Ketika Hujan Turun

Pada suatu hari, matahari bersinar cerah sekali. Sama sekali tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Hari itu, matahari tampak ceria sekali. Orang-orang bumi merayakannya dengan menghabiskan waktu mereka di luar rumah. Ada juga yang dengan giat mencuci pakaian dan menjemurnya di halaman.

Tapi di salah satu sudut langit, awan kelabu menggumpal tebal sekali. Sesekali terdengar suara petir. Meski letaknya agak jauh dari matahari, namun matahari merasa terganggu dengan suara geluduk itu. “Jangan berisik, awan kelabu, nanti orang-orang bumi mengira akan turun hujan. Untuk sementara, tahan dulu keinginanmu untuk menurunkan hujan. Hari ini aku ingin menghibur mereka,” pinta matahari.

“Aku tidak bermaksud menurunkan hujan, matahari. Justru aku mencegah tetes-tetes hujan ini supaya tidak turun ke bumi,” awan kelabu membela diri.

“Maksudmu?” matahari tidak mengerti.

“Begini. Tetes-tetes hujan di dalam tubuhku ini sudah banyak. Mereka mendesak supaya aku mengeluarkan mereka dari tubuhku. Lihat saja, mereka mendorong-dorong aku supaya aku menuruti permintaan mereka. Sampai-sampai aku harus memarahi mereka karena aku kesakitan tubuhku didorong-dorong dari dalam seperti ini. Aduh, kalian bisa diam tidak sih?” awan kelabu memarahi tetes-tetes hujan di dalamnya.

Di bumi, suara itu terdengar seperti petir. Orang-orang bumi pun sontak khawatir kalau-kalau hujan turun sementara mereka tengah asyik menikmati matahari.

“Kenapa kamu tidak bilang padaku?” kata matahari. “Aku kan bisa hengkang dulu dari langit dan membiarkanmu menurunkan tetes-tetes hujan di dalam tubuhmu itu.”

“Tidak, matahari. Orang-orang bumi kan tidak menyukai hujan. Lihat saja, kalau hujan turun mereka pasti ngomel-ngomel. Tidak bisa keluar rumahlah, jemuran tidak keringlah.”

Matahari diam. Ia berpikir, mencari solusi yang baik bagi semua pihak.

Tidak lama kemudian matahari sudah mendapatkan jawabannya. “Begini saja. Aku tidak tega melihat tetes-tetes hujan terus-menerus dikurung di dalam tubuhmu, awan kelabu. Kamu pun kesakitan karena ulah mereka. Karena itu aku akan minggir sejenak dan memberi kesempatan mereka untuk turun ke bumi.”

“Tapi… bagaimana dengan orang-orang bumi?”

“Tidak perlu khawatir. Kan aku hanya memberi waktu sebentar saja. Setelah tetes-tetes hujan itu puas, aku akan memanggil mereka kembali ke langit.”

Awan kelabu manggut-manggut. “Baiklah, kalau itu memang keputusanmu.”

“Nah, sekarang coba kamu berteriak sekadar memberitahu orang-orang bumi bahwa hujan akan turun. Kamu juga harus bergerak perlahan-lahan menutupiku. Setelah mereka kembali masuk rumah dan mengangkat jemuran, aku akan memberi aba-aba padamu untuk menurunkan hujan.”

Awan kelabu berteriak dan bergerak perlahan menutup matahari. Orang-orang bumi bersiap-siap kembali ke rumah. Mereka ngomel-ngomel karena kesenangan mereka terganggu. Awan kelabu merasa tidak enak hati. Tapi melihat matahari yang tenang-tenang saja, dia pun ikut tenang.

Langit mendung sekarang.

“Siap-siap, ya. Satu… dua… tiga… Ya, turunkan hujannya!” komando matahari.

Awan kelabu membuka semua pintu dan membiarkan tetes-tetes hujan berjatuhan ke bumi. “Cihuy, akhirnya kita bebas!” seru tetes-tetes hujan dengan riang. Mereka tidak peduli orang-orang bumi sebal melihat mereka turun ke bumi.

Tetes-tetes hujan yang jumlahnya tidak terhitung itu berjatuhan di berbagai tempat. Ada yang mendarat di atas genteng, daun, tanah, mobil, payung. Di manapun mereka jatuh, mereka tidak kesakitan. Tetes hujan selalu ceria. Mereka menjadikan bumi sebagai tempat bermain. Atap rumah dijadikan prosotan. Begitu juga payung atau mobil. Dan tanah mereka jadikan tempat persembunyian. Walau untuk itu semua mereka jadi kotor.

“Berani kotor itu kan baik,” begitu prinsip tetes hujan. Mereka seolah yakin, nanti pun mereka akan kembali bersih. Entah bagaimana caranya.

Selama satu jam hujan turun tiada henti. Dari balik awan kelabu yang sekarang sudah memudar warnanya, matahari mengintip keadaan mereka. Ia tersenyum. “Kalian pasti senang melihat mereka bersuka cita,” katanya pada awan-awan.

“Tentu.”

Orang-orang bumi kesal bukan main. Beberapa janji terpaksa dibatalkan. Jemuran darurat dipasang di dalam rumah untuk menampung pakaian yang belum kering. Tapi, ada juga yang diam-diam senang hujan turun. Ada yang duduk saja di dekat jendela sambil mengamati hujan. Ada yang duduk di depan televisi sambil menyeruput minuman hangat. Bahkan ada juga anak-anak yang nekat bermain bola di bawah guyuran hujan.

Setelah satu jam, hujan berhenti. Tetes-tetes hujan ada yang berkumpul di atas jalan, membentuk genangan. Ada yang menetap di dalam tanah. Ada yang menyusuri sungai hingga ke laut.

“Sudah cukup waktu bagi mereka untuk bermain. Sekarang waktunya mereka pulang,” kata matahari.

“Betul. Ayo, matahari, bujuk mereka supaya pulang. Kalau aku yang membujuk, pasti tidak akan mempan,” ujar awan sambil mempersilakan matahari muncul di antara celahnya.

Matahari pun kembali menampakkan dirinya. Tetes-tetes hujan yang masih betah bermain di bumi terkejut. “Kok mataharinya datang? Mau apa dia?”

“Waktunya pulang, tetes-tetes hujan. Kalian jangan lama-lama di bumi.”

“Tapi kami masih ingin bermain di sini,” bela tetes hujan.

Matahari tersenyum sambil menggeleng. “Nanti deh kalian boleh main lagi ke sini. Untuk sementara, sampai di sini dulu. Langit menunggu kalian dari tadi.”

“Tapi bener ya kami boleh ke sini lagi. Jangan bohong lho, dan waktunya nggak pake lama.”

“Iya, iya. Yuk!” matahari menyorotkan sinarnya pada bumi. Tetes-tetes hujan pun terbang kembali ke langit melalui celah awan.

“Terima kasih, matahari, sudah memberi kesempatan pada mereka untuk bermain sebentar. Mudah-mudahan setelah ini tetes-tetes hujan tidak lagi rewel minta keluar,” kata awan.

“Tidak usah dipikirkan, karena aku sendiri hanya memberikan sedikit waktu. Tapi nanti kalau aku sedang lelah bersinar, tetes-tetes hujan boleh turun selama yang mereka inginkan.”

Terdengar sorak dari atas awan. Tetes-tetes hujan senang sekali mendengar janji matahari.

Langit pun kembali bersih. Awan kelabu kini berwarna putih karena tetes-tetes hujan tidak lagi menangis sampai awan kelebihan muatan air.

Orang-orang bumi kembali menikmati sinar matahari. Mereka bersyukur, hujan ternyata hanya sebentar saja turun.

Sore harinya, saat akan terbenam, matahari mengeluarkan cahaya jingga yang berbaur di langit. Langit tampak indah sekali. Sementara itu tetes-tetes hujan lelap setelah puas bermain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *