Belajar dari Masha and The Bear

Apa yang bisa membuat Kiara anteng di atas kasur, di depan pesawat tv yang sedang menyala?

Jawabannya hanya satu: Masha and The Bear.

Saya lupa sejak kapan Kiara suka kartun keluaran Animaccord Studio ini. Nontonnya sih sejak akhir tahun lalu (atau awal tahun ini ya?). Tapi waktu itu Kiara lebih suka nonton iklan ketimbang acara tv. Kalau disodori Masha and The Bear, dia malah minta iklan. Mungkin sejak awal bulan kemarin Kiara menggemari Masha. Malah sekarang dia suka jerit-jerit, “Masha! Masha!” kalau lihat Masha. Bukan hanya di tv, tapi juga di pasar ketika melihat baju anak-anak bergambar tokoh kartun asal Rusia itu.

Saya yang pada dasarnya suka film anak, jadi ikutan suka Masha. Masha, gadis kecil berumur sekitar lima tahun, suka berpakaian dan berkerudung merah jambu, adalah anak yang nakal. Selalu saja ada ulahnya yang bikin Michka, beruang eks pemain sirkus, kesal. Ajaibnya, biarpun kesal, biarpun capek harus meladeni Masha terus, Michka tetap sabar. Coba saya, suka nggak sabaran kalau Kiara berulah. Hehehe.

Sedikit ulasan mengenai Masha and The Bear sebelum saya me-review ceritanya. Kalau saya baca di internet, cerita Masha and The Bear ini merupakan adaptasi dari cerita rakyat Rusia (teman-teman bisa baca ceritanya di sini). Ada juga yang bilang diambil dari sebuah buku karya Lary Don. Cuma, ceritanya dimodifikasi. Masha and The Bear versi serial tv lucu dan sangat menghibur.

Masha suka sekali makan lolipop, gemar melompat-lompat pakai ember, jago main hoki, suka memasukkan kepalanya ke dalam toples, dan yang paling menonjol, dia selalu mengganggu Michka si beruang. Kalau Masha agak berantakan, Micha suka kerapian, rajin, banyak kabisa (pinter memasak, menjahit), cinta damai, dan telaten sama anak kecil. Ia juga mengerti bahasa manusia, serta selalu melindungi Masha dari terkaman srigala.

Selain Masha dan Michka, ada juga kelinci, tupai, landak, harimau, beruang betina yang ditaksir Michka, panda, dan penguin. Meski tokoh srigala tampak buas dan ingin menyantap Masha, tapi mereka (srigalanya ada dua) juga takut sama Masha. Harimau yang merupakan sahabat beruang di sirkus juga awalnya tidak menyukai Masha. Tapi karena Masha sudah menyelamatkannya saat tersesat di hutan, harimau pun jadi menyukai Masha. Jadi bisa saya katakan, dalam serial ini tidak ada tokoh antagonis. Pun, sekesal-kesalnya mereka pada Masha, tidak ada tuh adegan yang kasar.

Ini membuat Masha and The Bear cocok ditonton oleh segala usia. Kan ada tuh acara-acara kartun yang tidak cocok untuk anak-anak. Sebut saja Spongebob Squarepants, bahkan Tom and Jerry. Berbeda dengan semua itu, Masha and The Bear, menurut saya, bisa mendidik anak-anak. Ada pelajaran yang bisa diambil dari setiap episodenya.

Dalam Jam Day, misalnya, Masha menghabiskan semua buah yang sudah dipetik Michka. Padahal buah-buah itu tadinya mau dibuat selai. Michka pun gusar. Lantas dia meninggalkan Masha di halaman rumahnya untuk mencari buah lain di hutan. Masha bukannya tidak peduli. Dibantu kelinci, tupai dan landak, dia memasak untuk makan malam Michka. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Seperti itulah pesan di episode ini.

Atau dalam eposide Sweet Life. Waktu Masha kebanyakan makan loli terus sakit gigi. Melalui adegan demi adegan dalam episode tersebut, penonton jadi tahu kalau sakit gigi itu tidak enak. Jadi biar nggak sakit gigi, ya jangan kebanyakan makan yang manis-manis. Atau, rajin-rajinlah menggosok gigi.

Saya kira, yang namanya tayangan anak-anak memang harus begitu. Ada pesan moral yang disampaikan dengan cara yang menghibur. Jadi anak-anak bisa mendapatkan dua keuntungan ketika menontonnya. Pertama, hiburan. Kedua, pembelajaran yang disampaikan dengan cara yang halus. Dengan cara seperti ini, anak-anak bisa mudah memahami makna suatu kejadian tanpa harus merasa sedang digurui. Asyik kan?

Lalu, seperti yang saya katakan tadi, Michka selalu sabar menghadapi tingkah Masha yang selalu membuatnya jengkel. Ini pelajaran buat ibu-ibu, nanny, atau para pengajar. Bersabarlah dalam menghadapi anak-anak. Ini pelajaran buat saya juga sih. Bahwa hak anak-anak adalah bermain. Kegiatan ini jika diarahkan dengan baik, akan berpengaruh baik pula pada tumbuh kembang anak-anak. Kalaupun rumah jadi berantakan, baju jadi kotor, ya tidak apa-apalah. Namanya juga anak-anak. Yang penting kan mereka gembira, sehingga setiap hari kita bisa mendengar suara tawa mereka.

Makanya saya suka Masha and The Bear. Kualitas animasinya bagus, ceritanya keren, tokoh Mashanya menggemaskan, lagu-lagunya enak didengar. Hebat bener Andrei Dobrunov, Oleg Kuzovkov dan Dmitry Loveiko, para pencipta cerita ini. Plus, suara tawa khas Masha yang renyah banget yang diisi oleh Aline Kukushkina.

Tapi yang lebih hebat lagi adalah Kiara, yang bisa memilih acara tv yang bagus untuknya 🙂

5 thoughts on “Belajar dari Masha and The Bear

  1. Pingback: Mudik | rie yanti

  2. Pingback: Balada Adit, Sopo dan Jarwo | Brahmanto Anindito's Blog

  3. Pingback: Tokoh Anak di Kartun yang Mendunia, Kok Nggak Berayah-Ibu? | Warung Fiksi ®

  4. Pingback: Kiara 6: Menonton Moana di Bioskop | Blog Brahmanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *