Melahirkan Kiara

Akhirnya waktu luang! Kiara sedang nyenyak tidur. Tidak tahu untuk berapa jam ke depan. Saya sudah hafal dengan ritme kebiasaannya. Namun saya juga masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kebiasaannya itu. Namanya juga bos kecil. Saya dan suami hanya bisa mengikuti kemauannya. Yang jelas sekarang saya harus ngebut menulis postingan ini sebelum Kiara bangun.

Semua berawal dari 27 Oktober lalu. Sehari sebelumnya saya absen jalan pagi. Tadinya mau ikut salat Idul Adha. Tapi kata suami, “Gimana kalau kamu kontraksi pas di masjid?” Saat itu usia kehamilan saya sudah 38 minggu 7 hari. Sudah cukup waktunya untuk melahirkan. Jadi apa yang dikhawatirkan suami saya sangat masuk akal. Maka saya pun urung ke masjid dan tinggal di rumah bersama istri kakak ipar dan anaknya yang juga tidak ikut salat.

Saya cuci piring, beres-beres kamar dan ngobrol dengan istri kakak ipar tentang melahirkan dengan pertolongan bidan. Setelah semua orang pulang dari masjid, kami sarapan dan pesta buah mangga. Setelah itu, suami saya kembali tidur karena semalaman dia kurang tidur. Sementara saya senam hamil.

Baru saja mulai sesi berdiri-jongkok, tiba-tiba terasa ada cairan keluar dengan sendirinya dari vagina. Saya berhenti senam dan ke kamar mandi untuk mengecek. Di celana dalam ada sedikit lendir berwarna putih dan basah. Saya pikir, itu keputihan biasa. Tapi kok ada cairannya?

Sambil was-was, saya kembali ke kamar dan membereskan matras. Mungkin saya harus istirahat, pikir saya. Tapi ketika saya diam pun cairan itu seperti keluar lagi. Akhirnya saya kembali ke kamar mandi dan membawa celana dalam baru untuk ganti. Saya jadi curiga, jangan-jangan itu air ketuban. Kata kakak ipar saya, air ketuban itu mirip air kencing. Benar-benar cair dan agak hangat. Serta keluarnya tidak bisa ditahan-tahan.

Daripada bingung sendiri, saya bertanya pada mama mertua. Beliau juga kaget dan mengajak saya segera ke rumah sakit.

Saya kembali ke kamar, membangunkan suami. Dia heran melihat saya yang membawa kabar mengejutkan disertai ekspresi wajah yang tidak menunjukkan kesakitan. Dipikirnya, kalau air ketuban keluar, ada rasa sakit yang menyertai. Yang saya alami tidak seperti itu. Air ketuban terus keluar sehingga saya harus memakai pembalut. Namun sama sekali tidak ada nyeri.

Untunglah saat itu hari libur. Semua orang ada di rumah dan jalan tidak macet. Papa dan mama mertua, serta keponakan ikut mengantar ke rumah sakit. Turun dari mobil, mama mertua menyarankan saya pakai kursi roda. Saya menolak. Tidak sakit apa-apa kok naik kursi roda.

Sampai lobi ruang bersalin, ada beberapa suster sedang berjaga. Saya ceritakan masalahnya, kemudian saya dibawa ke sebuah kamar periksa. Karena sedang libur, tidak ada dokter atau bidan yang berjaga. Jadi susterlah yang melakukan pemeriksaan dalam. Sakitnya bukan main. Ingin menjerit, tapi saya tahan. Dan hasilnya diketahui kalau ketuban sudah pecah, tetapi belum ada bukaan satu pun. Yang dikhawatirkan, bayi kena infeksi. Karena itu saya langsung dirawat di sana, dipakaikan baju rumah sakit dan pad untuk menampung air ketuban yang mengalir, diberi antibiotik dan melakukan rekam jantung bayi.

Syukurlah bayinya tidak apa-apa. Dan jam demi jam pun berlalu, kontraksi demi kontraksi mulai terasa. Awalnya masih bisa ditahan. Seperti kontraksi palsu. Saya dan suami juga masih bisa ngobrol dan tertawa. Padahal saya harus bedrest, hehe. Ini cara saya meredakan ketegangan. Lagipula yang saya tahu, kalau moodnya bagus, bukaan bisa cepat dan persalinan bisa lancar.

Sorenya, kontraksi mulai menguat. Saat keluarga suami menjenguk, saya sudah mulai sulit tersenyum. Menjelang malam, kontraksi lebih kuat lagi. Sempat kesal pada suami yang lebih sibuk memotret ketimbang memperhatikan saya. Tapi pada akhirnya saya senang juga karena ada dokumentasi, hehehe. Pemeriksaan dalam pun kembali dilakukan. Kali ini oleh bidan. Sengaja pemeriksaan dalam ini tidak sering-sering dilakukan mengingat ketuban pecah dan bayi berisiko kena infeksi. Karenanya harus dihindarkan dari kontak dengan luar.

Waktu kontraksi mulai menguat

Sudah bukaan lima, ternyata. Saya pun diboyong ke kamar bersalin. Pakai kursi roda sambil sebentar-sebentar nyengir karena kontraksi bertambah kuat. Dan semakin malam, kontraksi menjadi semakin semakin dan semakin kuat. Jeda waktunya pun kian kerap. Saya minta suami untuk memijat bokong saya. Tapi tangannya juga saya pegang manakala kontraksi datang. Sempat terpikir kalau suami jadi bingung oleh ulah saya. Tapi kalau sakit begini mana saya peduli?

Yang menyiksa, saya harus menahan keinginan untuk mengejan. Sementara dorongan dari dalam semakin membuat saya kewalahan. Saya hanya disuruh bernapas panjang kalau kontraksi datang. Saya tahu, saya tahu. Ini teori yang selalu saya ingat ketika hamil tua. Tapi pada prakteknya, teori seperti angin lalu. Saya selalu hampir lupa untuk bernapas panjang.

Dan akhirnya tibalah saat yang dinanti-nantikan. Saya tidak peduli hari apa, ada di mana, pukul berapa, bersama siapa saja, suami ada di samping saya atau tidak. Ketika disuruh mengejan, saya mengejan. Meski tidak bisa dibilang lebih enak, setidaknya saat melahirkan saya tidak begitu tersiksa dengan menahan keinginan untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh saya. Sebab saya justru harus mengeluarkan sesuatu itu. Hanya, saya tidak boleh memaksakan diri untuk mengejan. Kalau sesuatu itu seperti tidak akan keluar, saya hanya harus bernapas pendek-pendek.

Suami ada di samping saya. Memegang tangan kanan dan tengkuk. Katanya supaya saya bisa melihat kepala bayinya keluar. Kalau sudah begitu, saya bisa lebih bersemangat lagi mengerahkan tenaga untuk mengejan. Tapi boro-boro deh, saya tidak melihat kepala bayinya sebelum akhirnya suster dan bidan menyuruh saya berhenti mengejan. Sampai saya pun melihat kepala bayi keluar diikuti badan dan kakinya. Serta tangisannya yang keras.

Begitulah persalinan, saudara-saudara! Begitu kepala bayi keluar, suster menariknya. Jadi saya tidak harus mengejan sampai puluhan kali supaya seluruh badan bayi keluar. Cukup mengejan beberapa kali untuk mengeluarkan kepalanya saja.

Saya dan suami bertukar senyum. Bahagia karena anak kami akhirnya lahir dengan selamat melalui persalinan normal atau spontan. Dan saya merasa menang karena sudah melahirkan. Semua perempuan yang melahirkan secara normal pasti juga merasakan hal serupa.

Berikutnya… dimulailah hari-hari nan melelahkan. Lebih melelahkan ketimbang saat hamil dan melahirkan. Mengurus Kiara benar-benar menguras tenaga. Menyusui, mengganti dan mencuci popok, mandi buru-buru, makan lekas-lekas, begadang, terbirit-birit dari dapur atau ruang setrika ke kamar, cemas sebelum ketemu dokter kalau ada masalah pada tubuhnya.

Ups… Kiara mulai bergerak-gerak. Sebentar lagi dia bangun…

Cerita tentang melahirkan Kiara juga bisa dibaca di sini.

4 thoughts on “Melahirkan Kiara

  1. Pingback: 1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan (Bag. 2) | rie yanti

  2. Pingback: Anak Perempuan dan Ibu | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *