Kiara dan Anjing-anjing Kompleks

Kiara senang banget diajak ke KBS (2014). Malah dia pengin masuk kandang rusa dan bermain dengan binatang tersebut.

Sudah menjadi bagian dari rutinitas kalau saban pagi saya harus belanja. Biasanya, saya belanja di tukang sayur. Kalau tukang sayurnya tidak jualan, belanja ke pasar.

Tapi sejak bulan Juni kemarin, sejak Akira lahir, saya lebih sering belanja di tukang sayur. Lebih praktis. Hanya ketika libur Lebaran saja saya belanja di pasar, berhubung tukang sayurnya juga tidak mau kalah sama anak-anak sekolah dengan mudik selama dua minggu.

Kadang-kadang saya belanja sendirian. Kadang-kadang anak-anak turut serta kalau mereka sudah bangun. Tidak masalah sih. Toh tukang sayurnya suka berhenti di depan rumah kok. Atau di depan rumah tetangga yang hanya beberapa meter saja. Kalau belanjaan saya banyak pun tukang sayurnya berbaik hati mengantar belanjaan saya sampai teras rumah.

Jadi, walau punya dua anak yang masih kecil-kecil, belanja bukan masalah buat saya. Yang jadi masalah justru kalau saat kami sedang belanja, ada anjing lewat. Takut kalau tiba-tiba anjing itu menghampiri kami. Terutama Kiara.

Di kompleks tempat kami tinggal ini banyak yang memelihara anjing. Sebetulnya itu bukan masalah buat saya selama anjing-anjing itu tidak mengganggu. Memang, gonggongan mereka terdengar menakutkan. Apalagi kalau kebetulan saya lewat depan rumah yang memelihara anjing tersebut. Yang penting, kalau kebetulan saya sedang jalan, anjing-anjing itu tidak dibiarkan berkeliaran tanpa pemiliknya. Sebab, seperti yang kita tahu, anjing bisa menggigit dan menyebabkan rabies.

Tidak. Saya tidak membenci anjing. Hanya takut dan selalu waspada kalau ada anjing di dekat saya. Biarpun ada pemiliknya dan anjing itu diberi pengaman seperti kalung dan tali yang dipasang di leher anjing.

Yang menjadi persoalan, Kiara berbeda 180 derajat dengan saya. Entah pada dasarnya dia penyuka atau penyayang binatang, entah karena belum mengerti. Yang jelas, Kiara tidak peduli binatang jinak dan buas. Misalnya saja nih, Kiara selalu senang melihat buaya. Setiap kami jalan-jalan dan melewati patung suro dan boyo yang menjadi ikon kota Surabaya, Kiara selalu berteriak senang. Tampaknya Kiara sangat menyukai buaya.

Begitu juga terhadap anjing. Waktu Kiara bayi sampai umur satu tahun kurang, saya selalu mengajaknya jalan-jalan pagi atau sore di sekitar rumah. Pakai stroller. Tidak jarang kami bertemu kucing, burung, kupu-kupu, bahkan anjing. Saya tidak pernah menunjukkan muka atau reaksi antusias saat bertemu binatang apapun. Paling cuma bilang, “itu burung. Itu pus.” Tapi Kiara selalu tertarik. Apalagi terhadap kucing.

Nah, kalau kami bertemu anjing, saya suka jaim. Takutnya kalau saya ngomong, apalagi memberitahu dengan semangat, Kiara bakalan lebih bersemangat. Namun ternyata, tanpa saya bicara apa-apa pun Kiara tetap bersemangat, seperti halnya kalau dia melihat kucing. Gawat! Kalau sampai Kiara teriak-teriak lalu anjingnya lari menghampiri kami, celakalah kami!

Jadi kalau kami bertemu anjing, saya selalu menyuruhnya diam atau perlahan-lahan mengalihkan perhatiannya. Tapi, dasar anak-anak, tetap saja Kiara melihat anjing itu dan dengan penuh euforia menunjuknya.

Seperti ketika kami bertiga jalan-jalan keliling kompleks. Saat itu Kiara masih satu tahunan dan digendong yayahnya menggunakan gendongan ransel. Di bagian depan.Tak disangka, kami bertemu tiga ekor anjing tanpa pemilik. Waduh! Saya dan suami kontan panik. Meski saya memegang payung besar yang sengaja kami bawa sebagia pelindung jika hujan dan senjata kalau diserang anjing, tetap saja kami takut.

Namun kami tidak bisa bergegas balik badan dan berlari. Bagaimana kalau anjing-anjing itu jadi penuh nafsu mengejar kami? Pun kami tidak bisa berjalan cepat karena efeknya mungkin sama dengan jika kami kabur. Serba salah. Akhirnya kami berusaha untuk mengalihkan perhatian Kiara supaya dia tidak melihat anjing-anjing itu.

Naas, mata Kiara lebih cekatan. Dia melihat anjing-anjing tersebut dan langsung berteriak, “Itu! Itu! Itu!” sambil menunjuk ketiga anjing tadi. Semakin paniklah kami dan tidak ada yang bisa kami lakukan selain menenangkan Kiara sambil tetap berjalan tenang, berusaha tidak menimbulkan kecurigaan apa-apa di mata ketiga anjing tersebut.

Syukurlah anjing-anjing itu membiarkan kami berlalu dan tidak menanggapi teriakan histeris Kiara.

Itu waktu Kiara masih batita. Sekarang Kiara sudah mau empat tahun dan kami berdua nyaris kembali mengalami hal serupa.

Sekitar tiga bulan yang lalu, karena hari Minggu tukang sayur tidak jualan, saya dan Kiara pergi ke pasar. Sekalian olahraga. Jalan menuju pasar yang biasanya dilalui banyak kendaraan, pada hari Minggu jadi sepi. Saya dan Kiara pun berjalan dengan santai dan nyaman. Kami ngobrol, tertawa, pokoknya have fun deh.

Dari arah berlawanan, datang dua ekor anjing yang besar. Mereka dituntun pemiliknya. Mendadak saya jadi ingat peristiwa lalu saat kami bertemu tiga ekor anjing saat jalan-jalan bertiga. Bagaimana kalau Kiara masih tetap antusias saat melihat anjing? Saya sudah menyuruhnya untuk tidak ribut-ribut kalau bertemu anjing sih. Tapi yang namanya anak-anak, kadang mereka suka mengabaikan nasehat kan?

Dan yang saya takutkan, anjing-anjing itu berbuat nekat kepada kami meski mereka didampingi sang tuan. Apalagi saya dan Kiara jalan kaki. Membuat kedua anjing itu bisa dengan mudah mengejar dan menyerang kami. Kakak ipar saya saja yang naik sepeda motor bisa mengalami kecelakaan gara-gara dikejar anjing. Apalagi kami. Sudah begitu, Kiara sudah besar dan saya dalam keadaan hamil. Mustahil saya menggendong Kiara apalagi sambil berlari.

Ketika anjing-anjing itu patuh dengan mengikuti arah yang ditunjuk tuannya, saya merasa lega. Untungnya lagi, Kiara ingat nasehat yang diberikan saya dan suami, untuk tidak berteriak dan menunjuk anjing yang kami temui di jalan. Saya dan suami tidak memberikan penjelasan yang aneh-aneh. Kami hanya mengatakan bahaya anjing kalau Kiara memperlihatkan rasa senangnya di depan binatang tersebut. Sederet pertanyaan pun muncul dari mulut anak balita ini. Namun pada akhirnya dia mengerti apa yang kami maksud.

Bukan bermaksud menakut-nakuti. Saya tidak mau Kiara menjadi penakut ataupun antipati dengan binatang tertentu, hanya karena binatang itu buas. Saya hanya ingin Kiara berhati-hati. Pasalnya, Kiara kan menganggap semua binatang itu baik dan lucu seperti kucing.

Saya ingin Kiara menghargai sesama makhluk ciptaan Allah. Kalau kami tidak bisa memelihara binatang dengan baik, paling tidak kami memperlakukan mereka dengan baik. Dan kalaupun Kiara tidak menyukai binatang tersebut, dia tetap tidak boleh menyakitinya.

Di mata anak kecil, semua binatang itu baik. Tidak ada yang buas atau yang jinak. Dari sini saya belajar bahwa ketidaktahuan ibarat mata yang polos, tidak tertutup apapun. Kita jadi bisa melihat segala sesuatu dengan jernih. Beda halnya kalau kita sudah mengetahui segala hal. Apa yang kita ketahui menjadi kaca mata yang bisa mengaburkan pandangan kita.

Masih banyak hal lain yang secara tidak sadar Kiara ajarkan pada saya melalui perbuatan-perbuatannya yang inosen. Tidak tahu nih Akira. Apa dia juga akan berteriak histeris saat bertemu anjing? Atau malah takut. Tiap anak kan beda-beda. Saya tidak tahu apa yang akan dia ajarkan pada saya kelak.

Di depan kandang harimau. Kiara sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.

2 thoughts on “Kiara dan Anjing-anjing Kompleks

  1. Bambang

    Jangan biar kan anak takut dgn apa yg ada di libgkungannya, agar tdk menjadi penakut. Arah kan dengan memberiknnya pengertian kasih sayang tanpa meninggal kan kewaspadaan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *