1000 Hari Pertama yang Penuh Kesan (Bag. 1)

Sebentar lagi Kiara ultah kedua. Banyak hal yang harus saya siapkan untuk beribu-ribu hari berikutnya (panjang umur ya, Nak!). Tapi saya tidak mau keburu-buru bertindak untuk hari esok. Menyambut ultah Kiara yang kurang dari tiga minggu lagi, saya malah ingin bernostalgia dengan 1000 hari yang sudah saya lalui bersamanya. Sejak Kiara masih di dalam perut sampai sudah bisa joget-joget seperti sekarang. Kalau saya hitung persisnya, mungkin 1000 hari lebih.

Bisa dibilang tulisan ini semacam rekap pengalaman saya ketika mengandung sampai membesarkan Kiara hingga dia mencapai usia dua tahun. Ada beberapa hal yang ingin saya bagikan. Bukan hanya sebagai kenangan, tapi juga cerita yang bisa bumil baca-baca untuk menyambut kehadiran si kecil. Dibaca para busui pun bisa. Cerita para ibu kan tidak jauh dari urusan anak.

Tes Kehamilan

Telat datang bulan belum tentu menandakan seorang perempuan sedang hamil. Tapi, entah karena memang pengin hamil, ketika telat menstruasi awal Maret 2012, saya langsung punya firasat kalau saya hamil. Penasaran, saya pun melakukan uji kehamilan menggunakan testpack. Hasilnya, saya hamil.

Sekalipun begitu, saya tetap periksa ke dsog. Bagaimanapun, hasil tes yang lebih akurat adalah tes di dokter lewat USG. Setelah diperiksa, hasil testpack ternyata tidak keliru. Saya memang hamil. Sudah lima minggu. Wow! Akhirnya usaha selama tiga bulanan supaya cepat hamil membuahkan hasil.

DSOG adalah Partner

Biasanya saya mencari informasi kehamilan melalui internet. Namun saya kerap mengonsultasikan masalah kehamilan yang saya alami dengan dsog. Untuk itu, saya butuh dsog yang komunikatif. Yang bisa menenangkan saat saya sedang gelisah karena khawatir janinnya kenapa-kenapa, yang bisa menceramahi saya tanpa ada kesan mendikte.

Tidak mudah untuk mendapatkan dokter seperti itu. Dokter pertama bagi saya kurang ramah sehingga saya mencari dokter lain. Untungnya dokter kedua enak diajak ngobrol. Hanya, karena tempat praktek dokter ini jauh dari rumah, saya pun ganti dokter lagi. Sama seperti dokter kedua, dokter ketiga ini juga ramah.

Dokter adalah teman baik bagi pasiennya. Jika seorang teman bisa membuat seseorang aman dan nyaman, dokter pun seharusnya begitu. Dia harus bisa mendampingi pasiennya menuju kesembuhan dan ketenangan hidup. Ini juga berlaku lho dalam memilih dsog.

Adaptasi

Siapa bilang hamil itu menyenangkan?

Seperti itulah pendapat sinis saya pada masa awal kehamilan. Saya tidak mengalami mual-mual sampai muntah. Kehamilan saya baik-baik saja. Mual dan pusing di pagi hari, nafsu makan sempat menurun, sering bad mood, lemas, heartburn, itu semua keluhan normal.

Tapi, yang namanya manusia, kadang tidak bisa menerima langsung dengan yang namanya perubahan. Perlu proses. Harus merasakan tidak enaknya dulu sebelum bisa tersenyum.

Nah, perubahan saat kehamilan tidak sebatas pada perubahan fisik, tetapi juga jiwa. Kadang saya menjalani kehamilan dengan berat. Soalnya tanggung jawab saya jadi bertambah.

Tapi kalau membayangkan sosok mungil bernama bayi ada di pangkuan saya kelak, mood saya bisa berubah jadi bagus. Dan saya kembali semangat menjalani hari-hari selaku calon ibu. Apalagi teman saya bilang, yang repot itu bukan saat mengandung atau melahirkan, tetapi ketika membesarkan anak. Jadi, keluhan seperti apapun yang dirasakan saat hamil, enjoy aja.

Butterfly in My Tummy

Saat usia kehamilan saya memasuki trimester kedua, banyak yang bertanya, bayinya udah gerak-gerak belum? Saya kerap menggeleng. Soalnya saya baru merasakan tendangan Kiara ketika usia kehamilan di atas 22 minggu. Termasuk telat ya? Tapi ketika kehamilan saya 20 minggu dan berkonsultasi ke dokter, dia bilang bukan masalah. Kan pengalaman hamil tiap orang beda-beda.

Saya pun tidak mau ambil pusing. Kalau dokter bilang tidak apa-apa, berarti memang tidak apa-apa. Dan pada saat yang tidak terduga, ketika sedang memasak buat sarapan, saya merasakan seperti ada yang mengepak-ngepak di dalam perut saya. Seperti ada kupu-kupu di dalam perut saya!

Saya yakin itu gerakan janin. Memang sudah waktunya dia bergerak-gerak. Lalu suami saya bilang, itu berarti saya tidak sendirian lagi. Ke mana-mana ada yang menemani dan saya harus menjaganya.

Ya, dengan adanya “butterfly in my tummy” ini, saya tidak kesepian lagi. Walaupun, suatu hari nanti, anak saya bakalan pergi jauh. Entah untuk sekolah, bekerja, atau menikah.

Jadi, menendang-nendanglah yang keras, Nak, karena hari-hari ini akan bunda rindukan.

Menabung selama Hamil

Sekadar informasi, kalau mau punya anak, harus punya banyak uang. Bukan apa-apa. Selama kehamilan saja pengeluaran bisa melampaui budget sehari-hari. Setiap bulan bumil harus kontrol ke dokter. Ke bidan juga boleh. Nah, selain untuk biaya pemeriksaan, kita juga perlu uang untuk beli vitamin (kalau ke puskesmas mungkin gratis ya?) supaya bumil tetap bugar dan bayinya tetap sehat.

Selain itu, bumil harus mendapatkan asupan gizi yang baik, tidak cuma banyak. Makan nasi pakai mi instan memang enak dan mengenyangkan. Tapi masa bayinya dikasih mi instan terus? Dan tidak mungkin juga tiap hari lauknya cuma ayam goreng. Makanan yang bervariasi akan memberikan asupan nutrisi yang banyak.

Belum lagi saat membeli perlengkapan bayi dan menyusui. Syukur-syukur kalau dapat lungsuran dari saudara atau teman. Kalau semua harus dibeli sendiri? Lalu, biaya melahirkan, perawatan bayi, masa depan anak, dll.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Saran saya, saat akan merencanakan kehamilan, barengi juga dengan cari duit yang banyak. Demi masa depan anak kita juga.

Olahraga buat Bumil

Pada dasarnya, saya ini males olahraga. Saya suka senam aerobik. Tapi mencari tempat buat olahraga ini tidak mudah juga.

Namun, demi si jabang bayi, selama hamil saya bela-belain olahraga. Pilih yang gampang saja: senam hamil di rumah. Ditambah beberapa gerakan yoga dan pilates.

Selain itu, saya juga jalan kaki. Sambil jalan-jalan sore ditemani suami, atau sendirian saja di halaman rumah setelah salat subuh. Minimal, kita tidak diam aja selama hamil. Masak, nyuci, beres-beres rumah apalagi ngepel, jalani saja selama kehamilannya tidak bermasalah. Biar anaknya juga aktif.

Tentang 9 Bulan 10 Hari

Ini sempat bikin saya bingung. 9 bulan 10 hari itu berarti 9 dikali 4 minggu, ditambah seminggu lebih 3 hari. Hasilnya adalah 37 minggu lebih 3 hari. Tapi ketika saya bertanya pada dokter mengenai hari perkiraan lahir (HPL), jawabannya malah 40 minggu. Ke mana yang tiga minggunya lagi?

Usut punya usut, ternyata 9 bulan 10 hari itu tidak berarti 9 harus dikali 4 minggu. Plus, dalam mengukur usia kehamilan, satuan yang digunakan bukanlah bulan, melainkan minggu.

Pusing? Bingung? Oke, saya kasih kalkulasinya.

9 bulan x 30 hari (rata-rata jumlah hari dalam sebulan) = 270 hari
270 hari + 10 hari = 280 hari

Karena dalam satu minggu ada tujuh hari, maka:
280 hari : 7 hari = 40 minggu

Jadi 10 bulan dong?

Kalau teman-teman masih belum mengerti, saya berikan penjelasan lain:
280 hari : 30 hari = 9.333 bulan, atau sekitar 9 bulan 10 hari.

Tampak rumit karena kita terbiasa dengan konsep 9 bulan 10 hari, yang 9 bulannya dikalikan 4 minggu. Mungkin para praktisi medis, terutama dsog dan bidan, harus mensosialisasikan hal ini kepada pasiennya ya, supaya tidak terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman.

Lalu, bagaimana cara menghitung HPL?

Pertama-tama, catat tanggal berapa hari pertama haid terakhir (HPHT). Setelah itu, aplikasikan rumus berikut:

HPHT + 7 hari = tanggal kelahiran
Bulan HPHT + 9 = bulan kelahiran

Misalnya HPHT teman-teman 18 Juni 2014. Itung-itungannya:
18 + 7 = 25
6 (Juni) + 9 (bulan) = Maret

Jadi, teman-teman bakal melahirkan tanggal 25 Maret 2015.

Yang wajib diingat, bayi kan tidak bisa melihat kalender. Dia bisa lahir kapan saja. Jadi, HPL di atas sebatas acuan untuk mempersiapkan persalinan saja. Bayi teman-teman mungkin lahir sebelum atau sesudah tanggal perkiraan di atas.

Hari-hari yang Mendebarkan

Ketika usia kehamilan saya menapaki minggu ke 37, dokter bilang bayinya sudah siap lahir. Tapi kalaupun belum, masih ada waktu tiga minggu lagi. Jadi saya masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan persalinan.

Sejauh ini, perlengkapan bayi bisa dikatakan sudah lengkap. Lalu, biaya persalinan, semoga cukup. Saya dan suami bekerja keras supaya tabungan kami terisi. Dan kami sengaja memilih jasa penolong bidan. Namun sebelumnya kami minta acc dokter dulu. Bayinya sehat-sehat saja, posisinya juga bagus (tidak sungsang lagi seperti ketika usia kehamilan 29 minggu). Jadi, bisa pakai jasa bidan. Lalu baju-baju yang harus dibawa ke RS juga sudah siap di tas. Tinggal jinjing.

Tinggal fisiknya. Saya deg-degan terus membayangkan saat persalinan. Kalau tidak ada aral, saya ingin persalinan normal saja. Jalan kaki pagi-pagi setiap hari saya lakukan supaya proses persalinan berjalan lacar. Ditambah senam hamil dan jalan sore kalau tidak capek dan ada waktu luang. Plus ngepel kamar tiap hari.

Saya membayangkan, bagaimana kalau saya tiba-tiba mulas saat suami ngantor, pembantu tidak masuk, mertua juga ada urusan. Siapa yang mengantar? Tapi mama mertua saya juga tidak berani pergi jauh karena takut saya harus ke RS pada saat yang tidak terduga (orang melahirkan biasanya begitu).

Kalau bisa memilih, saya ingin melahirkan malam hari saja. Paling tidak, saya kerasa mulesnya setelah suami pulang kerja. Dan semoga persalinannya berjalan lancar, bayinya sehat, saya selamat…

Ah, hari-hari yang mendebarkan…

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *