Bus Kuning

Tahun 2008 lalu, saya menerbitkan kumpulan cerpen saya, Bus Kuning, di Warung Fiksi.  Judul diambil dari salah satu cerpen yang ada dalam buku tersebut.

Cerpen Bus Kuning bercerita tentang seorang gadis yang merindukan kehadiran bus kuning. Dalam fakta, bus kuning adalah salah satu sarana transportasi gratisan yang ada di kampus saya, Unpad Jatinangor, dari gerbang bawah sampai ke tiap fakultas.  Maklum, kampus Unpad kan terletak di bukit. Melelahkan kalau para mahasiswanya harus jalan kaki menuju dan dari fakultas masing-masing. Kecuali bagi mereka yang membawa kendaraan sendiri.

Sebetulnya selain bus kuning, ada juga alat transportasi lain yakni angkot. Ada beberapa unit angkot dan semuanya memasang tarif 400 rupiah, ke fakultas mana saja. Angkot lebih cepat penuh dibanding bus kuning, karena itu bisa lebih cepat juga. Tapi naik angkot tidak seseru naik bus. Angkot kan pendek dan muat sedikit, sementara bus tinggi dan besar sehingga bisa muat banyak. Gratis pula, hehe.

Tidak setiap hari saya dan teman-teman naik bus kuning. Fakultas Sastra tidak begitu jauh  dari gerbang dibandingkan fakultas lain. Ada jalan pintasnya pula, meskipun tetap saja harus mendaki bukit. Bahkan di pagi hari kami lebih memilih jalan kaki sekalian olahraga. Soalnya kalau pagi bus kuning biasanya penuh dan kami malas bersaing dengan penumpang lain.

Pulangnya, kalau kebetulan bus kuning lewat atau berpapasan saat kami berjalan menuju gerbang, kehebohan langsung terjadi. Saya dan teman-teman langsung menyambut bus kuning dengan penuh suka cita, menaikinya dengan antusias dan duduk di dalamnya sambil menghela napas lega. Kalau tidak kebagian tempat duduk, kami berdiri. Kecuali kalau bus kuning sesak banget, kami biasanya ogah naik.

Bus kuning adalah kendaraan yang membawa kami keliling Unpad. Pernah juga ia berperan sebagai roller coaster. Seperti yang diceritakan dalam cerpen, bus kuning pernah melaju di jalanan menurun tanpa kendali. Supirnya seperti tidak menginjak rem. Semua penumpang, apalagi cewek, pada menjerit. Yang kebagian tempat duduk, duduknya jadi bergeser ke depan. Yang berdiri pun begitu (saya lupa, mereka pegangan pada apa ya?).

Lalu suatu hari, selama beberapa hari dan seterusnya, bus kuning tiba-tiba tidak beroperasi, diganti oleh angkot biru. Ketika suatu hari saya naik motor dibonceng teman lewat belakang Unpad, saya melihat bus kuning diam saja di salah satu gudang di sana. Dari fisiknya, terlihat sih kalau bus kuning itu makhluk tua. Mungkin karena itu juga ia tidak lagi digunakan.

Saya dan seorang teman saya punya panggilan kesayangan untuk bus ini: bagnole. Dalam Bahasa Prancis, bagnole artinya mobil. Dan coba lafalkan istilah tersebut (sekalian belajar Bahasa Prancis): banyol. Lucu kan? Banyol bisa membuat orang tertawa. Banyol bisa membuat orang senang.

Seperti itulah bus kuning. Warnanya yang kuning membawa keceriaan. Dan ketika bus itu tidak hadir lagi, saya sedih bukan kepalang.

6 thoughts on “Bus Kuning

  1. Rie Post author

    Jaman Teh Rini masih baru. Jaman aku udah tua. Ck, ck, ck… Terakhir ke kampus November kemarin, tetep nggak ada bus kuning. Jd bener2 udah nggak ada.

    Reply
  2. Ann

    Pengalaman naik bus seperti ini waktu SD dan waktu kerja di luar.
    Di SD gak pake desak desakan karena bus jemputan bayar tapi waktu kerja di luar ya harus rebutan-rebutan naik, jadi meskipun kerja di hotel tetap aja kayak buruh pabrik waktu jam pulangnya 🙂
    Maklum busnya cuma satu jam sekali, jadi kalau gak dapat tempat harus nunggu 1 jam lagi

    Reply
  3. Rie Post author

    Di sana busnya disiplin banget ya, tiap satu jam gitu. Di sini sih hampir tiap waktu. Ada untungnya juga nggak teratur jadwalnya, jadi nggak usah lama nunggu. 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *