Angkoter

Dalam Satin Merah, diceritakan bahwa Nadya, si tokoh utama, selalu bepergian naik angkot. Entah itu ke sekolah, atau ke rumah para sastrawan Sunda di Bandung. Padahal, Nadya anak orang kaya. Sepantasnya dia membawa kendaraan sendiri. Tapi karena satu hal, dia tidak mengendarai mobil sendiri. Karena itu Nadya naik kendaraan umum. Dan angkot yang dipilih.

Ini juga tidak lepas dari keseharian saya kalau jalan-jalan di Bandung. Saya tidak pernah membawa kendaraan sendiri; baik mobil ataupun motor. Dulu pernah kursus menyetir dan punya SIM. Namun nyali saya selalu ciut tatkala berada di jalan raya.

Jadilah saya naik angkot. Dari rumah (Cicalengka), naik kereta. Sampai di Bandung, untuk menempuh berbagai tempat, saya naik-turun angkot. Berapa angkot yang saya gunakan, tergantung di mana destinasi saya dan dari mana saya bertolak.

Misalnya, untuk observasi Sastra Sunda (latar cerita Satin Merah), saya pergi ke PSS (Pusat Studi Sunda) di Jalan Taman Kliningan, daerah Buah Batu. Kalau dari Stasiun Bandung, naik angkot rute St. Hall –  Gede Bage pun bisa; hanya satu kali. Tapi jalannya memutar.

Karena itu saya biasanya naik kereta sampai Stasiun Cikudapateuh (Kosambi). Kemudian naik angkot rute Cikudapateuh – Ciroyom sampai Jalan Palasari. Setelah itu ganti naik angkot rute St. Hall – Gede Bage, satu-satunya angkot yang lewat kawasan Kliningan.

Wawasan angkot saya saat ini lumayan bagus, walaupun tidak jarang saya salah naik angkot sampai tersesat entah di mana. Kalau sudah begini, saya pura-pura hafal jalan saja, meskipun hal ini kadang tidak membawa saya ke tujuan semula. Masalahnya, kalau saya terlihat bingung, khawatir orang memanfaatkan kebingungan saya. Bandung memang bukan kota metropolitan, tetapi kriminalitas juga kerap terjadi di sini.

Banyak orang memprotes angkot. Saya mengerti. Angkot bikin macet. Angkot bikin jalanan di Bandung tidak enak dilihat. Saya pun harus mengakui, angkot kadang-kadang bikin saya kesal juga. Namun bagi orang seperti saya, yang lebih senang disupiri supaya bebas melamun atau tidur, angkot adalah pilihan yang tepat. Selain itu saya kadang punya tempat tujuan yang sukar dirambah oleh bus. Dengan angkot, saya bisa menempuhnya dengan mudah.

Dan tidak sia-sia saya suka naik angkot. Buktinya pengalaman sebagai angkoter ini bisa saya gunakan untuk keperluan pekerjaan: menulis. Kalau saya tidak hafal rute angkot, bisa-bisa saya mengalami kesulitan dalam menulis Satin Merah. Tapi karena lumayan hafal, saya bisa menambahkan  sedikit wawasan saya ke dalam beberapa bagian cerita, sehingga muncul kesan bahwa cerita dalam novel tersebut tampak nyata.

6 thoughts on “Angkoter

  1. Brahm

    Di Surabaya, angkot2nya lbh semrawut lho. Kalau di Bandung semrawut sih msh enak, hawanya lumayan sejuk. Lah Surabaya?

    Reply
  2. Ichi

    Waw, kalau Surabaya sempat tercatat sbg kota terpanas di Indonesia.

    Btw, peribahasa malu bertanya sesat di jalan ternyata nggak berlaku di kota besar. Kalau berani bertanya entar malah disesatin, hehe

    Reply
  3. Rie Post author

    Di Bandung sih kasus kayak gitu biasanya tergantung kita bertanya pada siapa. Bisa kita disesatin, bisa juga dikasih tau yang benar.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *