Anak Perempuan dan Ibu

Selama ini kita mengenal relasi yang istimewa nan harmonis antara anak perempuan dan ayahnya. Teman-teman pasti sering mendengar istilah “gadis kecil papa” atau “bidadarinya ayah”. Saya sendiri merasakan bahwa papap selalu menganggap saya istimewa. Padahal saya dan papap tidak dekat-dekat amat. Kami tidak pernah curhat sekalipun sering jalan bareng.

Lalu, bagaimana hubungan anak perempuan dengan ibunya?

Masalah ini jarang diungkit. Jikapun dibahas, yang menjadi pokok pembicaraan adalah hubungan yang kurang harmonis antara anak perempuan dan ibunya. Misalnya saja karena sang ibu selalu menuntut anak perempuannya begini begitu, sementara si anak mendamba kebebasan. Terutama sekali ketika si anak berada di usia remaja. Masa ketika dia sedang mencari jati diri dan tidak mau diatur-atur.

Dalam tulisan ini, saya ingin membahas masalah hubungan anak perempuan dan ibunya. Spesifiknya, hubungan saya dengan mama. Karena hubungan kami baik sekali. Dan karena sekarang saya sudah menjadi seorang ibu, jadinya saya bisa merasakan kurang lebih apa yang mama rasakan ketika punya anak perempuan.

Sejak kecil, saya seorang introvert. Saya lebih senang mengurung diri di kamar sambil mencorat-coret diary dan mendengarkan musik. Hal ini menjadikan saya kurang dekat dengan keluarga meskipun pulang sekolah sering pulang langsung ke rumah. Saya tidak pernah curhat soal teman pada papap. Pun saya tidak berani bilang kalau saya punya pacar pada mama. Masalah apapun saya simpan sendiri, selesaikan sendiri. Kalaupun cerita-cerita, saya pilih yang penting-penting saja.

Setelah papap meninggal ketika saya baru kuliah semester dua, tanpa diminta saya jadi lebih sering berada di rumah dan menampakkan diri di ruang keluarga. Saya jadi seperti punya tanggung jawab untuk menemani mama. Tidak hanya dengan cara setor beungeut (wajah), tetapi juga menyediakan telinga untuk keluh kesah mama. Padahal mama tidak pernah meminta saya menemani beliau. Baginya yang penting, saya tidak pulang malam kalau tidak perlu.

Setelah saya lulus kuliah, quality time bareng mama jadi lebih intens. Pagi-pagi kami ke pasar, sarapan bareng. Agak siangan, masak. Kalau ada keperluan ke luar rumah, kami pergi lagi siang atau sorenya. Kalau tidak, ya di rumah saja, istirahat, ber-me time, atau mengasuh ponakan saya. Lalu karena kami tidur bersama, sebelum tidur biasanya ada ritual dongeng sebelum tidur: ngobrol ngalor ngidul. Kadang serius, kadang becanda.

Kalau pada saat remaja saya menganggap mama over-protected, setelah lulus kuliah saya menganggap mama sebagai sahabat. Kadang-kadang kami bertengkar sih. Tapi ujung-ujungnya saya selalu merasa bersalah dan baikan lagi dengan mama. Sebab saya pikir, bagaimanapun mama selalu menyayangi saya.

Mungkin karena kami sering melewatkan waktu bersama sehingga kami bisa mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Saya menyadari, hubungan saya dengan papap kurang harmonis lantaran saya terlampau sungkan untuk bermanja-manja dengan papap. Setelah papap meninggal, saya menyesal sekali karena tidak pernah benar-benar dekat dengan beliau.

Bisa dikatakan, kedekatan saya dengan mama sekaligus untuk “membalas dendam” atas masalah itu. Apalagi mama juga kemudian punya peran ganda. Selain sebagai ibu, juga sebagai ayah yang selalu melindungi anak perempuannya. Meski kedudukan papap tidak bisa digantikan oleh siapapun termasuk mama atau kakak laki-laki tertua saya, saya tetap melihat mama berusaha mengemban tugas mendiang papap sebagai kepala keluarga: mencari tambahan nafkah selain dari uang pensiun papap yang dikorting 50%, memenej rumah, dsb.

Tulisan ini bukan artikel psikologi ataupun filsafat. Bukan pula tips-tips membina hubungan baik antara anak perempuan dan ibunya. Namun melalui tulisan ini, teman-teman mungkin bisa mengetahui kalau seorang ibu juga sangat berarti bagi anak perempuannya. Kalau selama ini seorang ibu dianggap punya hubungan baik dengan anak laki-lakinya (berlawanan dengan anak perempuan dan ayah), sekarang kita sama-sama tahu kalau anak perempuan juga punya tempat di hati seorang ibu.

Yang paling saya rasakan yaitu ketika saya akan menikah, sedang hamil, dan setelah melahirkan. Masa-masa yang saya sebut cewek banget. Mama banyak cerita soal jelang pernikahannya bersama papap. Dari beliau juga saya belajar memasak, dan hal-hal lain yang berkenaan dengan tugas domestik seorang istri.

Lalu ketika sedang hamil, saya lebih banyak bertanya kepada mama ketimbang mertua. Pun setelah saya melahirkan dan mengalami beberapa hal mengejutkan sebagai seorang ibu, dan terutama karena anak saya perempuan sementara mama mertua dan kakak ipar tidak pernah punya anak cewek, jadinya saya suka banyak bertanya pada mama.

Kadang saya kesal juga sih karena mama masih suka terpaku pada mitos. Tapi dengan bertanya pada mama, saya biasanya merasa tenang. Abaikan beberapa jawaban mama yang saya pikir kurang logis. Yang penting saya punya teman berbagi.

Dan sekarang, saya seorang ibu dari seorang anak perempuan. Kiara tergolong tomboy sih. Apalagi mas-mas sepupunya cowok. Tidak mengherankan kalau Kiara tertarik bermain bola dan mobil-mobilan. Makanya saya suka mengajak Kiara memasak atau main boneka. Supaya dia tidak lupa kalau dia adalah perempuan.

Saya tidak tahu kelak Kiara seperti apa kalau sudah beranjak remaja dan dewasa. Dan saya tidak tahu bagaimana rasanya menjadi ibu dari seorang remaja atau dewasa putri. Saya baru akan tahu nanti. Sementara sekarang saya berharap bisa selalu menjadi teman baik bagi Kiara.

Dan agaknya begitu juga yang diharapkan mama terhadap saya dan ibu-ibu lainnya terhadap anak perempuan mereka: menjalin persahabatan sejati. Namun sebelum mencapainya, barangkali beberapa ibu dan anak perempuannya harus melewati berbagai jenis relasi. Mungkin ada yang harus jadi musuh dulu, saingan dulu, seperti kakak-adik dulu, atau ada bisa saja langsung jadi teman baik. Ada yang awalnya sependapat soal model baju, tapi kemudian jadi bertentangan gara-gara beda selera soal potongan rambut. Ada yang tadinya suka berantem gara-gara sang ibu melarang anak perempuannya pacaran, tapi pada akhirnya malah jadi teman curhat.

Kunci yang sangat berdampak terhadap semua jenis hubungan itu adalah komunikasi dan saling pengertian. Percuma saja sang bunda atau sang upik berusaha mengkomunikasikan keinginan masing-masing kalau mereka tidak bisa mengerti pemikiran dan perasaan tiap individu. Ujung-ujungnya pasti salah paham, berantem.

Belajar dari pengalaman sendiri dan orang lain, serta berbekal dari ilmu parenting, saya berusaha menjadi teman bagi Kiara. Pada saatnya Kiara sudah punya teman di luar rumah kelak, tidak tertutup kemungkinan saya bakal sering ditinggal atau Kiaranya main rahasia-rahasiaan. Menyebalkan juga sih. Sudah capek-capek ngurus sejak dia bayi, eeeh malah dianggap tidak penting. Tapi saya juga harus ingat, bahwa saya pernah mengalami masa-masa seperti itu sebelumnya.

Suatu hari nanti, anak perempuan akan menjadi seorang ibu. Sebaliknya, seorang ibu dulunya juga anak perempuan.

2 thoughts on “Anak Perempuan dan Ibu

  1. Mochamad Yusuf

    Saya punya 2 anak cowok dan cewek. Betul, seperti kata orang, anak cewek dekat dengan ayahnya. Saya dengan Zelda, anak cewek saya, bisa bercerita-cerita, main bareng bahkan dia minta didongengi sebelum tidur. Namun dia dengan bundanya juga dekat. Kemarin mengantarkan anak-anak ke Pare untuk liburan. Zelda justru dekat dengan bundanya, dia nggak mau ditinggal.

    Ya, saya ingin menjadi sahabat bari mereka. Sebelum mereka punya sahabat lain, dan sahabat berumah tangga kelak.

    Btw, Ayahmu kerja di mana?

    Reply
  2. Rie Yanti Post author

    Wah, bagus tuh kalo dekat sama dua-duanya. Kalo Kiara… lebih dekat sama aku karena sehari-harinya sama aku. Kalo sama yayahnya, deket itu kalo pas jalan-jalan aja. Sementara di rumah mereka suka nggak akur karena yayahnya sering nyubitin terus sih 😛

    Bapakku dulu kerja di DLLAJ, Pak. Suka ditempatkan di luar Bandung, jadi jarang pulang.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *