Kuliner Cicalengka

Belakangan ini selera makan saya rada-rada rewel. Saya pengin masakan yang tidak ada di Surabaya. Padahal lidah saya sudah bisa mengecap masakan Jawa Timur. Rujak cingur, semanggi, rawon, tahu tek, tahu campur. Gado-gado apalagi, di Bandung juga ada. Dan pecel mirip dengan lotek.

Di rumah pun saya sudah bisa makan masakan mertua. Kadang-kadang, saya masak sendiri. Jadi seharusnya tidak ada masalah apa-apa soal makanan. Hanya, saat ini yang selalu terbayang adalah masakan Bandung. Spesifiknya masakan Cicalengka.

Di Cicalengka, saya juga suka masak. Soto bandung, pepes ikan mas, nasi goreng, ayam goreng, aneka tumisan, sop. Kadang bosan dengan masakan-masakan seperti itu, sehingga kami beli masakan di luar: gulai ayam atau sapi ala padang (plus lalap singkong dan sambal ijo), atau sate ayam. Untuk sarapan kadang-kadang beli bubur ayam, kupat tahu atau nasi kuning. Camilannya, selain penganan yang dibikin di rumah mulai dari kue basah sampai kue kering, kadang beli biskuit. Atau, jajanan seperti lumpia basah, gorengan, baso tahu, batagor.

Semua makanan itu, akhir-akhir ini sangat saya kangeni. Masakan mama sudah pasti. Tapi yang lebih intens terbayang rasanya adalah bubur ayam, baso tahu dan batagor. Di dekat rumah, saban pagi dan sore ada yang jualan bubur ayam. Kalau boleh jujur, bubur ayam itu banyak kekurangannya. Ada bubur ayam yang lebih enak dengan porsi yang lebih banyak, tapi lokasinya agak jauh dari rumah.

Namun mungkin karena bubur ayam dekat rumah ini yang paling sering dibeli, rasanya pun jadi melekat di lidah. Hari Minggu kemarin saya beli bubur ayam yang ngider di komplek. Rasanya lebih enak, komplit, dan porsinya lebih banyak dua kali lipat. Harganya pun lebih mahal dua kali lipat. Seharusnya saya suka bubur ayam yang ini. Tapi, sekali lagi, rasa bubur ayam dekat rumah sudah melekat di lidah saya. Padahal itu bukan bubur ayam Mang Oyo yang terkenal unik dan enak itu.

Begitu juga dengan baso tahu. Baso tahu yang suka lewat depan rumah Cicalengka bukanlah baso tahu Hokkie yang suka saya beli kalau jalan-jalan di Bandung. Ini baso tahu biasa, ala kadarnya. Atau batagornya. Sama sekali jauh beda dengan batagor Riri yang terakhir saya beli harganya 7000 per buah. Batagor yang ini beli 3000 seporsi pun cukup mengenyangkan. Tapi lagi-lagi, saya malah kangen dengan jajanan yang ala kadarnya itu.

Dulu, sebelum pindah ke Surabaya, saya dekat dengan semua yang ada di Cicalengka. Sekarang saya sudah di Surabaya, tentunya saya berjarak jauh sekali dengan apa yang ada di sana. Tidak terkecuali kulinernya. Kuliner Cicalengka tidak istimewa, sebetulnya. Namun setelah saya tidak bisa mendapatkannya, apa yang biasa saya makan sehari-hari, yang dulu terasa membosankan, sekarang menjadi sangat istimewa.

2 thoughts on “Kuliner Cicalengka

Leave a Reply to aditya, widi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.