Arti Sebuah Blog

Sejak punya blog sendiri, Cerita Rie, saya jadi agak malas menulis di blog lain. Yah, kadang-kadang saya juga mengirim tulisan ke beberapa blog dan masih menulis di Warung Fiksi. Namun kemalasan itu semakin bertambah seiring dengan seringnya saya meng-update blog sendiri.

Blog merupakan media yang menyenangkan buat saya. Bagaimana tidak, saya bisa mem-posting tulisan kapan saja saya mau, tentang apa saja, sepanjang apa pun. Semua saya yang atur. Tidak seperti di media cetak di mana tulisan saya bisa ditolak atau bahkan tidak jelas nasibnya. Atau di blog lain di mana tulisan saya dimuat dengan waktu yang telah ditentukan pengelola blog.

Di blog sendiri, tidak seperti itu. Jadi ketika awal punya blog saya keluarkan tulisan-tulisan saya yang selama beberapa waktu tersimpan apik di komputer. Dalam seminggu bisa beberapa kali saya meng-update blog; malah pernah hampir setiap hari. Dan saya tidak peduli tulisan-tulisan saya menarik atau tidak. Sebab saya kadung senang dengan go public-nya tulisan saya, yang kemudian dibaca, dikomentari, atau bahkan disukai.

Kalau ada yang tahu riwayat menulis saya, dia pasti bisa maklum. Soalnya dulu yang membaca karya-karya saya ya saya sendiri. Berkali-kali saya mengirim tulisan ke berbagai media cetak, pernah juga ikutan sayembara menulis, cuma satu yang dimuat dan tidak pernah ada yang memenangkan lomba.

Namun, akibat terlalu senang ngeblog, saya jadi malas menulis buku. Selama kurun waktu tertentu saya terus menunda-nunda kegiatan menulis buku dan malah asyik mencari ide untuk tulisan di blog. Saya terlena ngeblog, dari awal punya blog yakni bulan Februari 2010 sampai bulan Mei kemarin. Yang kelewat parah, saya mem-publish cerita-cerita yang semestinya disimpan saja di computer dan bukan dibaca publik.

Saya merasa blog saya sudah berantakan. Karena itu juga saya memutuskan untuk membuat blog ini (dibantu Brahm, pastinya, karena dia yang memegang warungfiksi.net). Isi blog ini lebih fokus ke masalah penulisan, tapi tidak sama persis dengan warungfiksi.net karena isi blog ini lebih personal dan beraneka. Umpamanya saja saya bisa menulis puisi dan cerita fiksi.

Dengan waktu update yang seminggu sekali dan lebih fokus ke satu subjek, saya merasa blog ini lebih rapi dan profesional. Tidak heran, saya seperti dituntut untuk berpikir lebih baik serta bisa memilah mana yang penting untuk dibagi dengan orang lain dan mana yang tidak. Ini juga membuat saya dapat memberi banyak waktu untuk kegiatan lain seperti menulis buku, berkumpul dengan keluarga, atau mengerjakan pekerjaan rumah (karena saya bekerja di rumah sehingga tanggung jawab saya tidak sebatas mengurus tulisan).

Hal yang sama saya terapkan pada Cerita Rie. Blog saya yang satu itu akan saya isi dengan hal-hal di luar dunia tulis. Namun berbeda dengan sebelumnya, saya ingin menulis tentang hal-hal yang memang layak di-share kepada orang lain. Biarpun postingannya cuma berupa sebuah gambar atau sebaris kalimat. Biarpun, tidak tertutup kemungkinan juga, saya mem-publish sesuatu yang sangat berarti buat saya, misalnya foto keluarga. Namun tentu saja saya memilih yang paling berkesan, dengan tujuan baik saya maupun pembaca sama-sama mendapat semacam “pencerahan” melalui postingan tersebut.

Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa blog adalah semacam ruang pameran tempat seseorang memamerkan karyanya. Tidak peduli bagaimana ukurannya dan penilaian orang terhadap karya tersebut.

3 thoughts on “Arti Sebuah Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *