Demi Masa Depan Anak

Akhirnya saya menemukan resep membuat adonan plastisin buat mainan Kiara. Itu tuh, seperti adonan malam. Belum dibuat sih, hehehe. Tapi dengan menemukan resep tersebut, saya bisa memberikan mainan yang aman buat Kiara. Siapa tahu Kiara bisa rada anteng kalau dikasih mainan.

Selama ini, Kiara tidak punya mainan. Ada mainan kecrekan, yaitu mainan dari plastik dengan bentuk bola, bunga dan kupu-kupu, yang bisa mengeluarkan bunyi kalau digoyang. Itu mainannya waktu bayi sih. Lalu ada boneka beruang dan keledai, yang suka dijadikan “senjata” kalau Kiara tidak mau makan. Ada juga hp yang jadi alat buat belajar menelepon dan bicara sendiri.

Saya dan suami sengaja tidak membelikan Kiara banyak mainan. Pengin sih membelikan puzzle atau lego, atau kalau Kiara sudah besaran saya mau belikan satu set bola bekel dan dakon. Namun untuk saat ini, sejak bayi hingga sekarang, mainan Kiara sangat seadanya. Bahkan paling banter ya saya sendiri yang dijadikan mainan. Atau Kiara main masak-masakan pakai peralatan makan dari plastik.

Kami berdua punya alasan kenapa Kiara tidak diistimewakan dengan aneka macam mainan seperti anak-anak lain. Pertama, kami tidak mau memanjakan Kiara dengan cara seperti itu. Saya males lihat ada anak merengek minta boneka atau mobil-mobilan, padahal dia punya banyak mainan di rumah.

Saya sendiri waktu kecil seperti itu. Kalau diajak jalan-jalan ke toko dan lihat boneka, pasti minta dibelikan boneka. Untungnya, mama saya tergolong “pelit” untuk urusan yang satu ini. Sebab beliau tahu persis saya punya banyak boneka di rumah. Jadi, walaupun ujung-ujungnya saya tetap dibelikan boneka, selalu didahului dengan peringatan, “di rumah udah banyak boneka lho.” Kan saya jadi agak nyesel beli boneka lagi, hehehe.

Khawatirnya, terlalu rajin membelikan mainan memicu perilaku konsumtif pada anak di masa mendatang. Saya tidak mau kalau suatu saat Kiara seperti itu. Lebih baik punya sedikit mainan tapi dirawat dan digunakan dengan baik, ketimbang punya banyak tapi tidak terawat.

Kedua, kami percaya, orang tua adalah teman bermain (atau permainan) terbaik bagi anak-anak. Jadi, anak tidak perlu diberikan banyak mainan supaya senang. Cukup didampingi ayah ibunya saja. Tapi saya sadar, saya tidak bisa terus-terusan menemani Kiara. Kan saya juga harus mengerjakan pekerjaan lain. Namun mengganti posisi orang tua dengan mainan juga bukan solusi yang tepat.

Jalan keluarnya, saya mengalah. Masak, nyuci, kerja, semua saya lakukan ketika Kiara tidur. Kalau kepaksa banget, misalnya tidak ada orang yang bisa dititipi, saya ajak Kiara masak atau nyuci. Yang penting dia berada jauh dari benda-benda berbahaya seperti kompor atau tempat pisau.

Ketiga, Kiara kan sangat aktif. Dia juga gampang bosan dengan satu barang. Pernah dipinjami mobil-mobilan sama sepupunya karena Kiara kelihatan pengin banget mobil-mobilan itu. Kenyataannya, mobil-mobilan itu tidak bertahan lama di tangan Kiara, karena Kiara keburu kepincut sama bola. Jadi kalau kami membelikan Kiara mainan dan dia masih punya sifat pembosan, akhirnya malah mubazir.

Keempat, kami berusaha untuk selalu menabung buat masa depan Kiara. Uang sekecil apa pun, apalagi kalau rezekinya anak, kami simpan untuk kebutuhannya di hari-hari nanti. Terutama untuk pendidikan. Biaya sekolah kan setiap tahunnya naik terus. Sekolah negeri bisa gratis. Tapi sekolah swasta? Belum kalau Kiara harus ikut les. Kalaupun dia bisa sekolah di sekolah negeri terus dan gratis, atau dapat beasiswa, dana yang kami siapkan bisa untuk biaya kuliahnya kelak.

Karena saya dan suami bukan PNS, bukan orang kaya pula, kami tidak bisa menggunakan uang sesuai keinginan kami. Kami hanyalah penulis lepas, yang mengandalkan kucuran dana dari hasil royalti atau orderan nulis dari klien. Kadang dalam sebulan kami bisa kebanjiran proyek sampai kewalahan. Bisa juga dalam sebulan kami tidak dapat job selain menulis untuk kepentingan sendiri, yang belum tentu ada uangnya.

Dan berhubung harus mengurus anak yang sangat aktif, saya tidak bisa diharapkan jadi tulang punggung kedua. Saya freelancer yang sangat free. Kalau seharian nemenin Kiara terus, ditambah kalau banyak pekerjaan rumah, malamnya kalau Kiara tidur, saya juga tidur sampai besok subuhnya karena kecapekan. Jadi, nggak nulis-nulis deh.

Makanya, kalau dapat uang, kami harus menggunakannya seefisien mungkin. Setiap bulannya saya dan suami menjadi financial planner untuk keluarga kami sendiri. Kami harus menyisihkan uang untuk tabungan, belanja, iuran ke mama berhubung kami masih numpang di rumah mertua, investasi, dsb. Pokoknya hal-hal penting harus diutamakan, terutama yang menyangkut keperluan si kecil.

Kesannya mungkin kami pelit. Tapi kami masih bisa bersenang-senang kok. Kadang-kadang kami beli makan di luar kalau di rumah tidak ada makanan, membelikan Kiara es krim dan baju, jalan-jalan, dan setahun sekali mudik ke Bandung. Namun tetap, kami tidak boleh takluk sama yang namanya “boros”. Apa saja yang kami lakukan yang ada kaitannya dengan uang, pokoknya jangan sampai kebablasan.

Semua itu kami lakukan demi masa depan Kiara. Supaya nanti dia tidak hidup kekurangan. Juga, supaya dia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Jangan sampai mentang-mentang punya uang lantas sebentar-sebentar belanja, dikit-dikit beli. Untuk itu, kami harus memberikan contoh terlebih dulu. Anak kan sukanya meniru orang tua.

Dengan alasan seperti ini, jangan heran kalau Kiara tidak memegang tablet. Lagipula, gadget juga menimbulkan beberapa dampak yang tidak baik bagi anak. Selain menyebabkan kerusakan pada mata, juga mengakibatkan gangguan emosional. Anak jadi cepat marah, sulit menanggapi komunikasi dengan orang lain, pasif.

Jadi, Nak, kita main rumah-rumahan dari barang-barang yang ada saja. Kita pinjam alat-alat tulisnya yayah, peralatan makan dari plastik punya eyang yang sudah tidak digunakan, atau ingatkan bunda untuk membuat orang-orangan dari kardus bekas.

Gambar dirampok dari sini.

3 thoughts on “Demi Masa Depan Anak

  1. Pingback: 1000 Hari yang Penuh Kesan | rie yanti

  2. meizitang soft gel original

    I have been on MFP to get a even though, but typically forget to log except if I am within a tremendous diet mode! Final yr I was provided a meizitang soft gel original pill by my Dr and that i misplaced 30 lbs, even now much off from the eighty two that I would prefer to drop, but 5 months soon after the pill ended I obtained all my fat back! And i necessarily mean ALL OF IT! So this time I’m going to test it balanced, my primary objective would be to eat a lower carb food plan. I need interruptions from snacking so I’m on the lookout for some meizitang soft gel original buddies that i can swap tales, recipes, and just everyday events back again and fourth!

    Reply
  3. Pingback: 1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan | rie yanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *