuan, kenaikan berat badannya tidak begitu pesat. Namun terdapat perbedaan jelas di antara keduanya. Anak pertama lebih menonjol dalam hal fisik, anak kedua lebih menonjol dalam hal tumbuh kembangnya. Sang ibu curiga ini masalah metabolisme saja. Jadi, yang satu ASI-nya lari ke mana, satu lagi ASI-nya lari ke arah lain. Yang jelas, ibu itu tetap memberikan keduanya ASI.

Saya pun tidak lagi pusing-pusing memikirkan soal badan Kiara. Sekarang dia sudah gemuk dan berat badannya naik terus. Sehat pula. Yang mutlak perlu terus saya lakukan adalah tetap menyusui Kiara. Seperti kesepakatan saya dan suami, bahwa kami harus “membesarkan” Kiara. “Membesarkan” di sini bukan hanya dalam arti “mendidik”, tetapi juga “memperbesar” alias membuat badan Kiara jadi besar. Walau untuk menyusui Kiara kadang diperlukan berjam-jam sebab ASI, meski membuat bayi ngantuk, tidak membuat bayi merasa cepat kenyang. Dan tentunya hanya Kiara sendiri yang bisa merasakan kenyang atau belum.

Sampai kapan pun ASI merupakan makanan terbaik buat bayi. Apalagi, pemberian ASI juga praktis. Tidak seperti susu formula. Harus beli dulu susunya, botolnya harus disterilkan, harus sedia air panas dan air dingin juga. Ribet.

Kiara, 3 bulan, gemuk dan menggemaskan

6 thoughts on “Membesarkan Kiara

  1. Pingback: Membesarkan Kiara « Cerita Rie

  2. Mochamad Yusuf

    Kamu harus punya komitmen untuk menyusui selama 2 tahun. Dan harusnya bisa, karena kamu full ibu rumah tangga. Dulu Zidan disusui selama 2 tahun, meski istri kerja. Tapi memang tergantung anaknya. Zelda hanya disusui selama 6 bulan. Bukan karena istri tidak mau menyusui. Tapi Zelda sendiri yang tidak mau menyusui. Apapun itu, selama dia mau, harusnya tetap disusui. Selamay menyusui!

    Reply
  3. fitri

    Pengorbanan seorang ibu kerasa bgt ya ndri,aplg qta sbgai pemula…perkembangan anak qta benar2 menguras tenaga dan fikiran,namun itulah seninya, semoga anak qta slalu diberi kesehatan.‎​​آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِنْ.

    Reply
  4. Pingback: 1000 Hari yang Penuh Kesan | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *