1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan (Bag. 3)

Setahun pertama sudah dilewati. Tahun berikutnya, Kiara tambah lincah dan pintar saja. Banyak masalah baru yang terjadi. Dan lama-lama, ketahuan karakter Kiara seperti apa.

Alergi Sabun atau Telur?

Ketika Kiara lewat satu tahun (mungkin sekitar 14 bulan), dia menderita gatal-gatal di lengannya. Saya sempat mengira itu biang keringat. Namun setelah dianalisa lebih detail, sepertinya itu bukan biang keringat. Dan Kiara rajin sekali menggaruknya karena gatal.

Akhirnya saya dan suami membawa Kiara ke dokter. Katanya, Kiara alergi sabun, jadi saya harus mengganti sabun yang lama dengan merek lain.

Setelah saya olesi salep, alergi di kulit Kiara sembuh. Tapi beberapa hari kemudian muncul lagi. Padahal sabun Kiara sudah diganti. Hm, sepertinya Kiara tidak alergi sabun, melainkan makanan. Saya pun menaruh curiga pada telur ayam negeri. Kiara kan sudah satu tahun dan sedang seru-serunya berwisata kuliner rasa. Dan kalau waktu bayi dulu dia makan telur ayam kampung, sekarang telur ayam negeri. Wajar saja dia alergi.

Toilet Training

Saya tidak tahu berapa tahun persisnya seorang anak bisa memberitahu kalau dia mau pup atau pipis. Yang jelas, saya senang Kiara bisa merasa kalau dia mau pup. Jadi, sebelum pupnya keluar, Kiara bilang “pup” dulu. Saya senang dong Kiara bisa ngasih tau kalau mau ke belakang, walaupun usianya belum menginjak 1,5 tahun. Jadi, tidak ada lagi kejadian pup di celana atau di sembarang tempat. Apalagi karena Kiara tidak pakai pampers sehari-harinya.

Saya memang sengaja tidak memanjakan Kiara dengan pampers. Waktu bayi, Kiara cuma pakai popok atau celana, kecuali kalau bepergian atau stok celananya habis. Risikonya, kadang dia pipis atau pup (maaf!) di mana-mana, cucian dan kerjaan jadi banyak, boros deterjen, belum baunya.

Tapi saya melakukan itu buat kebaikan Kiara juga. Supaya dia bisa ber-toilet training lebih cepat. Apalagi di keluarga saya, karena ibu-ibunya di rumah, anak-anaknya juga tidak pakai pampers. Jadi mereka bisa ditatur bahkan sejak masih 10 bulanan. Sementara kalau pakai pampers, anaknya jadi keenakan.

Belajar Gosok Gigi

Saya termasuk ibu yang kurang telaten. Seharusnya sejak masih bayi, Kiara diajari menggosok gigi. Masalahnya, sisa ASI yang tidak tertelan bisa mengerak di gusi bayi. Jadi seharusnya gusi Kiara dibersihkan dengan kasa steril basah minimal setiap kali dia mau mandi. Dasar sayanya males. Membersihkan gusi Kiara kalau ingat saja.

Sejak Kiara belajar makan pun saya masih kurang telaten membersihkan mulutnya. Jadi ketika Kiara sudah berumur satu tahun dan mengenal makanan manis, saya pun “membayar utang” dengan membersihkan gigi Kiara secara rutin menggunakan washlap basah. Setelah gigi Kiara tumbuh semua, barulah saya beri sikat gigi.

Kiara senang bisa menggunakan sikat gigi, apalagi karena sebelumnya saya suka memamerkan kegiatan menyikat gigi padanya. Meski Kiara belum mahir menggosok gigi, hanya gayanya saja, paling tidak dia sudah terbiasa dengan kegiatan menggosok gigi dua kali sehari. Sehingga ke depannya, mudah-mudahan, Kiara tidak susah kalau disuruh menyikat giginya.

Sepatu Pemancing Jalan Kaki

Perkembangan motorik kasar Kiara termasuk telat, kecuali bicara. Umur hampir enam bulan baru bisa tengkurap. Duduk di usia sembilan bulan. Merangkak malah tidak lincah. Dan Kiara baru bisa jalan umur 15 bulan. Itu pun masih tertatih-tatih. Saya tidak mengonsultasikan masalah ini ke dokter atau membawa Kiara ke tukang pijat bayi untuk memijat kaki Kiara supaya kuat. Soalnya, Kiara bisa ngomong duluan. Jadi saya hanya memijat kaki Kiara ala kadarnya (yang penting kan ada sentuhan tangan ibunya), dan menuntun Kiara berjalan.

Satu lagi, saya belikan Kiara sepatu yang bisa berbunyi kalau bagian belakangnya diinjak. Kiara senang sekali punya sepatu seperti itu. Sampai-sampai dia memamerkan sepatu itu kepada siapa saja yang dia temui, sambil bilang, “tuk tuk tuk patu patu”. Menirukan lagu anak-anak yang saya ajarkan padanya tuh!

Jalan-jalan Sore dan Kehujanan

Dalam rangka pelesir ke Semarang, saya dan suami rutin membawa Kiara jalan-jalan setiap sore. Kiara sudah bisa jalan, tapi kami membawanya dengan digendong. Maksudnya sih, supaya kalau Kiara rewel di Semarang, kami terbiasa menggendongnya supaya dia tenang.

Suatu sore, langit cukup cerah ketika kami keluar rumah. Rute jalan-jalan kami saat itu sangat jauh. Sekalian kami juga mau ke minimarket. Tidak tahunya saat kami hendak keluar minimarket, di luar hujan deras sekali. Sialnya, saat itu mau waktu magrib.

Awalnya kami berteduh dulu di teras minimarket. Setelah dipikir-pikir, tidak mungkin juga kami menunggu hujan reda untuk pulang ke rumah. Terpaksalah kami bertiga pulang jalan kaki sambil hujan-hujanan. Saya memakai jas hujan atasan, sedangkan celananya dipakai suami. Pertimbangannya, saya kan menggendong Kiara, jadi saya lebih membutuhkan perlindungan di bagian atas badan, supaya sekalian melindungi Kiara dari terpaan hujan.

Kami bertiga berjalan pelan di bawah naungan payung besar. Hujan yang deras membuat jalanan banjir dan menyulitkan kami berjalan. Saya mengkhawatirkan Kiara. Bagaimana kalau dia kedinginan, sakit, rewel?

Di luar dugaan, Kiara tidak mempermasalahkan hujan. Dia tetap ngoceh dan bernyanyi dalam gendongan saya. Sampai di rumah pun dia tidak sakit atau kenapa. Seolah kehujanan barusan bukan masalah baginya.

Kok Jadi Sering Sakit?

Saya pikir, Kiara tidak akan pernah sakit. Maksud saya, waktu bayi kan dia dua kali dirawat. Setelah itu saya berharap dia tidak sakit lagi. Ternyata saya keliru, Kiara masih bisa sakit juga walaupun tidak parah. Sekadar flu, batuk, mencret, atau panas. Kalau masih bisa diobati dengan ASI sih, saya tidak membawanya ke dokter, juga memberinya obat apapun. Tapi, lain masalahnya kalau Kiara sering sakit walau cuma panas. Dan ini lebih sering karena tumbuh gigi.

Ada yang bilang ketika tahu Kiara sering sakit, kalau imunitas Kiara tidak bagus. Sebab kalau bagus, dia tidak akan sakit panas saat tumbuh gigi. Ingin saya katakan kalau sebetulnya normal-normal saja anak sakit panas ketika tumbuh gigi. Sayangnya, saya tidak punya penjelasan rasional mengenai hal ini. Bisa sih menjelaskan. Tapi takutnya kurang meyakinkan. Jadi saya bilang saja kalau ini wajar dan setiap anak pasti keluhannya beda kalau sedang tumbuh gigi.

Jujur, saya tersinggung dengan afirmasi orang itu. Kesannya jadi ada keraguan kalau bayi ASI gampang sakit. Padahal, dengan diberi ASI, bayi jadi punya kekebalan tubuh yang bagus. Apalagi kalau ditambah makanan bergizi seimbang. Dan saya yakin, imunitas Kiara akan selalu bagus karena dia kan dekat banget dengan ibunya. Jadi kalaupun sakit, pasti cepat sembuh.

Makan Banyak yang Tak Jadi Daging

Sebagai seorang anak, Kiara sering mengalami GTM. Ini bisa membuat saya panik. Pasalnya berat badan Kiara pernah anjlok, dan tubuhnya kurus sekali. Jadi saya harus berusaha menggemukkan badannya lagi. Walaupun, setelah satu jam, barulah Kiara menghabiskan makanannya.

Tapi saya selalu melakukan pembaharuan dalam hal memberi makan Kiara. Menunya ganti-ganti, piring dan sendoknya diganti dengan yang besar, diajak makan bareng atau sambil main, disuapi atau makan sendiri. Yang penting Kiara makan minimal tiga kali sehari. Kadang kalau sedang gembul, dia bisa makan sampai lima kali. Dengan syarat, saya harus merelakan piring saya direbut olehnya.

Anehnya, kenaikan BB Kiara tidak pernah drastis. Dalam sebulan paling naik dua ons. Mungkin itu karena Kiara terlalu lincah ya, jadi asupannya terbuang menjadi energi. Makanya dia kelihatan kurus. Tapi kalau digendong, berat juga lho.

Ya sudahlah, yang penting Kiara sehat selalu.

Si Cerewet

Seperti yang saya bilang, Kiara telat bisa jalan karena dia bisa bicara duluan. Sebelum menginjak satu tahun, dia sudah banyak ngoceh. Kata-kata pertamanya yang selalu saya ingat adalah, “tu apa?” Setelah itu… banyaklah pokoknya.

Lazimnya batita, Kiara suka membeo ucapan orang. Dan dia cepat mengerti ucapan saya. Misalnya saja ketika saya mengajarkannya untuk memarkir baby walker sebelum digendong. Setelah tiga kali, ketika Kiara minta digendong dan saya suruh dia untuk parkir dulu, dengan cepat Kiara menggiring baby walker-nya ke tempat parkir sambil bilang, “pakir, pakir.”

Cuma, semakin banyak kosa kata yang dia kuasai, semakin banyak pula kosa kata yang dia lupa. Kadang Kiara berbicara menggunakan bahasanya sendiri, yang saya pun tidak memahami. Jadi saya hanya bisa mengiyakan saja supaya dia merasa dimengerti.

Sebetulnya masih banyak yang ingin saya ceritakan. Namun sebagian pernah saya tulis. Jadi, saya cukupkan di sini saja kilas baliknya selama kurang lebih 1000 hari pertama ini.

Satu yang ingin sekali saya ceritakan, adalah tentang kegiatan menyusui Kiara plus momen menyapihnya. Untuk yang satu ini, saya akan menulisnya nanti kalau Kiara sudah berhenti menyusu. Entah kapan. Saya sendiri tidak berkeberatan menyusui Kiara sampai 2,5 tahun. Tapi jika dia bisa berhenti menyusu lebih cepat dari itu, mungkin itu lebih baik.

Kita lihat saja nanti.

One thought on “1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan (Bag. 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *