Malam Satu Suro

Beberapa malam yang lalu suami saya nonton Malam Satu Suro yang dibintangi Suzanna. Spontan saya bergidik dan memilih untuk menjaga Kiara saja daripada tidak bisa tidur. Tetapi, rasa penasaran justru membuat saya akhirnya ngintip-ngintip film tersebut. Apalagi ada yang bilang kalau film ini tidak menakutkan. Lucu, malah.

Akhirnya saya nonton. Karena sambil menjaga Kiara, saya tidak fokus menyimak setiap adegan. Namun secara keseluruhan, ternyata benar, Malam Satu Suro tidak menakutkan. Sosok Sundel Bolong yang diperankan Suzanna memang menyeramkan. Tapi cerita film ini sendiri tidak sehoror yang saya bayangkan.

Ceritanya, Ki Renggo, seorang paranormal yang tinggal di hutan Alas Roban, menghidupkan kembali Suketi dan menjadikannya anak angkat. Suketi memiliki paras cantik dan ini memikat hati Bardo, seorang pemuda kota yang sedang berburu bersama temannya di hutan Alas Roban. Bardo dan Suketi pun menikah pada malam satu suro, sesuai saran Ki Renggo. Mereka tinggal di kota dan hidup bahagia dengan memiliki dua anak. Karir dan bisnis Bardo pun meningkat.

Akan tetapi, kesuskesan Bardo membuat rival bisnisnya iri dan ingin menjatuhkan karir laki-laki tersebut. Setelah berkonsultasi kepada seorang dukun, tahulah rival Bardo tersebut bahwa kesuksesan Bardo dilatarbelakangi oleh istrinya, yang ternyata merupakan Sundel Bolong. Suketi pun “dimatikan” lagi dan arwahnya gentayangan menuntut balas terhadap mereka yang menyakitinya.

Meski genrenya horor, Malam Satu Suro memiliki unsur drama yang begitu kuat. Porsinya malah lebih banyak dari horor itu sendiri. Logika cerita pun bisa dikatakan minim. Mungkin karena alurnya terlalu cepat ya? Misalnya saja ketika Suketi ujug-ujug bisa main piano, padahal dia gadis dusun. Atau ketika suster memberitahu anak-anak Bardo kalau ibu mereka berubah jadi hantu. Terdengar seperti ibu-ibu yang ngerumpi dengan tetangganya. Tidak ada ekspresi dan nada ketakutan ataupun panik.

Begitu juga ketika Bardo mengajak anaknya kembali tidur setelah mereka melihat penampakan Sundel Bolong di rumah mereka. Meski itu adalah Suketi, saya pikir seharusnya ekspresi Bardo dan anaknya tidak enteng begitu. Minimal ada rasa takut dalam ekspresi wajah mereka.

Film ini juga memiliki unsur komedi yang tidak penting. Contohnya ketika Suketi mendekati Bokir dan Dorman yang akan manggung, sampai mereka pentas di kuburan dan Suketi mengerjai mereka. Hm, mungkin maksudnya untuk menunjukkan bahwa Sundel Bolong suka mengerjai laki-laki hidung belang. Tapi adegan ini seharusnya tidak panjang-panjang. Bukankah Suketi alias Sundel Bolong harus membalas dendam pada orang-orang yang telah menganiaya keluarganya?

Sayang sekali jika inti cerita film ini yang semestinya menegangkan, malah tampak mendayu-dayu. Barangkali ada bagusnya sih porsi drama ditambahkan ke dalam film ini. Supaya film Malam Satu Suro ini kesannya tidak menakut-nakuti penonton saja, melainkan ada ceritanya. Tapi kalau unsur dramanya mendominasi, kesan horor pun sekadar bumbu.

Selain itu, dari beberapa referensi yang saya peroleh, berdasarkan mitos, Sundel Bolong suka mencuri bayi-bayi yang baru dilahirkan. Dengan kata lain, perannya antagonis. Tapi dalam Malam Satu Suro, Sundel Bolong sama sekali tidak mencuri bayi. Dia adalah tokoh protagonis. Entah mungkin karena sang sutradara, Sisworo Gautama, sekadar meminjam sosok hantu perempuan yang punggungnya bolong tersebut, bukan benar-benar ingin mengangkat sosok Sundel Bolong itu sendiri.

Di balik semua itu, Malam Satu Suro termasuk film horor legendaris. Seperti halnya Malam Jumat Kliwon. Barangkali berkat Suzanna juga yang berhasil memerankan tokoh hantu.

7 thoughts on “Malam Satu Suro

  1. Pingback: Paragraf Pemicu Suasana Horor | Warung Fiksi ®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *