Manyun dan Senyum bersama Semanyun Senyuman Mahasiswa

“Semanyun Senyuman Mahasiswa”

Penulis: Brahmanto Anindito

Jenis: Kumpulan cerpen

Tebal 129 halaman

Penerbit: Lulu (2010)

 

Semanyun Senyuman Mahasiswa atau SSM adalah kumpulan cerpen yang bukan sastra koran. Buku ini berisi cerpen-cerpen karya Brahmanto Anindito, leader Warung Fiksi.

Hal pertama dari buku ini yang menarik perhatian saya adalah namanya. Semanyun Senyuman Mahasiswa. Seperti ada permainan kata pada nama depan dan nama tengah: semanyun dan senyuman. Dua-duanya memiliki delapan huruf; yang berbeda adalah penempatan huruf dan makna. Manyun dan senyum. Dua kegiatan ini dilakukan bibir, tapi yang satu menunjukkan ketidaksenangan, satu lagi kebaikan.

Hal kedua, embel-embel “bukan sastra koran”. Saya sebetulnya tidak peduli dengan pengklasifikasian sastra. Makanya saya tidak tahu, tulisan-tulisan saya termasuk sastra koran atau bukan. Daripada sok pintar, lebih baik saya tidak menyebutkan saja klasifikasinya. Maka ketika mendengar SSM menyatakan dirinya “bukan sastra koran”, wow! saya kagum. Buku ini pede sekali!

Hal ketiga, penerbit. Buku ini diterbitkan sendiri (self-publish) melalui Lulu, sebuah media penerbitan online dan internasional, di mana semua orang dapat menerbitkan sendiri karya mereka.

SSM memiliki 13 cerita pendek. Tentang mahasiswi aktivis, mahasiswa yang nyaris bunuh diri, mahasiswi pengibul, nyamuk yang mengekor seorang mahasiswa baru yang telat ikut OSPEK, seorang sarjana psikologi yang mencari kerja.

Saya pribadi paling suka Denging, cerita tentang mahasiswi aktivis bernama Cathy yang diserang insomnia pada malam menjelang unjukrasa ke Komisi D DPR. Selama begadang itu, Cathy bercakap-cakap dengan seekor nyamuk yang berdenging di dekatnya. Si nyamuk ini pintar, kritis, sama seperti mahasiswa. Ia berani berkata:

“Aedes Aegepty, Culex atau Anopheles memang kaum kami. Tapi oknum! Jumlahnya dikit. Di kalangan manusia juga ada oknum kan? Hanya gara-gara satu orang di DPR korupsi dan dibui, bukan berarti semua manusia di DPR koruptor kan?”

juga

“… manusia itu memang otaknya besar, tapi cethek. Analisisnya seakan-akan sedalam samudera, padahal sedangkal kobokan.”

atau

“Kami bisa memberi contoh baik dan buruk sekaligus,” lanjutnya, serius. “Makhluk segiat kami hampir selalu bisa mendapatkan apa yang kami mau. Sebab kami ini bangsa yang pantang menyerah. Tapi sekali aja serakah, kami akan berakhir dengan tubuh gepeng belepotan darah di tembok. Tidakkah ini menginspirasi manusia?”

Saya tergelak. Nyamuk ternyata lebih pintar dari manusia. Padahal nyamuk itu kecil dan acapkali dinilai tidak ada gunanya selain menciptakan penyakit.

Di akhir cerita, karena tidak tahan lagi mendengar si nyamuk berceloteh, Cathy menghabisi nyawa nyamuk tersebut. Namun, tentu saja kawan-kawan si nyamuk marah padanya. Cathy merasakan hal itu dan dia tahu, malam itu dia tidak akan bisa tidur sebab diserbu bangsa nyamuk yang membalas dendam atas kematian kawan mereka.

Cerita ini saya suka untuk dua hal. Pertama, saya sedang menggandrungi cerita dengan tokoh nonmanusia. Kedua, tanpa alasan yang bisa dijelaskan dengan kata-kata, saya suka saja cerita ini dibandingkan cerita-cerita lain. Endingnya bikin manyun karena si nyamuk dibunuh. Tapi ocehan si nyamuk mampu membuat saya senyum. Jadi satu cerita memberi dua kesan berlawanan.

Beda halnya dengan Di Laut yang Sama, Kontemplasi Ketiga, Lompatan yang Terindah. Ceritanya bernuansa kelabu. Terutama Kontemplasi Ketiga. Saking sedihnya, saya nyaris tidak percaya kalau cerita ini ditulis oleh seorang Brahmanto Anindito. Cerpen ini sedikit lain dari cerpennya yang lain dalam buku ini. Terkesan cengeng.

Tapi yang lucu juga ada lagi selain Denging (meski tidak semenggelikan Denging), di antaranya Sekali Pengibul Tetap Pengibul, www.blog-pengkhayaltokcer.com, Yuanita, S. Psi.

Bagi teman-teman yang pernah atau sudah mencicip bangku perguruan tinggi, SSM barangkali bisa membuat kalian sedikit bernostalgia dengan masa kuliah. Saya katakan sedikit karena cerita-cerita dalam buku ini mungkin pernah saudara-saudara alami dulu, mungkin juga tidak. Tetapi bagi yang belum atau tidak pernah kuliah, tidak berarti tidak bisa menikmati buku ini.

Sebab SSM warna-warni. Tokoh-tokohnya tidak melulu mahasiswa. Ceritanya macam-macam. Teman-teman bisa manyun atau senyum saat membacanya.

Catatan: Semanyun Senyuman Mahasiswa tidak dijual bebas di pasaran. Untuk mendapatkannya, sila klik di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *